
Drew senyam-senyum ke arah Dirga yang menatapnya heran. Begitu masuk ke ruangan, lelaki itu langsung duduk tanpa disuruh, menatapnya penuh arti sembari tersenyum yang membuat rasa jengkel Dirga tersulut.
"Kamu nggak waras?" Dirga mulai kesal. Ia melipat tangan di meja dan menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan meneliti.
"Aku bertemu Nona Kana, tadi."
Dirga mulai tertarik dengan perkataan Drew barusan. "Lalu? Dia mengajakmu bicara? Menanyakan sesuatu?" Dirga menyerang Drew dengan banyak pertanyaan.
Drew tertawa sembari menggerak-gerakkan tangannya di udara. "Tenang sedikit, Tuan muda. Dia menanyakan bagaimana rupa Bu Dhatu."
"Lalu, kamu memberitahunya?"
Drew menggeleng cepat. "Aku nggak sebodoh itu, Pak. Sejak awal, aku sudah memperingatkanmu, kalau dia bukanlah wanita baik, namun cinta seakan menutup matamu, Pak. Aku nggak memberitahu apa pun tentang Bu Dhatu dan segera meninggalkannya."
Dirga menghela napas lega. Ia tak mau Kana sampai berbuat nekad pada Dhatunya. Ia tahu apa yang wanita itu bisa lakukan. Pernah sekali Kana mengadu pada Dirga, seseorang membicarakan artikelnya, yang kata mereka tidak menarik, Kana tidak dapat menerima kritikan, hingga ia melabrak wanita yang mengatainya itu. Dirga sudah menasehati, jika kritik itu perlu dalam membangun diri, tetapi wanita itu malah semakin marah dan berjalan meninggalkannya. Oleh karna itu, Dirga tak mau membiarkan Kana mengetahui tentang Dhatu. Ia ingin menjaga istrinya dari sikap pemarah Kana.
"Bagus, Drew. Kamu memang bisa diandalkan."
Drew tersenyum bangga mendengarkan pujian yang sangat jarang keluar dari mulut Dirga. Sudah bertahun-tahun Drew bekerja bersama Dirga dan banyak mengurusi kehidupan pribadi pria itu, hingga ia tahu benar, jika lelaki itu tak suka memuji orang. Ia pun bisa menghitung berapa kali lelaki itu memujinya.
"Jadi ... kenapa Bapak memintaku cepat-cepat datang ke sini? Ada yang harus segera kulakukan?"
"Bonekaku."
__ADS_1
"Hah?" Drew mengerutkan kening, menatap Dirga penuh tanya.
"Kenapa kamu membawa mobil yang kemarin kita pakai untuk membeli boneka di mall kemarin? Bonekaku ketinggalan di mobil itu. Karnamu, aku gagal memberi kejutan pada Dhatu."
Drew baru mengerti arah pembicaraan atasannya itu. Ia menepuk kening. "Pak Dirga yang memintaku segera pergi ke Bogor. Aku pikir, Bapak mau menggunakan mobil yang biasa Bapak gunakan bersama dengan Bu Dhatu. Pantas saja, aku merasa ada yang aneh di jok belakang mobil."
Dirga berdecak sebal. "Bagaimana kamu bisa nggak sadar dengan boneka sebesar itu? Pindahkan ke mobilku sekarang juga!" ucap Dirga, "kunci mobil ada di satpam seperti biasa," lanjutnya.
Drew mengangguk mengerti, ia hendak pergi, namun menghentikan langkah dan membalik tubuh. "Aku lupa memberitahu Pak Dirga. Nona Kana telah menjual apartemen yang Bapak berikan padanya."
Dirga mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih. Ia baru mengerti, mengapa tiba-tiba Kana hadir kembali. Wanita itu telah kehabisan uang, hingga memerlukannya untuk kembali menjadi dompet berjalannya. Hingga saat ini, Dirga tak begitu mengerti pekerjaan Kana. Yang ia tahu, wanita itu penulis freelance, mereka kerap bertemu di banyak acara sosial. Pandangannya yang luas dan juga hati baik lah yang membuat Dirga mulai tertarik, namun siapa sangka, wanita itu hanya menggunakannya.
Kedatangan Kana hari ini, seakan membuatnya merasa bertemu Kana yang ditemuinya di acara sosial dulu. Lugu dan juga lemah, hingga Dirga tak mengerti sisi manakah diri Kana yang sebenarnya.
"Anda nggak berpikir untuk kembali padanya, 'kan?" Drew menatap meneliti.
Dirga tertawa. "Aku nggak sebodoh itu."
Drew bernapas lega dan segera berpamitan dari hadapan lelaki itu. Sepeninggalan Drew, benak Dirga kembali dihantui oleh sosok Kana. Kana yang cantik dan juga memiliki senyum manis, Kana yang terlihat lemah dan juga lugu, Kana yang dulu sempat hadir dalam hidupnya. Jika benar apa yang Kana katakan tadi, berarti memang dirinya yang bersalah karna meminta wanita itu menunggu. Dirinya yang menyakiti wanita itu dan entah mengapa kini Dirga mulai mengiba.
***
Dirga meminta Dhatu menemuinya di parkiran belakang, tempat khusus di mana mobil lelaki itu terparkir. Dhatu sengaja menunggu jarum pendek jam menunjuk ke angka enam dan segera pergi ke tempat yang mereka sepakati. Kantor yang mulai sepi membuatnya lega. Sedari tadi ia memilih menunggu di warkop depan kantor agar tak ada yang curiga. Dalam bayangannya mempunyai suami kaya dan tampan adalah hal yang menyenangkan, namun kini ia tahu, jika tak semudah itu untuk bersama seseorang yang status sosialnya jauh di atasnya. Walau keluarga keduanya tak masalah, namun orang lain pasti akan mencibir dan mengatakan jika dirinya hanya menginginkan harta Dirga.
__ADS_1
Dhatu menghentikan langkah begitu melihat boneka beruang berwarna pink yang menyembunyikan tubuh Dirga. Senyumnya mengembang saat lelaki itu menyembulkan kepalanya dari balik boneka itu. Dhatu segera berlari, membuat Dirga senang bukan main. Lelaki itu segera menyandarkan boneka tadi ke mobilnya, memejamkan mata, lalu merentangkan tangannya lebar-lebar, bersiap menerima Dhatu di dalam dekapannya.
Dirga membuka mata begitu tak merasakan Dhatu di dalam dekapannya. Ia mengerucutkan bibir saat melihat Dhatu lebih memilih memeluk boneka itu dibandingkan dirinya. Ia mendesah pelan. Ternyata salah milih hadiah.
"Ini untukku?" tanya Dhatu girang.
Melihat senyum bahagia Dhatu membuat rasa kesalnya menguap ke udara. Dirga tersenyum dan mengangguk. "Sebelum kamu memiliki boneka itu, harus ada perjanjian di antara kita."
Dhatu mengernyitkan keningnya. "Mau nerima hadiah aja kenapa bisa serumit ini?"
Dirga menarik boneka itu dari pelukan Dhatu dan menggendikkan bahu tak acuh. "Terserahmu aja."
Dhatu memajukan bibir seraya merampas kembali boneka itu dari tangan Dirga. "Kamu memang nyebelin. Sebutin apa perjanjiannya."
Dirga tersenyum lebar, sehingga menampakkan susunan gigi putihnya. "Satu, aku yang utama bukan boneka. Kedua, dia nggak boleh ada di kasur kita karna cuma aku yang boleh kamu peluk saat tidur. Ketiga, kamu harus memelukku dulu baru memeluk boneka itu. Nggak boleh lebih sayang ke boneka."
Dhatu melongo tak percaya, sedetik kemudian tawanya pecah. Ya Tuhan ... ia tak menyangka Dirga bisa begitu cemburu, walau pada sebuah boneka. Tawa Dhatu membuat Dirga menunjukkan wajah masamnya. Dhatu menyandarkan boneka tadi ke mobil dan segera memeluk erat tubuh suaminya. Senyum Dirga mengembang dan ia membalas pelukan wanita itu tak kalah eratnya.
"Ini udah kupeluk, jadi jangan cemburu lagi sama boneka ya, Mas." Dhatu tersenyum di dalam dekapan lelaki itu.
Dirga melepaskan pelukan mereka dan menatap Dhatu kesal. "Gimana nggak cemburu kalau kamu lebih seneng lihat boneka daripada aku. Lebih milih meluk boneka itu duluan daripada aku. Aku mau kamu hanya untukku seorang," ucap Dirga seraya membawa Dhatu kembali ke dalam dekapannya.
Dhatu tersenyum, deguban jantung lelaki itu bagai simfoni yang menghayutkan. Ia bahagia bukan main dan berharap kebahagiaan mereka bisa bertahan untuk selamanya. Ada Dirga yang kekanakan saat bersamanya, Si pencemburu yang menggemaskan, dan juga tawa bahagia yang mereka bagikan. Ia mau selamanya ada lelaki itu di sisinya.
__ADS_1