
Setelah kepergian Kana. Semuanya kembali berjalan normal, wanita itu meninggalkan banyak kesan pada hidup keduanya, menjadikan mereka manusia yang lebih banyak bersyukur. Dhatu dan Dirga melanjutkan perjuangan Kana, membiayai panti asuhan tempat di mana wanita itu dibesarkan. Keduanya bahagia dan berharap semua akan bertahan untuk selamanya.
Waktu Dhatu di perusahaan hanya tersisa satu minggu lamanya. Sebentar lagi ia akan meninggalkan rekan-rekan dan juga temannya di sana. Ada pertemuan, maka akan ada perpisahan. Siang ini, Dhatu makan siang bersama Rina dan juga Krisna. Seminggu terakhirnya, ingin Dhatu habiskan untuk menikmati detik-detik terakhir kebersamaan yang pastinya akan sangat ia rindukan. Dirga yang mengerti pun tak melarang wanita itu berkumpul.
Restoran yang berjarak beberapa blok dari perusahaan mereka adalah tempat tujuan ketiganya. Restoran baru yang digadang-gadang akan segera menjadi tempat favorit banyak orang yang menyukai makanan khas Manado. Hari ini Dhatu ingin mencoba tempat makan yang telah menjadi buah bibir banyak orang di perusahaannya yang memuji-muji rasa makanan di tempat ini. Rasa yang membuat banyak orang menjadikan tempat ini sebagai pilihan utama untuk bersantap ketik jam makan siang tiba.
Musik pop mengalun indah dan memanjakan indera pendengaran mereka begitu pintu kaca restoran terbuka. Aroma sedap masakan khas Manado menyambut mereka. Desain restoran yang didominasi kaca dan juga kayu tampak asri dengan beberapa tanaman hidup yang menghiasi penjuru ruangan. Botol-botol kaca yang diisi berbagai rempah masak, disusun pada rak dekat kasir, menambah nuansa cozy tempat itu.
Krisna menuntun kedua wanita yang datang bersamanya untuk duduk pada kursi dekat kaca besar. Ketiganya mengisi kursi kosong dengan posisi Dhatu dan Rina duduk bersisian, sedang Krisna duduk di depan Dhatu. Krisna memanggil seorang pramusaji dan mulai memesan makan.
"Aku bakalan sedih banget, Tu." rengek Rina, "aku pikir, selamanya kamu akan bekerja di perusahaan ini. Aku bener-bener nggak nyangka kalau kamu bakalan memilih resign. Padahal, walau atasan dan peraturan semakin aneh, kamu tetap bertahan. Kamu tampak begitu menyukai pekerjaanmu. Kok, bisa tiba-tiba banget," Rina menatap Dhatu tak percaya.
Hingga saat ini, Rina masih belum paham akan alasan Dhatu meninggalkan perusahaan. Padahal, selama ini, wanita itu adalah seorang pekerja keras. Jarang absent dan juga tak pernah mengeluh walau kerap menerima komplain dari para konsumen. Dhatu menikmati pekerjaannya, memberi kesan baik pada orang-orang di luar divisinya, membuat orang berpikir jika pekerjaan wanita itu mudah dan menyenangkan. Padahal, tak semudah itu.
"Sebenarnya, aku mau fokus sama kehidupanku. Ini saatnya untuk menikmati hidup. Jadi pengangguran mulai terdengar menyenangkan bila setiap hari mendengar orang berteriak dan memekakkan telingamu."
Krisna tertawa kecil. Ia mengerti bagaimana rasanya. Sebagai seorang call center, kesabaran adalah kunci utamanya. Menekan amarah dan harus pintar meredakan amarah Si marah. Tak semudah seperti yang banyak orang pikirkan. Tak sebatas mengangkat telpon, mendengarkan, menjawab, dan selesai. Kadang kau harus menerima cacian yang dberikan bukan karna kesalahanmu dan menerimanya dengan lapang dada atas nama pekerjaan.
__ADS_1
"Mas Krisna nggak akan kayak Dhatu yang tiba-tiba bakalan keluar, kan?" Rina menatap Krisna penuh tanya. Lagi-lagi Krisna tergelak pelan.
"Sayangnya, aku masih butuh pekerjaan ini. Aku laki-laki, jadi perlu pekerjaan untuk menafkahi anak dan istriku nanti. Kalau nggak kerja, aku mau jadi apa?"
Rina bernapas lega. Setidaknya, ia tak kan kehilangan seorang teman lainnya. "Tu ... jangan pernah lupain kami. Kalau nikah jangan lupa undang-undang. Jangan tiba-tiba ketemu lagi dan kamu udah punya anak. Aku bakalan marah besar!"
Dhatu tersenyum kikuk. Ingin rasanya ia memberitahukan rahasia terbesarnya pada sahabatnya itu, namun dirinya tak memiliki keberanian. Bagaimana jika wanita itu tak percaya dan menganggapnya membual?
"Ketemu pas punya anak juga nggak masalah, kok. Yang penting, Dhatu tetap mengingat kita, kan?" Krisna yang sudah tahu akan rahasia wanita itu segera mengalihkan pembicaraan.
"Kok, rasanya, aku bakalan nggak ketemu Dhatu untuk waktu yang panjang. Kamu mau ke mana sih, Tu?"
"Pak ... Dir ... ga ....," ucap Rina gugup. Ia menoleh pada Dhatu dan mengelus lengan sahabatnya, sedang Dhatu hanya bisa tersenyum kikuk.
"Ya ... boleh saya bergabung, kan?" Dirga tersenyum, tak seperti pria yang kerap terlihat berwibawa dan jauh saat mereka tengah berada di tempat kerja.
"Ya, tentu saja, Pak." Rina menyenggol lengan Dhatu dengan sikunya, "tu ... ini beneran Pak Dirga CEO kita, kan?" bisik Rina pada telinga Dhatu. Dhatu tersenyum kikuk seraya mengangguk.
__ADS_1
"Kalian udah mesen makanan?" Dirga membolak-balik menu di hadapanya.
"Udah, Pak. Biar saya panggilkan pramusaji," ucap Krisna sembari memanggil seorang pramusaji yang langsung berjalan ke arah mereka.
Dirga mengucapkan terima kasih, lalu menoleh pada Dhatu, menatapnya lembut sembari tersenyum. Rina yang mengikuti arah pandang Dirga mulai bingung dengan apa yang terjadi, sedang Krisna hanya bisa tersenyum tipis menyaksikan kekalahan yang berulang kali dirasakannya.
"Makanlah dengan puas. Hari ini, saya akan mentraktir kalian semua untuk merayakan kebahagiaan atas kehamilan istri saya," ucap Dirga masih menatap Dhatu lembut.
Rina terperanjat. "Pak Dirga udah nikah? Saya nggak pernah tahu kalau Pak Dirga udah menikah. Gosip di kantor yang bilang Bapak masih lajang adalah kebohongan?"
Dirga mengalihkan pandangan ke arah Rina. Jantung Dhatu berdebar kencang, mendadak cemas menanti jawaban apa yang akan diberikan suaminya itu pada rekan kerjanya. Apa lelaki itu akan memperkenalkan diri sebagai suaminya? Apa Dirga akan senekad itu? Ah ... Dhatu tak dapat memikirkan bagaimana reaksi Rina saat mengetahui hubungan antara dirinya dan Dirga. Krisna saja kaget bukan main dan sulit menerima kenyataan yang ada.
Dirga menoleh pada Dhatu. "Istri saya sedang duduk di sebelahmu," ucap Dirga santai tanpa beban apa pun.
Mendadak leher Rina terasa kaku dan terasa berat untuk menoleh ke sebelahnya. Wanita yang dimaksud oleh lelaki itu, apakah Dhatu? Saat menemukan kesadarannya, Rina menoleh cepat dan mendapati Dhatu tersenyum kikuk ke arahnya. Rina menatap Dhatu dan Dirga secara bergantian.
"Dhatu istri Bapak dan dia sedang hamil?" Rina masih tak bisa menyembunyikan keterkejutan dalam nada suaranya.
__ADS_1
Dirga tertawa pelan, sedang Dhatu merasa gemas pada Dirga. Bagaimana bisa ia memperkenalkan dirinya sebagai suami Dhatu dengan cara seperti ini? Bagamana jika sahabatnya itu terkena serangan jantung akan kebenaran yang diterimanya?