
Dirga kembali ke kamar dan menemukan Dhatu yang tengah tertidur pulas. Ia tersenyum menatap wanita yang akhirnya bisa beristirahat tanpa dirinya. Mungkin memang dirinya yang terlalu menyiksa wanita itu, hingga terlelap pun tak bisa. Ia tahu, kebersamaan mereka tak mudah bagi Dhatu, begitupun bagi dirinya. Ada jurang pemisah yang dipaksa hadir di antara mereka, tak ada sesiapa pun yang boleh melewatinya. Harus tetap di tempat masing-masing agar tak ada satupun yang terluka.
Dirga berjalan mendekat, lalu merebahkan diri perlahan di samping wanita itu. Ia memiringkan tubuh dan mengamati wajah polos Dhatu. Sesungguhnya, wajah wanita itu cukup cantik, dengan mata bulat, hidung mancung, dan juga bibir mungil yang tampak menggoda. Hanya saja, penampilan wanita itu terlalu sederhana, bermake-up pun jarang, hingga tak banyak mata yang menyadari kecantikan wanita di hadapannya. Ingin rasanya Dirga melangkahi jurang yang mereka ciptakan, meniadakan jarak yang menjauhkan. Bolehkah ia melakukan semua itu?
Entah apa yang mendorong Dirga, ia kini mempertipis jarak di antara wajah mereka, mengamati setiap sisi wajah wanita itu dan tanpa sadar bibirnya sudah menempel pada bibir Dhatu. Jantungnya berdebar tak menentu, getaran asing merasuki bathinnya, mengirimkan sekelebat rasa aneh yang menguasai hati. Lama bibirnya berada di sana, tak bergerak sama sekali, takut-takut Dhatu terbangun dan marah karna dirinya yang lancang mencuri ciuman wanita itu. Jika mereka adalah sepasang pengantin yang menikah karna cinta, mungkin ia tak merasa setakut ini mencicipi bibir wanita yang memang adalah istri sahnya.
Sedetik kemudian, Dirga menjauhkan wajahnya. Ia kembali mengamati wajah Dhatu. Entah mengapa ia sempat mengabaikan Dhatu? Mungkin karna permintaannya menjadikan Dhatu sebagai bayangan membuatnya tak mampu menyadari kelebihan wanita itu. Harusnya sejak awal ia membiarkan Dhatu berjalan di sisinya, tak hanya di belakang, agar ia dapat menyadari hal yang begitu berharga. Dirga tersenyum. Entah apa yang telah wanita itu perbuat pada dirinya?
Perlahan semua sikap Dhatu yang selalu melayaninya dengan sabar, melakukan kewajibannya sebagai istri, membuat Dirga mulai memperhatikannya. Aneh, bagaimana bisa ia menyadari bayangan yang harusnya tak perlu ia pedulikan? Apa memang begitu besar pengaruh keterbiasaan pada hati seseorang?
"Kamu memang aneh, Tu," gumamnya pelan. Ia menautkan jemarinya di sela jemari Dhatu, tak lama kemudian rasa kantuk menjemputnya. Keterbisaan membuatnya merasa nyaman di sisi wanita itu, hal yang tak pernah ia dapatkan dari orang lain. Seakan menemukan tempat pulang dan kehangatan yang telah lama ia cari. Entahlah, harus dinamakan apa perasaan berkecamuk ini. Yang pasti, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Dhatu. Dhatu yang membuat jantungnya mulai tidak tenang saat mereka bersama.
__ADS_1
Menit demi menit berlalu. Dhatu membuka matanya perlahan, lalu pandangannya beralih pada tangan yang terasa digenggam seseorang. Tangan mereka saling bertautan, entah sejak kapan dan tak tahu siapa yang memulainya. Senyum terukir di kedua sudut bibir Dhatu, lalu ia mengarahkan pandangan pada Dirga yang tampak tertidur pulas, terlihat dari napas lelaki itu yang tampak teratur. Lelaki itu bagai bocah tak berdosa, polos dan juga menggemaskan. Pandangan Dhatu jatuh pada bibir tipis Dirga yang entah mengapa tampak begitu menggoda. Dhatu memberanikan diri menyentuh wajah lelaki itu dengan sebelah tangannya yang bebas. Getaran asing membuat tangannya bergetar saat mendarat di pipi lelaki itu. Terlalu indah untuk sekadar mimpi yang akan segera menghilang begitu ia terbangun dari tidur. Ingin rasanya tidak pernah terbangun jika semua ini hanya sekedar mimpi.
Beberapa hari mereka tidur bersama, namun tak sekalipun Dhatu memberanikan diri menatap lelaki itu. Ia kerap menjaga posisi mereka, punggung yang saling berhadapan. Kini ia tahu, menatap wajah polos lelaki itu berbahaya bagi kesehatan jantungnya. Sedari tadi jantungnya tak bisa ditenangkan.
Tangannya membelai lembut wajah Dirga, tak ingin lelaki itu terbangun karna sentuhannya, lalu jemarinya dengan lancang menyentuh bibir Dirga, mengusapnya hati-hati. Dhatu menelan ludah dengan susah payah, ingin mencicipi bagaimana rasa bibir lelaki yang telah sah sebagai suaminya itu. Anehnya, hubungan sah di antara mereka, tak mampu membuatnya merasa memiliki, hingga tak berani menyentuh lelaki itu.
Entah setan mana yang merasuki Dhatu. Tanpa sadar bibirnya sudah menempel pada bibir Dirga. Jantungnya terasa mau copot, berpacu liar, hingga sesak napas. Sedetik kemudian Dirga membuka matanya saat bibir Dhatu masih menempel pada bibirnya. Dhatu gelagapan, hendak menarik kepalanya menjauh, namun Dirga mencegahnya. Ia menggerakkan bibirnya, melahap bibir Dhatu, gerakan penuh kelembutan yang membuat bibir Dhatu mengikuti irama yang lelaki itu peesembahkan. Matanya terpejam menikmati ciuman yang membuat jantungnya serasa mau meledak.
Dirga melepaskan ciuman mereka saat merasa Dhatu akan kehabisan napas karnanya. Napas keduanya memburu, kening mereka saling menempel. Tangan Dirga menangkup kedua pipi Dhatu. Hati keduanya dilanda resah, gairah minta ingin dibebaskan, namun kesadaran perlahan mulai mengambil alih.
"Maaf, aku tadi ... maksudku ... anu ...." sungguh Dhatu tak tahu harus menjelaskan apa aksi nekadnya tadi.
__ADS_1
"Aku menikmati ciuman kita." Dirga menatap ke dalam manik mata Dhatu, "ini pertama kalinya bagimu?"
Pipi Dhatu terasa panas. Ini pertama kalinya ia bertindak nekad, pertama kalinya lebih dulu mengecup bibir lawan jenis, dan juga merasakan ciuman panas yang membuat hatinya bergejolak. Jantungnya kembali berdebar hebat. Ia memang pernah beberapa kali memiliki kekasih, namun hubungan mereka tak pernah sedalam ini. Hanya sekedar bergenggaman tangan dan kecupan singkat di bibir ataupun pipi saja, namun bukan dirinya yang memulai semua sentuhan itu. Dhatu tak pernah senekad ini.
"Apa begitu terlihat? Kaku?"
Dirga tergelak. "Mau kuajari?"
Perkataan Dirga semakin membuat kedua pipi Dhatu memanas, ia melepaskan tangan Dirga yang ada di pipinya. Ingin tenggelam dalam kesemuan yang tercipta, namun kenyataan lelaki itu memiliki wanita lain yang menunggu di kota mereka membuat Dhatu menyerah. Ia takut tak dapat mengendalikan diri lagi. Ia pun tak ingin melakukan hal yang memang sebenarnya kewajibannya sebagai istri sah Dirga tanpa perasaan di antara mereka. Melakukan keharusan sungguh sulit.
"Nggak seharusnya kita terbuai," ucap Dhatu tersenyum lirih, "hatimu ada pada yang lain," lanjutnya seraya beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
Dirga terpaku, menatap sendu punggung Dhatu yang telah menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia meraba dadanya yang sesak. Mungkinkah satu hati mampu mencintai dua orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan? Dirga menggeleng. Tak mungkin perasaannya adalah cinta. Mereka hanya terbawa suasana, tidak mungkin perasaan hadir di antara mereka yang terpaksa bersama.