
Dhatu mempercepat langkah begitu melihat orang yang dicarinya sedang berada di pantry. Ia memanggil nama lelaki itu dan mengurungkan niat kelaki itu untuk segera pergi. Dhatu tersenyum begitu sudah berdiri di hadapan lelaki itu. Biasanya, tak ada yang tak diketahui seorang office boy, pekerjaannya yang menuntut lelaki itu sering mengelilingi kantor, mengantar paket-paket beberapa orang ke ruangan mereka masing-masing, membuat Dhatu yakin jika Mas Tono tahu siapa yang meletakkan coklat dan juga bunga di mejanya tadi pagi. Hal yang sampa siang ingin mengusik rasa penasarannya. Bukan karna senang memiliki seorang pengagum rahasia, dirinya malah merasa begitu terbebani karna harus menyembunyikan hal itu dari suaminya.
"Kenapa Mba Dhatu. Kayaknya, lagi nyariin aku. Ada yang bisa kubantu?" lelaki itu menatap Dhatu penuh tanya.
"Apa tadi pagi Mas Tono yang menyapu dan membersihkan ruang call center?"
Tono mengangguk. "Iya, betul sekali Mbak. Ada apa? Apa ada barangnya yang hilang? Mau saya bantu mencarikannya?"
Dhatu menggeleng. "Bukan begitu. Aku hanya mau bertanya, apa Mas Tono tahu, siapa yang meletakkan cokelat dan juga bunga di mejaku?"
Mas Tono mengeryitkan dahinya, lalu menggeleng saat teringat apa yang dimaksudkan wanita itu. Sekilas Dhatu dapat melihat kegugupan di wajah lelaki itu, membuat Dhatu yakin, jika Mas Tono pasti mengetahui sesuatu tentang hadiah yang diletakkan seseorang di mejanya.
"Saya nggak tahu apa-apa, Mbak."
Dhatu menatap lelaki itu meneliti. "Beneran nggak tahu? Apa waktu Mas Tono masuk ke ruangan, paket itu udah ada di sana?"
Mas Tono tampak berpikir sesaat, lelu mengendikkan kedua bahunya. "Saya beneran nggak merhatiin, Mbak. Tadi hanya menyapu dan ngepel aja, beneran nggak ada ngotak-ngatik meja dan nggak merhatiin sama sekali."
Dhatu menarik napas pajang dan menghelanya perlahan. Ia tak mau lagi memaksa pria itu. Mungkin pria itu mengetahui sesuatu, tetapi tak mau berbagi atau memang lelaki itu berkata jujur dan tak mengetahui apa pun.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu. Makasih ya, Mas." Dhatu segera berjalan meninggalkan lelaki itu, sedang Mas Tono pun ikut berjalan meinggaljan Pantry, ia me dahului Dhatu dan mengucapkan permisi.
Dhatu tak bisa berharap Mas Tono akan memberinya petunjuk. Kini, ia kembali ke titik awal, tak bisa menebak siapa pun.
Ia tak mampu menemukan nama seorang pun yang menruh hati padanya selain Dirga, akan tetapi rasanya tak mungkin pria itu yang memberikannya kejutan. Dhatu tersenyum secara tak sengaja bertemu Krisna saat hendak kembali ke ruangannya. Ia menghentikan langkah dan keduanya berdiri berhadapan.
"Abis dari pantry ya, Tu?"
Dhatu mengangguk. "Tadinya mau cari cemilan, tapi semua jualan di pantry pada habis, Mas. Jadi balik dengan tangan kosong."
Krisna mengusap puncak kepala Dhatu. "Kasihan ... kamu pengen makan apa? Nanti aku pesenin online aja. Pengen ngemil apa?"
"Pulang kerja nanti ada rencana, Tu? udah lama kita nggak pernah jalan keluar lagi, mau nonton bareng?"
Dhatu cepat-cepat menggeleng, lalu tersenyum kikuk melihat waja terkejut Krisna karna penolakannya yang begitu cepat. "Maaf, Mas. Aku lagi ada urusan hari ini, jadi nggak bisa kemana-mana."
Krisna tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya, namun sedetik kemudian senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia tak mau membuat Dhatu menjadi merasa bersalah karnanya.
"Mungkin lain kali ya, Tu."
__ADS_1
Dhatu tersenyum tipis, lalu mengangguk. Dhatu berpamitan untuk kembali ke ruangan, namun tubuh mendadak membeku saat melihat Dirga yang sudah berdiri dekat mereka. Lelaki itu menatap keduanya penuh amarah dan berjalan mendekat. Ia menggenggam tangan Dhatu, mengangkatnya ke udara dan menunjukkan pada Krisna tangan mereka yang saling bergenggaman. Dhatu dan Krisna sama-sama terkejut akan aksi Dirga.
"Pak Dirga, apa yang Anda lakukan?" tanya Dhatu dengan nada sopan. Ia menatap Krisna dan Dirga secara bergantian.
Dirga menoleh pada Dhatu dan tersenyum manis, lalu mengalihkan pandangannya pada Krisna yang masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak tahu apa yang terjadi, bagaimana bisa seorang CEO yang tak begitu akrab dengan Dhatu bisa menggenggam tangannya begitu santai. Krisna sendiri tak berani menyentuh ataupun menggenggam tangan wanita itu. Apa ada hubungan istimewa di antara keduanya.
"Saya menyukai Dhatu dan saya harap Anda mau melepaskannya. Jangan pernah mendekatinya lagi!"
Perkataan Dirga membuat Dhatu seakan tersambar petir di siang bolong. Apa yang lelaki itu katakan barusan? Apa gunanya ia mengatakan semua itu pada Krisna? Mereka sudah seperti saudara, mengapa pula Krisna harus melepaskan dan menjauh darinya. Padahal, ia sudah menjelaskan semuanya pada Dirga dan lelaki itu telah mengerti semuanya, lalu mengapa sekarang lelaki itu seakan mencari gara-gara di kantor. Apa yang akan Krisna pikirkan tentang mereka, apalagi dirinya adalah seorang staff biasa. Bagaimana bila kabar itu tersebar?
Krisna tertawa kecil, "Anda menyukainya, tapi tidak begitu dengan Dhatu, bukan? Anda nggak bisa melarang dia untuk dekat dengan siapa pun atau orang lain mendekatinya. Dhatu masih single, jadi saya rasa, Anda nggak berhak meminta orang lain mejauhinya. Jangan karna Anda seorang CEO, maka Anda bebas melakukan apa pun yang Anda mau," ucap Krisna sembari menatap lelaki itu tajam, ditariknya tangan Dhatu dan genggaman Dirga dan membuat wanita itu berdiri di sampingnya.
"Dhatu bukan barang yang bisa kekep dalam genggaman Anda. Bisa-bisa dia sesak napas. Selama Dhatu masih single, nggak ada seorang pun yang bisa melarang dia berkaean dengan siapa pun." Krisna tersenyum manis, "kami permisi dulu," lanjutnya sembari menarik Dhatu untuk ikut bersamanya.
"Tapi Mas Krisna ... sebenarnya ..."
Belum sempat Dhatu melanjutkan perkataannya lelaki itu sudah pergi menariknya menjauh. Dengan bodohnya, Dirga hanya bisa menatap lelaki yang menarik istrinya itu dengan tajam. Ia merasa begitu lemah dan tak berdaya. Harusnya, ia yang lebih memiliki hak untuk menarik Dhatu menjauh, namum melihat wajah serba salah Dhatu membuat nyalinya menciut. Melihat wajah Dhatu yang ketakutan, membuat Dirga tak mampu menarik wanita itu.
Dirinya tak ingin Dhatu terluka karna keegoisannya, namun ia tak bisa mengontrol rasanya. Dirinya merasa kerdil. Bagaimana bisa kekuasaan tak berarti apa pun bila disandingkan dengan logika manusia pada umumnya? Pasti banyak yang berpikir, jika dirinya hanyalah atasan mesum yang mencoba merayu salah satu karyawannya agar bisa dibawa ke tempat tidur. Menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Akan tetapi, kenyataannya berbeda. Dirinya dalam posisi lemah karna pemikiran orang. Kini dirinya mula mengerti, mengapa Dhatu selalu memikirkan kata orang.
__ADS_1
Dirga mengeraskan rahang. Ia tak bisa mengakui Dhatu sebagai istri, namun ia bisa memainkan peran lain dengan mengatakan Dhatu adalah kekasihnya. Ia akan membuat pria yang menarik tanga Dhatu menjauh mengerti, jika mereka saling mencintai. Perang dimulai!