Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kau Begitu Menarik


__ADS_3

Jantung Dirga berpacu liar dan tatapan mata wanita itu secara tak sadar membuatnya menahan napas selama beberapa detik. Ia segera membantu Dhatu kembali berdiri dan melepaskan lingkaran tangannya pada pinggang wanita itu, sengaja ia memberi jarak di antara mereka, tak ingin Dhatu mendengarkan irama jantungnya yang begitu kencang. Keduanya tampak salah tingkah, Dhatu yang menunduk sembari menyelinapkan anak rambut di balik telinga, sedang Dirga yang menatap ke arah lain, bagai remaja yang malu-malu.


"Anu ... ini kamar kita, Tu," ucap Dirga mencairkan kecanggungan di antara mereka, ia menunjuk pintu di sebelah kanannya. Dhatu tersenyum kikuk, lalu mengangguk.


Dirga membuka pintu kamar menggunakan key card yang dikeluarkannya dari saku celana, lalu mempersilahkan Dhatu masuk terlebih dahulu, sementara dirinya mengekor dari belakang.


"Kamu mau mandi atau makan dulu, Tu? Kita makan di kamar aja kalau kamu capek."


"Aku mau mandi dulu, Mas. Boleh makan di kamar. Aku yakin, kalau Mas juga ngantuk."


Dirga terkesiap. "Nggak juga."


"Tadi malam, aku terlalu gelisah dan aku yakin perbuatanku mengganggu tidurmu. Maaf, Mas."


Entah mengapa perkataan Dhatu membuat hatinya menghangat, panggilan Mas dan tatapan resahnya begitu menggemaskan. Tak pernah sekalipun Dirga merasa seperti itu ketika bersama Kana. Ia hanya mengagumi kecantikan Kana dan juga sikap manja wanita itu, membuatnya merasa ingin melindungi wanita itu, namun tidak saat bersama Dhatu. Ada perasaan asing yang diam-diam masuk dan menjalar ke penjuru hati.


"Bukan sepenuhnya salahmu, Tu. Aku ngerti, kalau beberapa hari ini kamu pasti nggak nyaman. Apa perlu aku memesan kamar lain, agar kamu bisa tidur tenang?"


"Nggak usah," ucap Dhatu cepat sembari menggelengkan kepala. Dirga terpaku sesaat, tak menyangka jika Dhatu tak mau berpisah darinya.


"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Mas. Aku hanya nggak mau nantinya Mama mengetahui kita yang tidur di kamar terpisah. Kalau memang benar Abra adalah mata-mata, Mama pasti bisa tahu," Dhatu berusaha menjelaskan.


Sedetik, dua detik, dan pada detik ketiga tawa Dirga pecah. Ia mengusap kepalanya dan menggeleng-geleng, merasa bodoh karna sempat berpikir jika Dhatu tak ingin berpisah darinya. Ia sempat lupa jika tak ada perasaan apa pun di antara mereka yang akan membiarkan Dhatu tak mau lepas. Bodoh memang.

__ADS_1


"Ya udah, kamu mandi aja dulu. Mau makan apa? Biar ku pesankan selagi menunggu kamu selesai mandi."


"Apa aja, Mas. Aku pemakan segala jenis makanan yang bisa dimakan."


Lagi-lagi Dhatu mampu membuat senyumnya mengembang. Perkataan singkat, sikap sederhana, dan tatapan mata lembut itu membuatnya seakan terbuai. Dirga mengangguk, lalu Dhatu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Cepat-cepat Dhatu menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Dhatu meraba dada, merasakan debaran tak biasa yang membuatnya ketakutan. Lama Dhatu diam dan sibuk menata hati, lalu memutuskan untuk membersihkan diri. Mungkin saja, kepalanya bisa sedikit dingin dan mampu berpikir jernih setelah mandi.


Beberapa menit kemudian Dhatu telah menyelesaikan kegiatan membersihkan dirinya, lalu menyembulka kepala dari balik pintu dan mengintip keluar. Terburu-buru membuatnya lupa membawa baju ganti. Ia mengigit bibir bawah saat pandangan matanya bertemu dengan Dirga yang sudah duduk pada kursi samping jendela hotel.


"Kenapa kamu ngintip gitu, Tu?"


Dhatu tersenyum kikuk. "Anu ... itu ..." Dhatu malu untuk mejelaskannya. Bagaimana ia bisa meminta bantuan Dirga untuk mengambilkan pakaiannya. Lelaki itu akan melihat pakaian dalamnya, jika ia nekat minta tolong.


"Kamu lupa bawa baju ganti?" tebak Dirga.


"Kuambilkan baju, ya." Dirga menoleh ke ara Dhatu sesaat, meminta ijin untuk membuka koper wanita itu.


"Maaf dan makasih ya, Mas."


Dirga mengangguk, "Nggak usah canggung gitu. Ini hal kecil," ucap Dirga sembari membuka koper Dhatu, "mau pakai baju apa?"


"Yang mana aja, Mas. Celana pendek dan kaos yang mana aja. Makasih sekali lagi, Mas."

__ADS_1


Dirga terkekeh pelan. "Nggak usah terlalu banyak bilang kata makasih."


Dhatu tersenyum kikuk, ia mengigit bibir bawahnya. Merasa malu dan juga lega karna tak harus keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Walau Dirga adalah suaminya yang sah, namun hubungan keduanya hanya sebatas kepalsuan, hingga dirinya tak mau membiarkan Dirga melihat dirinya dalam keadaan tak pantas.


"Mama udah masukan lingerie di tasmu karna mama lihat, nggak ada satupun pakaianmu yang siap untuk acara liburan ini. Pergunakan dengan baik dan nikmati bulan madu kalian."


Secara tiba-tiba perkataan Lestari saat mengantar mereka ke Bandar Udara terlintas di benaknya. Cepat-cepat Dhatu keluar kamar mandi dan menarik tangan Dirga yang hendak membongkar isi tasnya, sikap wanita itu membuat Dirga terperanjat. Napas Dhatu terengah-engah, cemas memenuhi setiap relung hatinya. Keduanya saling berpandangan.


Sedetik kemudian handuk yang Dhatu kenakan terlepas dan jatuh ke lantai. Reflek mata Dirga menatap tubuhnya yang kini polos. Mengamati tubuh Dhatu yang memiliki lekungan, ukuran yang pas, dan kulit putih mulus yang kerap ia sembunyikan di balik pakaiannya. Secara tak sadar, Dirga menelan ludah dengan susah payah menatap pemandangan di hadaannya. Ia hanyalah lelaki normal yang tentu saja menyukai pemandangan yang tersaji di hadapannya.


Dhatu meringis dan segera melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Dirga, lalu segera memperbaiki handuknya. Wajahnya panas dan ia yakin jika kedua pipinya merah padam saat ini. Di sisi lain, Dirga masih mematung menatapnya, tak bisa bergerak maupun mengarahkan pandangan ke arah lain. Dhatu menundukkan kepala dan tampak resah, meyadarkan keterkejutan Dirga. Ia segera mengarahkan pandangan kembali pada koper Dhatu.


"Anu ... maaf, Tu. Aku nggak sengaja lihat."


Ya Tuhan ... ingin rasanya Dhatu menggali lubang yang dalam, lalu mengubur dirinya sendiri di sana. Bagaimana ia bisa begitu ceroboh? Harusnya, ia berpikir sebelum meminta tolong, mengetatkan handuk sebelum lari terburu-buru. Sungguh, dirinya ingin menghilang saja.


"Iya, Mas. Nggak pa-pa."


Jantung Dhatu sudah hampir mau copot. Apanya yang nggak pa-pa?


Kecanggungan menjebak keduanya. Mereka sama-sama diam tak berdaya. Sedetik kemudian Dirga mengambil asal pakaian dari koper Dhatu, berharap wanita itu cepat-cepat berpakaian dan tak lagi menyiksanya dengan bayangan tubuh indah wanita itu dan wajah polosnya yang menggemaskan. Dirga bisa-bisa kehilangan kendali karna wanita itu.


"Ini bajumu, Tu," ucap Dirga mengulurkan baju pada Dhatu, namun memalingkan wajah ke arah lain. Tak sanggup melihat Dhatu yang masih dalam balutan handuk.

__ADS_1


Perkataan lelaki itu memecah kecanggungan yang sempat tercipta. Dhatu mengambil pakaian yang Dirga ulurkan, mengembangkan pakaian itu di hadapannya dan kembali terkejut saat melihat gaun tipis hitam bertali satu yang terlihat begitu seksi. Dirga kembali mengarahkan pandangan karna tak menerima respon apa pun dari Dhatu. Lagi-lagi dirinya harus menelan ludah susah payah begitu matanya melihat lingerie tipis yang sangat menggoda. Otaknya mulai berpikir liar, membayangkan tubuh Dhatu dalam balutan itu.


"Ya, Tuhan ... Mama ...." teriaknya frustrasi.


__ADS_2