
Rina masih tak percaya dengan apa yang didengar telinganya. Apakah ini hanya kebohonyan belaka? tapi, saat ini bukanlah April Mop, untuk apa mereka semua mengerjainya. Lagipula, tak mungkin Dirga yang notabene seorang atasan yang berwibawa mau bersusah payah mengerjai staff biasa sepertinya. Ia memang kerap mendengar gosip miring antara Dhatu dan juga Dirga. Semenjak kedatangan lelaki itu ke perusahaan, hanya Dhatu lah yang rutin dipanggil ke ruanganya saat jam makan siang dan terkadang pagi-pagi sekali. Kabar tentang sikap tak senonoh keduanya di jam kerja pun sudah tersebar ke seluruh perusahaan. Rina tentu saja tak percaya, ia tahu benar bagaimana Dhatu. Wanita itu tak mungkin bersikap tak senonoh di tempat kerja. Mengobrol lama saat jam kerja saja, ia tak mau.
"Maaf, tapi, sejak kapan? Kenapa kamu nggak mengundang orang kantor? Apa terjadi sebelum Pak Dirga menjadi CEO kita?" Rina menoleh pada Dhatu. Ia sungguh tak bisa menebak, sejak kapan semua kegilaan ini terjadi.
Tak pernah sekalipun Rina melihat Dhatu dijemput ataupun jalan dengan seorang lelaki, selain Krisna. Ia malah berpikir, jika keduanya akan segera cinta lokasi, namun siapa sangka, Krisna dan Dhatu tak memiliki hubungan apa pun hingga saat ini. Malah hal yang tak pernah ia duga lah yang terjadi. Bagaimana bisa? Jika semua terjadi saat lelaki itu masuk ke perusahaan mereka, mengapa ia tak menyadarinya? Keduanya terlihat profesional ketika bersama, menjaga jarak seperti atasan dan staff pada umumnya ketika bersisian.
Dirga tersenyum melihat kebingungan Dhatu menjawab dan juga Rina yang masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kami sudah menikah sebelum saya masuk ke perusahaan. Tentunya, banyak perkataan buruk yang menyebar ke penjuru perusahaan. Oleh karna itu, sebelum Dhatu keluar, saya mau mengadakan makan siang bersama di aula lantai atas untuk memperkenalkan Dhatu secara resmi sebagai istri saya dan mengenyahkan banyaknya gosip miring yang semakin nggak terkontrol."
Dhatu terdiam menatap suaminya yang begitu mementingkan harga dirinya dan selalu berusaha untuk menjaga martabatnya, membuatnya tak dihina dengan pemikiran negatif banyak orang. Kedua sudut Dhatu tertarik, senyum terukir di wajahnya. Ia sangat beruntung.
Krisna yang melihat pemandangan di hadapannya hanya bisa tersenyum lirih. Kini ia mengerti mengapa wanita itu jatuh cinta pada Dirga. Bukan karna wajah yang rupawan dan juga harta berlimpah seperti pemikirannya, namun terjadi karna cinta lelaki itu yang begitu besar pada Dhatu. Cintanya terlihat kerdil dan tak sebanding dengan cinta yang Dirga berikan pada Dhatu.
Rina menatap kagum Dirga yang terlihat begitu mencintai sahabatnya. Tak menyangka, bila lelaki yang pelit senyum dan berbicara seadanya mampu terlihat bagai orang yang berbeda hanya karna seorang wanita. Dhatu memang beruntung.
Rina menatap sahabatnya dan menggenggam tangan Dhatu yang ada di meja. "Kamu beruntung, Tu."
__ADS_1
Dhatu tersenyum. "Suatu saat nanti, kamu juga akan menemukan seseorang yang akan mencintaimu dengan tulus."
"Sampai sekarang, aku masih sulit mempercayainya," ucap Rina sembari menatap Dirga dan Dhatu secara bergantian, lalu ia menoleh pada Krisna yang tampak biasa saja setelah mendengarkan kabar mengejutkan itu. Tak seperti dirinya yang benar-benar tak mampu menyebunyikan ekspresi kagetnya.
"Apa Mas Krisna udah tahu tentang ini?"
Pertanyaan Rina membawa Krisna kembali ke alam nyata. Sedari tadi, ia larut dalam pemikirannya sendiri ketika memperhatikan kedua insan yang dimabuk cinta itu. Mengucapkan kata melepaskan jauh lebih mudah dari pada melakukannya. Ada rasa tak rela yang masih bersemayam di hatinya, sulit ikhlas walau sudah dicoba berkali-kali. Mungkin memang begitulah manusia yang kerap tak berpuas diri dengan apa yang mereka miliki.
"Aku udah tahu tentang semuanya," ucap Krisna tersenyum tipis, sedang Rina mengerucutkan bibirnya. Hanya dirinya yang tak mengetahui apa-apa di sana. Sungguh yak adil.
Ia memang tak peduli dengan perkataan banyak orang tentangnya, akan tetapi mendengar perkataan buruk setiap harinya, akan meracuni hati seseorang, bukan? Perlahan, akan ada kebencian yang hadir karna semua hujatan itu. Tak bisa dicegah karna memang manusia bukanlah makhluk sempurna.
Rina mengangguk mengerti dan tersenyum pada Dhatu. "Kamu nggak salah, Tu. Aku hanya terkejut aja." Rina teringat sesuatu dan segera memeluk erat tubuh Dhatu, "sangking kagetnya. Aku sampe lupa ngucapin selamat atas pernikahan dan kehamilanmu. Selamat ya, Tu."
Dhatu tersenyum, membalas pelukan sahabatnya dan mengucapkan kata terimakasih. Beruntung, wanita itu bisa menerima kenyataan yang terlalu mengejutkan itu. Beruntung, karna masih ada orang-orang baik di sekitarnya.
__ADS_1
Rina melepaskan pelukan dan menoleh pada Dirga. "Jadi, Pak Dirga akan mengadakan acara syukuran besok untuk semua orang di kantor?"
Dirga mengangguk. "Ya, hanya makan-makan aja. Agar semua orang tahu siapa Dhatu dan nggak lagi membicarakan hal buruk tentangnya." lelaki itu menoleh pada Dhatu, "kamu setuju kan, Sayang?"
Dhatu mengangguk. "Tentu aja. Ini akan jadi acara perpisahan bagiku. Makasih banyak atas semuanya, Mas."
Lelaki itu tersenyum karna keputusannya yang benar, ia kembali menoleh pada Rina dan memasang wajah serius. "Sebenarnya, ada hal lain yang ingin saya minta tolong padamu dan juga Krisna."
Kedua orang yang disebut itu mengalihkan pandangan mereka pada Dirga. "Minta tolong apa, Pak?" tanya Rina penasaran.
"Menguatkan, Dhatu," lelaki itu menoleh pada Dhatu, "pasti akan banyak orang yang merasa nggak terima, dan mungkin sebagian lagi akan merasa gosip yang beredar adalah benar. Oleh karna itu, saya minta tolong menguatkak Dhatu agar dia kuat mendengar banyaknya tanggapan tentang fakta yang aka diungkap."
Krisna dan Rina tersenyum bersamaan. "Pasti akan kami lakukan tanpa Bapak minta," ucap Krisna menoleh pada Dhatu, "walau bagaimanapun, Dhatu sangat berharga bagi saya. Bukan hanya Bapak yang peduli padanya. Nyatanya, dia ingin saya perlakukan bak permata berharga yang diperlakukan dengan hati-hati. Dhatu adalah segalanya bagi saya," lanjut Krisna tersenyum.
Keadaan mendadak canggung bagi Rina. Ia dapat mencium sesuatu yang tak biasa dalam hubungan ketiganya. Ia dapat menebak, jika rasa yang dimiliki Krisna pada Dhatu lebih dari sekadar persahabatan. Kata orang, sepasang manusia berbeda jenis kelamin tak kan mungkin bisa menjadi sehabat sejati dan kini Rina membenarkan kata itu. Mungkin tak semua sepasang lelaki dan wanita tak bisa menjadi sahabat, akan tetapi kebanyakan dari mereka tak mampu mencegah cinta yang menyelinap masuk dan memporak-porandakan isi hati. Membuat banyak orang terbuai oleh rasa, hingga melupakan jika rasa yang ada bisa merusak apa yang telah mereka bangun dengan susah payah. Hati memang terlalu lemah.
__ADS_1
Ya, pasti ada rasa tak biasa dalam hati Mas Krisna-- pikir Rina kala menemukan tatapan mata teduh yang Krisna berikan untuk Dhatu seorang.