
Sesampainya di rumah, Dhatu menghambur ke pelukan Lestari yang menyambut kedatangan mereka dengan seulas senyum hangat.
"Mama nggak bosen di rumah sendirian?"
"Bosen, sih. Tapi mau gimana lagi? Kalian 'kan sama-sama kerja."
Dhatu merasa bersalah mendengarkan perkataan ibu mertuanya. Apa aku harus minta cuti?
"Aku dan Dhatu akan mengambil cuti dua hari, jika memang Mama mau ditemani."
Lestari tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Ia menatap keduanya bergantian. Tampaknya, tujuan utamanya menginap di rumah sepasang pengantin baru itu akan segera terwujud. Ia hanya ingin keduanya saling mendekatkan diri. Kebersamaan dan keterbiasaan adalah kunci dalam menjalin hubungan yang diawali dengan perjodohan. Ia tahu, keduanya pasti sulit dan masih canggung bersama, oleh karna itu Lestari memutuskan untuk turun tangan sendiri. Ia akan membuat keduanya menyesal karna tak cepat-cepat dijodohkan.
Senyum aneh yang terlukis di wajah Lestari membuat Dirga menatapnya heran. "Mama lagi mikirin apa?" Tanya Dirga penasaran.
Lestari menggeleng. "Nggak ada. Ambil cuti itu dan temani Mama."
__ADS_1
Dhatu menarik lengan Dirga dan mengajak lelaki itu menjauh dari ibu mertuanya. "Aku pasti nggak dikasih cuti," ringis Dhatu.
Dirga menatap Dhatu heran. "Cuti adalah hakmu. Siapa yang berani melarangnya?"
"Mbak Mira pasti nggak akan menyetujuinya."
Dirga megeluarkan ponsel, menjauh dari Dhatu, lalu tak lama kemudian ia kembali menemui wanita itu. "Udah beres. HRD yang akan langsung mengurus cutimu."
Dhatu menatap Dirga tak percaya. "Apa yang kamu lakukan?"
Wanita paruh baya itu menatap keduanya secara bergantian. "Ada masalah apa?"
Dirga menggeleng. "Nggak ada apa-apa, Ma. Hanya membantu Dhatu mendapatkan cutinya."
Lestari mengangguk mengerti. "Itulah tujuan Mama meminta Papa menyuruhmu menggantikan Pak Bagio di sana. Kamu bisa membantu Dhatu."
__ADS_1
Dhatu tersenyum kikuk, sedang Dirga tak mampu mengusir kekesalan atas keputusan egois ayah dan ibunya. Kini, Dhatu baru mengerti alasan Dirga menggantikan CEO lama mereka.
"Kalau begitu, besok kalian berdua pergi ke Bali. Mama udah belikan tiketnya," ucap Lestari sembari tersenyum lebar, sedang keduanya saling bertatapan, lalu menatap Lestari horror.
"Apa?" Dirga yakin ada yang salah dengan pendengarannya.
"Kalian akan bulan madu ke Bali," ucap wanita itu tak merasa bersalah karna telah membuat keduanya terkejut denga ide gila wanita paruh baya itu.
"Tapi, Ma ...."
Tatapan mata tajam yang lestari berikan, menghentikan perkataan yang belum sempat Dirga selesaikan. Ia ngeri, jika wanita paruh bayanya itu akan memulai aksi protes dengan mogok makan, seperti beberapa tahun lalu saat memintanya kuliah di Amerika, atau ketika memaksanya menikah dengan Dhatu. Ibunya itu selalu tahu kelemahannya yang begitu menyayangi wanita itu, hingga Dirga sering merasa ibunya menyalahgunakan kelemahannya.
Pada akhirnya, Dirga hanya bisa mengangguk setuju. Senyum penuh kemenangan menghiasi wajah wanita itu. Ia tahu, jika anak semata wayangnya tak 'kan membantah permintaannya. Apalagi, ia sudah mempersiapkan perjalanan keduanya, hingga mereka tak punya alasan untuk menolak keinginannya.
"Mama udah pesankan hotel yang bagus juga untuk kalian," ucap wanita itu tersenyum manis sembari menggengam tangan Dhatu, sedang Dhatu hanya bisa tersenyum kikuk.
__ADS_1
Kehidupan pernikahan Dhatu, membuatnya merasa bagai tengah menaiki roller coaster, naik turun, mengubah-ubah suasana hatinya dengan mudah. Tampaknya ibu dan anak itu memiliki hobby yang sama, memporak porandakan hati seseorang.