Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Semua Yang Terlihat Sempurna


__ADS_3

Dirga lebih banyak diam selama mereka berkendara. Seperti biasa Dhatu akan menunggu di mini market dekat kantor dan pulang bersama Dirga, lelaki itu tak pernah lagi meminta Drew mengantarnya pulang semenjak ada Dhatu, lebih tepatnya, semenjak ibunya menginap dan memaksa keduanya berangkat bersama. Dhatu melirik Dirga, tak mengerti apa yang terjadi pada lelaki itu. Padahal, sebelumnya lelaki itu sudah bisa tersenyum saat Dhatu meninggalkan ruangannya, lalu mengapa dirinya kembali murung?


"Apa semuanya baik-baik aja, Mas?" tanya Dhatu yang khawatir. Dirga menoleh sekilas, tersenyum dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Dhatu mengamati wajah Dirga, mencoba menerka alasan perubahan suasana hati lelaki itu.


"Kamu yakin?"


Dirga mengangguk, lalu mengusap lembut wajah Dhatu. "Aku baik-baik aja, Sayang." Dhatu tersenyum lega mendengarkan perkataan lelaki itu.


"Aku pikir, ada baiknya kalau memang kamu mau berhenti kerja," ucap Dirga tiba-tiba. Dhatu mengerutkan kening. Tak mengerti, mengapa tiba-tiba saja lelaki itu mengatakan hal yang selama ini memang mengganggu benaknya. Mungkin, memang harus ada yang mengalah di antara mereka.


"Aku juga memikirkannya. Berada di kantor yang sama pasti akan menyulitkanmu."


Dirga menggeleng. "Aku nggak masalah. Hanya saja ...."


Dirga membiarkan perkataannya menggantung di udara. Hanya saja, aku takut kehilanganmu, ucapnya dalam hati. Sebutlah dirinya egois karna memang cinta terkadang bisa semengerikan itu. Tak rela membiarkan orang yang kita sukai dilirik ataupun dekat dengan orang lain. Oleh karna itu, Dirga tak mengerti mengapa ada orang yang mampu mencintai tanpa memiliki.


Dhatu mencengkram lengan Dirga sekilas. "Aku ngerti, Mas. Kamu takut membuatku serba salah. Kita pikirkan dulu, lalu memutuskan apa yang terbaik."


Keduanya saling bertukar senyum. Sebenarnya, bukan itu yang mengganggu benak Dirga, namun Dirga tak mau terlihat lemah karna rasa tak aman yang menggelayuti hatinya.


Menit demi menit telah berlalu, sesampainya di rumah, Dirga meminta Dhatu segera membersihkan diri, sedang dirinya menuju dapur dan memasak makan malam untuk mereka. Hari ini, ia ingin memanjakan wanita itu. Ia tak ingin orang lain yang melakukan peran yang seharusnya ia lakukan untuk wanita tercintanya. Ia pun bisa memperlakukan wanita itu bak seorang ratu.


Dirga memasak makanan sederhana. Hanya Spaghetti Brulee, perpaduan saus pasta bolognese dengan saus brulee dari keju mozza, cheddar serta susu bikin rasanya sangat nikmat. Ia harap Dhatu dapat menikmati masakannya. Dirga menata makanan itu ke meja makan dan tersenyum puas menatap hasil karya tangannya.

__ADS_1


Suara langka kaki Dhatu menuruni anak tangga menyita perhatiannya. Ia berjalan mendekat, dan mengulurkan tangannya pada wanita itu. Keduanya berbagi senyum. Dirga menuntun Dhatu ke meja makan. Wanita itu tak mampu menyembunyikan kekagumannya menatap hasil karya tangan lelaki itu.


"Diam-diam kamu pasti memesan makanan secara online kan, Mas?' tanya Dhatu sembar menatap Dirga curiga. Lelaki itu tertawa, lalu menarik kursi, dan mempersilahkan Dhatu untuk duduk.


"Makan dan cobain dulu, baru komen."


"Aku nggak bakalan sakit perut setelah makan ini kan, Mas?"


Dirga lagi-lagi tergelak. "Kenapa nggak membuktikannya sendiri? Dulu, sewaktu kuliah, aku dikirim Papa keluar negeri. Terbiasa hidup sendiri dan harus berhemat, membuatku mulai belajar memasak, jadi kamu nggak usah mengkhawatirkan hasil masakanku," ucap Dirga bangga sembari mengulurkan peralatan makan pada Dhatu, wanita itu menerimanya sembari mengucapkan terima kasih.


Dhatu senang mendengar kisah lama tentang lelaki itu, saat di mana mereka belum bertemu. Mengetahui sepotong kisah tentang masa lalu Dirga, membuat senyum menghiasi wajahnya. Sedetik kemudian, lelaki itu duduk di kursi sampingnya. Dirga mendekatkan saos dan berbagai bumbu perlengkapan makan pada Dhatu. Dhatu mengernyit, tak tahu alasan sikap kelewat manis yang lelaki itu tunjukkan hari ini.


"Kamu beneran nggak lagi sakit kan, Mas?" tanya Dhatu seraya menempatkan punggung tangannya pada kening Dirga.


"Aku beruntung memilikimu, Mas."


Dirga menarik tangan Dhatu yang berada di meja, lalu mengecup punggung tangannya. "Aku yang lebih beruntung," ucapnya menatap ke dalam manik mata Dhatu.


Keduanya berbagi senyum. Begitu banyak hal yang masih mengganjal di hati, namun Dirga yakin, jika mereka bisa mencari solusi yang baik. Dirga tak ingin menjadi egois dalam mencintai wanita itu. Wanita itu telah mengajarkannya banyak hal. Mencintai dan dicintai.


***


Pagi menjelang. Dhatu merasa heran begitu membuka mata, namun tak menemukan Dirga di sisinya. Ia memanggil nama lelaki itu, namun tak ada jawaban yang diterimanya. Kekhawatiran Dhatu lenyap begitu menuruni anak tangga dan menemukan Dirga di dapur. Lelaki itu tampak fokus, hingga tak menyadari kehadirannya. Dhatu memeluk lelaki itu dari belakang, menyandarkan kepalanya pada punggung yang selama ini membuatnya merasa nyaman.

__ADS_1


"Selamat pagi," sapa Dirga mengelus tangan Dhatu yang melingkar pada perutnya. Dirga melepaskan pelukan wanita itu dan membalik tubuhnya.


"Pagi, Mas. Kenapa nggak bangunin aku kalau kamu kelaperan pagi-pagi begini."


"Tadinya mau kasih kejutan, tapi kamu kepagian bangunnya. Duduk manis aja di sana."


Dirga tersenyum dan mendorong tubuh Dhatu menjauh, menuntun wanita itu ke meja makan, dan memintanya duduk menunggu. Dhatu menggeleng-geleng, senyum masih menghiasi wajahnya. Ia memperhatikan Dirga dalam diam. Lelaki itu mahir menggunakan pisau, bagai tengah menonton pertunjukan masak yang kerap dilihatnya di televisi.


Tak lama menunggu, Dirga sudah datang menghampirinya dengan dua piring nasi goreng yang salah satunya diletakkan di hadapan Dhatu. Aroma masakan Dirga membuat wanita itu menyunggingkan senyum.


"Kelihatannya enak."


Dirga tersenyum bangga. "Tentu aja, siapa dulu yang masak." Dirgai ikut duduk di samping Dhatu, "makan dulu dan kita akan segera berangkat kerja."


Dhatu mengangguk. Keduanya menyantap sarapan dengan sesekali berbagi cerita dan juga tawa. Hati keduanya dipenuhi kebahagiaan. Kini, semuanya sempurna.


***


Dirga tak mampu meyembunyikan keterkejutannya, begitu membuka pintu ruangan dan menemukan wanita yang selama ini dihindarinya tengah duduk di sofa yang ada di sana. Wanita itu tersenyum manis sembari berjalan ke arahnya, namun Dirga mengabaikannya dengan berjalan menjauh, menuju meja kebesarannya.


"Apa maumu dan kenapa bisa masuk ke ruanganku?" tanya Dirga begitu duduk di kursinya, ia menatap wanita itu meneliti.


Wanita itu tak 'kan ikut terpancing amarah Dirga. Ia tersenyum manis, duduk di hadapan Dirga, dan berkata, "Resepsionismu sedang makan siang. Anehnya pintu menuju kantormu terbuka dan diganjal, karna nggak ada siapapun, aku memberanikan diri dan masuk ke sini," ucap wanita itu seraya melipat tangan di meja, "kita perlu bicara, Mas. Aku bisa menjelaskan semuanya," lanjut wanita itu sembari menatap Dirga memohon.

__ADS_1


__ADS_2