
Dhatu dan Dirga tengah menyantap sarapan ketika Drew datang dan berjalan ke arah keduanya. Dhatu segera meminta lelaki itu untuk duduk bergabung, Dirga pun harus memaksa lelaki itu agar mau bergabung bersama mereka.
"Kayak sama siapa aja sih, Drew! Makan dulu, baru kita bicara masalah lain," ucap Dirga begitu Drew sudah ikut bergabung bersama mereka di meja makan.
"Sebenarnya, aku hanya mau membicarakan tentang ... anu ..." Drew melirik ke arah Dhatu, takut-takut wanita itu akan salah paham ataupun merasa sakit hati karna apa yang ingin ia sampaikan.
Dirga tersenyum melihat gelagat Drew. Ia tahu apa yang kelaki itu cemaskan. Tak ingin membuat Dhatu menjadi sedih. "Bicarakan aja. Dhatu udah tahu semuanya dan aku nggak bermaksud menyembunyikan apa opn darinya. Ceritakan apa yang kamu temui tentang Kana. Udah dapat kontak dan juga alamat barunya?"
Dhatu tersenyum manis, mulai paham apa yang hendak dibicarakan oleh karib suaminya itu. "Aku baik-baik aja. Jawab aja pertanyaan Mas Dirga," ucap Dhatu sembari tersenyum menenangkan.
Usia Drew yang lebih muda dua tahun dari Dhatu, membuat wanita itu tak menambahkan embel-embel 'Mas' saat memanggilnya. Drew lelaki yang baik, begitulah kesan pertama pertemuan mereka. Saat Dirga mengabaikannya, Drew mengantarkannya ke sana-ke mari demi mengurus surat-surat yang diperlukan untuk pernikahan mereka dulu. Mungkin karna itu pula, Drew merasa segan untuk mengatakan hal yang akan menyakiti hatinya.
Drew berdehem. "Kana tinggal di rumah susun daerah Kemayoran. Tampaknya, memang kehidupannya sudah sangat susah. Aku sudah mendapatkan nomer ponselnya," ucap Drew sembari mengulurkan secarik kertas pada Dirga, "aku sudah mengatur janji untuk bertemu dengannya siang ini, tapi belum memberikan tahunya tempat pertemuan nanti. Pak Dirga, mau aku memintanya ke kantor aja?"
Dirga segera menggeleng tak setuju."Nggak seharusnya masalah pribadi, diselesaikan di kantor. Nggak etis."
Drew mengangguk mengerti. "Ada restoran dekat kantor, jika Bapak mau atau, mau bertemu di rumah Bu Kana?"
Dirga mengalihkan pandangan pada Dhatu. "Kamu jadi ambil libur hari ini kan, Tu?"
__ADS_1
Dhatu mengangguk. Dirga tak ingin bicara berdua saja dengan Kana, dirinya tak ingin terjadi kesalahpahaman bila tak ada Dhatu. Yang paling bahaya dari bagian tubuh seseorang adalah lidah yang tak bertulang, hingga kerap mengatakan banya kebohongan ataupun kata-kata yang menyakitkan. Dirga tak ingin ada rahasia di antara mereka. Secinta itu dirinya pada Dhatu, hingga membayangkan kehilangan wanita itu saja mampu membuat dadanya terasa sesak bukan main.
Dhatu mengangguk. "Aku udah izin sakit sama Mbak Mira, Mas. Lagian, udah kubilang kalau aku percaya penuh padamu, Mas. Kamu bisa bertemu berdua aja dengannya."
Dirga menggeleng cepat. "Nggak mau." Dirga menggenggam tangan Dhatu yang berada di meja sembari menatap dalam manik mata wanita itu, "Kamu nggak masalah, tapi bagiku itu masalah besar," lanjutnya lirih.
Ada ketakutan yang begitu besar yang dapat Dhatu lihat pada netra Dirga. Ia menangkup wajah lelaki itu denga kedua tangannya dan mengecup bibir lelaki itu sekilas, lalu tersenyum menenangkan.
"Semua akan baik-baik aja, Mas."
Keduanya bertukar senyum, sedetik kemudian deheman keras terdengar, menyadarkan keduanya jika ada sosok yang hampir saja mereka lupakan keberadaannya. Seketika Dhatu merasakan panas di kedua sisi wajahnya, ia menunduk malu. Entah apa yang salah dengan otaknya, hingga dirinya bisa melupan kehadiran Drew di antara mereka. Mungkin benar apa yang selama ini orang katakan, jatuh cinta membuat kita merasa jika dunia adalah milik berdua, yang lain hanya ngontrak atau kebetulan lewat.
"Ternyata begini rasanya jadi nyamuk," ucap Drew memasang wajah sedih.
"Berikan aku libur satu bulan dan akan kubawa pacar baruku untuk dikenalkan pada Pak Dirga dan Bu Dhatu," ucap lelaki itu penuh keyakinan.
"Boleh ..." Dirga tersenyum dan mengangguk-angguk.
Seketika wajah Drew berubah gembira, binar kebahagiaan melukis wajah lelaki muda itu. "Kayaknya, memang inilah kehebatan menikah, bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. Terima kasih banyak, Pak."
__ADS_1
"Boleh ... tapi tanpa digaji," ucap Dirga dingin.
Kebahagiaan yang tadi sempat singgah di wajah Drew, sirna dalam seketika. Tawa Dhatu dan Dirga pecah, tak lama tawa itu juga menular pada Drew. Beginilah hidup, walau ada masalah, kau akan menemukan alasan lain untuk ditertawakan, membuatmu mengerti jika yang kau butuhkan di dunia ini adalah orang-orang yang menyayangimu.
Setelah sarapan pagi, Dirga meminta Drew menghubungi Kana dan mengatakan mereka bertiga akan datang menemui wanita itu. Drew juga meminta sekretarisnya menunda semua jadwalnya hari ini. Dirga ingin menyelesaikan masalah yang ada dengan cepat, ia tak ingin lagi menunda-nunda. Jika memang yang dikatakan Kana adalah kebenaran, maka ia tak ingin darah dagingnya hidup susah dan tak mendapatkan kasih sayangnya.
Menit demi menit telah berlalu. Mereka bertiga tiba di rumah susun tempat di mana Kana tinggal. Wanita itu membukaka pintu dan berusaha tersenyum semanis yang ia bisa. Wanita itu mempersilahkan ketiganya masuk, pandangan Kana secara tak sengaja melihat tangan Dirga dan Dhatu yang saling bergenggaman erat, mengantarkan rasa perih ke penjuru hatinya, namun Kana menyembunyikan kesakitan yang tengah mendera hatinya.
"Jadi ... apa lagi yang mau kalian bicarakan?" Kana melipat tangan di dada dan menatap mereka semua dengan tatapan tak suka.
Dirga melirik Drew, lekaki itu yang mengerti kode yang diberikan atasannya itu segera mengeluarkan dokumen dari tas ransel, membukanya, lalu meletakkannya di atas meja persegi yang terletak di antara mereka.
"Kami mau membuat kesepakatan," ucap Dirga dingin. Kana tersenyum lirih. Tak ada lagi senyuman ataupun tatapan hangat yang biasanya lelaki itu berikan padanya. Kana baru tahu efek kehilangan bisa semengerikan ini, membuat penyesalan tumbuh dan mendera hati yang tak lagi utuh. Mengerikan.
"Kesepakatan apa maksudmu?"
Dirga kembali melirik Drew. Lelaki yang tak lain adalah seorang pengacara menunjuk dokumen yang terbuka di meja. "Di sini tertulis kalau pak Dirga akan memberikanmu uang satu milliar, jika anak yang kamu kandung terbukti adalah darah dagingnya. Kamu harus memutuskan segala hubunganmu dengan anak itu dan nggak lagi menampakkan wajahmu di hadapan keluarga kecil ini."
Kana tertawa. "Kalian mau membeli anakku?"
__ADS_1
Drew kembali menunjuk salah satu bunyi perjanjian yang ada di dokumen itu. "Jika anak tersebut, terbukti bukan darah daging Pak Dirga, maka Pak Dirga nggak akan mempertanggungjawabkan apa pun. Pak Dirga nggak akan menuntut balik apa yang telah dia berikan untuk Si anak itu semasa dikandungan dan kalian harus segera pergi dari kehidupan keluarga kecil ini."
Kana mengertakkan gigi dan meremas-remas jemarinya. Amarahnya memuncak. Bagaimana bisa ia diperlakukan serendah itu?