
Dhatu mondar-mandir di hadapan instalasi gawat darurat. Ia meremas-remas jemari dan berharap ketakutan bisa sedikit berkurang, namun dirinya gagal. Abra sudah tiba dan membantu mengurus semua administrasi rumah sakit. Dhatu tak bisa melakukan hal lain, selain berdoa dan berjalan ke sana-ke mari. Beruntung, ada pemuda itu yang mau membantu mengurus semuanya. Tanpa diperintah, pemuda itu sudah menghubungi Lestari dan memberitahukannya apa yang terjadi. Wanita paruh baya itu akan tiba dalam beberapa jam lagi. Setidaknya, Dhatu butuh teman untuk menenangkannya dan tak mungkin bisa didapatkannya dari seorang pria asing seperti Abra.
Pelaku penusukan masih belum juga ditemukan, Dhatu yang diminta keterangan oleh pihak berwajib pun tak bisa membantu banyak karna kejadian yang berlangsung begitu cepat, ia tak begitu memperhatikan apa yang terjadi, pemikirannya terlalu sibuk mencari pertolongan untuk Dirga. Dirinya sendiri masih terkejut. Abra menceritakan tentang kejadian di water park pada polisi dan ada dugaan pria berkulit coklat itulah yang melakukan penusukan terhadap Dirga. Pihak berwajib akan menyelidiki dengan saksama.
"Baiknya Ibu makan dulu," ucap Abra, tak tega melihat Dhatu yang seperti kehilangan arah. Dhatu menoleh pada pemuda itu, lalu menggeleng. Abra menarik napas panjang dan menghelanya perlahan.
"Kalau gitu, Ibu duduk dulu. Kita hanya bisa berdoa semoga operasinya lancar dan Pak Dirga bisa kembali sehat."
"Apa kamu pikir, dia akan baik-baik aja?"
Abra tersenyum menenangkan dan mengangguk. "Tentu saja. Pak Dirga itu kuat. Saya aja terkagum-kagum melihat caranya berantem. Dia nggak semudah itu dikalahkan. Serahkan semuanya pada Tuhan, Bu."
Air mata Dhatu kembali mengalir, tubuhnya bergetar karna ketakutan yang merasuki bathinnya. Dadanya sesak bukan main. Ia tak mau akhir seperti ini untuk kisah mereka yang baru saja akan dimulai. Apa yang harus ia lakukan tanpa Dirga di sisinya? Bolehkah ia meminta agar Tuhan tak mengambil Dirga? Tidak, jangan sekarang. Masih banyak kata yang belum sempat ia ungkap, banyak hal yang belum mereka lakukan bersama, dan dirinya tak bisa jika harus bernapas tanpa lelaki itu di sisinya.
"Saya mohon, Ibu duduk dulu." Abra menatap wanita itu penuh permohonannya. Dhatu yang tak tega pun memilih duduk. Ia meremas-remas jemari, berharap penyiksaan itu segera berakhir.
Beberapa menit kemudian, Abra ikut duduk di sampingnya. Suara ponsel pemuda itu menginterupsi, ia membaca sekilas pesan yang masuk, lalu mengalihkan pandangan ke arah Dhatu yang masih menatap kosong ke depan.
"Bu Lestari udah mendarat. Saya mau menjemputnya dulu. Apa Ibu baik-baik aja ditinggal sendiri?"
__ADS_1
Dhatu memaksakan senyum dan mengangguk. "Ya, silahkan. Saya akan baik-baik aja di sini."
Abra menatap sekilas, lalu pergi berjalan meninggalkan wanita itu. Sepeninggalan Abra, Dhatu kembali menangis. Ia tak berhenti berdoa untuk keselamatan suaminya. Setiap orang berhak diberikan kesempatan kedua, maka ia berharap Tuhan menunjukkan belas kasih padanya. Yang ia perlukan, hanyalah kesempatan kedua.
Menit demi menit telah berlalu. Kini, Dirga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter yang melakukan operasi mengatakan jika tak ada yang perlu dicemaskan. Beruntung, luka tusuk yang lelaki itu alami tidak terlalu dalam, hingga tidak mengenai organ pentingnya. Dhatu merasa lega dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Yang Mahakuasa.
Hingga saat ini, Dirga belum juga membuka mata. Dokter menjelaskan efek obat bius masih bertahan beberapa menit ke depan, membuat lelaki itu masih tertidur dan Dhatu tak perlu mencemaskan apa pun. Kini, Dhatu hanya bisa duduk di samping ranjang lelaki itu dan menggenggam tangannya erat.
"Entah apa jadinya aku tanpamu, Mas? Harusnya kamu bisa sedikit menahan emosi dan nggak berantem dengan siapapun. Lihatlah apa yang terjadi padamu!"
Air mata Dhatu kembali mengalir, diletakkannya tangan lelaki itu di pipinya. Ia ingin marah, namun tak tahu pada siapa, hingga ia pun menyalurkan amarahnya pada Dirga yang belum sadar. Jika memang pelaku penusukan itu adalah lelaki di water park, Dhatu merasa begitu bersalah. Semua ini terjadi karnanya. Harusnya ia bisa menjauhkan lelaki itu dari masalah, namun apa yang diperbuatnya? Dirinya malah membuat Dirga terbaring lemah.
Ia tak mau menunda mengatakan rasa yang memenuhi hati. Tak 'kan ada yang tahu apa yang akan terjadi esok. Pelajaran hari ini membuatnya sadar jika kita harus mencintai seseoranng dan mengatakan cinta seakan kita akan kehilangannya. Katakan setiap hari agar ia tahu, jika kita mencintainya.
"Aku juga mencintaimu," ucap Dirga dengan suara serak. Dhatu terkejut dan segera mengangkat kepalanya. Lelaki itu tersenyum, sedang air mata Dhatu mengalir semakin deras.
Lelaki itu mengulurkan tangannya yang bergetar dan lemah, Dhatu segera mendekatkan wajahnya pada tangan Dirga dan membiarkan lelaki itu mengusap air matanya. Bukan menghentikan tangis, air matanya mengalir semakin deras.
"Kamu jelek banget kalau nangis gitu, Tu."
__ADS_1
Dhatu tersenyum tipis. "Kamu yang buat aku nangis, Mas. Kamu memang jahat!"
Dirga tergelak pelan. "Jadi, sekarang orang yang lagi sakit bukan disayang-sayang, tapi disalahin ya?"
Dhatu mengerucutkan bibir. "Kamunya ngeselin, Mas."
Dirga mengusap lembut wajah Dhatu. "Aku rela ditusuk seribu kali lagi kalau dengan cara ini aku bisa mendengar kata cinta dari bibirmu, Tu."
Dhatu menjauhkan wajahnya dari tangan lelaki itu. "Jangan ngomong sembarangan, Mas! Aku nggak mau melalui semua penyiksaan ini lagi. Jantungku berhenti berdetak karnamu," ucap Dhatu memeluk Dirga.
Dirga meringis kesakitan, menyadarkan Dhatu jika sikapnya membuat lelaki itu kesakitan. Ia meringis. "Maaf, Mas."
"Sini peluk lagi, tapi pelan-pelan," ucap Dirga dengan nada manja. Dhatu tertawa kecil, tak menyangka lelaki itu bisa bersikap manja.
"Gitu dong, ketawa. Kamu cantik," ucap Dirga sembari menatap Dhatu lekat. Senyum lemah lelaki itu seakan menghipnotis Dhatu. Ada sesuatu di manik mata lelaki itu yang membuat Dhatu seakan tenggelam.
Dhatu memeluk lelaki itu pelan-pelan. "Kamu nggak perlu terluka untuk mendengarkan kata cinta dariku, Mas. Aku akan mengucapkannya setiap hari dan sebanyak yang kamu mau, tapi tolong jangan siksa aku lagi dengan membiarkan dirimu terluka. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu. Aku seakan nggak bisa bernapas tanpamu, Mas."
Dengan tangan lemahnya Dirga mengusap-usap lembut puncak kepala wanita itu. "Iya, Sayang. Aku janji, nggak akan membiarkan diriku terluka lagi. Aku nggak mau melihatmu menangis lagi."
__ADS_1
Dhatu melepaskan pelukannya, menatap lembut wajah tampan lelaki itu, lalu mengecup bibir lelaki itu. Jantung keduanya berdegub kencang. Dunia mereka kembali berwarna. Cinta memang sehebat ini.