Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Pria Masa Lalu


__ADS_3

Rina mengajak Dhatu kembali duduk begitu Alvin pergi meninggalkan mereka semua. Wanita itu mengusap-usap lengan Dhatu karna wanita itu tampak ketakutan. Tatapan mata Alvin yang seakan menggelap, membuat bulu kuduk Dhatu berdiri. Dhatu tak menyangka jika Alvin yang dikenalnya lembut itu bisa berubah seperti sekarang. Apa memang separah itu pengaruh waktu bagi seseorang?


"Dia mantanmu yang dulu pernah membuatmu nangis terus-terusan?" Krisna bertanya dengan kesal.


Lelaki itu masih ingat. Dhatu sering menangis begitu berpisah dari kekasihnya, tampak hancur dan tak bernafsu maka. Masa-masa yang berat bagi Dhatu dan Krisna mengerti benar jika Dhatu membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan luka, hingga Krisna pun tak berani memasuki hati wanita itu kala melihat betapa hancurnya Dhatu. Ia tak ingin menjadi pelarian, dirinya sudah cukup puas ketika Dhatu menjadikannya sebagai sandaran saat bersedih. Siapa sangka lelaki yang menghancurkan Dhatu bisa bersikap segila itu?


Dhatu tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Aku mohon, jangan sampaikan masalah ini pada Mas Dirga," ucap Dhatu penuh permohonan, "aku hanya nggak mau Mas Dirga menjadi khawatir," lanjut Dhatu sembari menatap Krisna dan juga Rina secara bergantian.


"Tapi, Tu ... Pak Dirga harus tahu. Gimana kalau lelaki itu nekad dan melakukan hal yang nggak diinginkan?" Rina tak mampu menyembunyikan kecemasannya.


Rina tak mau Dhatu menganggap remeh masalah ini. Apa lagi saat melihat ke dalam manik mata dan senyum menyeramkan yang lelaki itu pamerkan tadi, membuat Rina merasa resah hanya dengan menatap tatapan mata lelaki itu. Yang ia tahu, lelaki seperti Alvin tak kan segan melakukan hal gila lainnya demi mencapai tujuannya. Rina sendiri yang tak memiliki hubungan apa pun dengan lelaki itu, seketika merasa ngeri. Ia khawatir, jika tak ada yang menjaga wanita itu dan Alvin kembali, maka tak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan sahabatnya.


Dhatu menggeleng dan menggenggam erat tangan Rina, menatap sahabatnya dengan tatapan penuh permohonan. Dirinya sudah cukup merepotkan Dirga dan ia tak lagi ingi menambah beban lelaki itu. Ia yakin dapat mengatasi Alvin sendiri. Dhatu tahu, jika Alvin tak mungkin berubah menjadi pria jahat yang rela menyakitinya. Walau bagaimanapun pernah ada kebahagiaan di antara mereka da Dhatu percaya, jika setiap kisah yang mereka lalui bersama, akan membuat lelaki itu sadar, jika semuanya telah berakhir. Tak ada sesiapapun yang bisa mengulang kembali kisah yang telah usai.

__ADS_1


"Iya, Tu. Aku setuju sama Rina. Sebaiknya, Pak Dirga tahu tentang mantanmu. Aku khawatir apa yang akan dilakukannya padamu? Dia aja niat banget ngikuti kamu sampai ke sini, gimana kalau dia lihat kamu sendiri dan melakukan hal gila lainnya?" Krisna sama cemasnya dengan Rina. Kedua orang itu saling bertatapan dan tak dapat menyangkal kekhawatiran yang menguasai hati mereka.


Setelah keluar dari perusahaan, maka kesempatan Dhatu berkumpulan bersama Krisna dan Rina pun menjadi berkurang. Bagaimana jika wanita itu sendirian dan Alvin yang telah kehilangan akal hadir? Tak ada sesiapa pun yang akan menyelamatkan Dhatu seperti hari ini. Hari ini lelaki itu hanya menguntit dan berbicara pada Dhatu, bagaimana jika kedepannya keputusasaan membuat lelaki itu lebih nekad lagi? Oh Tuhan ... membayangkannya saja membuat Krisna ketakutan.


Dhatu menggeleng dan menatap keduanya bergantian. "Jangan, aku mohon," ucap Dhatu menatap keduanya memohon, "aku janji, nggak akan ke mana-mana sendirian. Aku akan minta ditemani dan nggak akan memberikan kesempatan bagi Alvin untuk menyakitiku. Lagipula, dia bukan orang yang seperti itu."


Rina mendesah gusar. "Kamu memang terlalu naif, Tu!" wanita itu berdecak sebal, "apa kamu pikir, manusia nggak bisa berubah? Lagian, dia tampak mengerikan tadi. Apa memang dari dulu dia semengerikan itu?" Rina menatap Dhatu tak percaya.


"Tu ... lihat, dia udah berubah. Kamu nggak takut dia akan melakukan hal lebih gila lagu," ucap Krisna yang merasa geram dengan pemikiran positif Dhatu pada semua orang di sekitarnya. Di dunia ini tak hanya diisi dengan orang baik, masih ada beberapa yang memiliki hati yang kelam dan juga jahat. Wanita itu tak seharusnya menyamakan semua orang, tak semua manusia terlahir baik.


Dhatu menoleh pada Krisna. "Aku janji, kalau dia macam-macam lagi, aku sendiri yang akan memberitahukannya pada Mas Dirga. Kali ini, biarkan semua ini disimpan di antara kita aja ya?" Dhatu menatap keduanya secara bergantian. Rina dan Krisna saling bertatapan, sama-sama mengembuskan napas gusar, dan mengangguk serempak.


"Tapi janji, kalau ada apa-apa langsung ngomong sama suamimu dan jangan segan-segan minta bantuan kami," ucap Rina penuh penekanan sembari menatap Dhatu tajam. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada Dhatu dan tak main-main dengan perkataannya barusan.

__ADS_1


Dhatu tersenyum lebar dan mengangguk-angguk antusias, ia memeluk tubuh Rina erat. "Makasih banyak ya, Rin. Kamu memang yang terbaik," ucap Dhatu girang.


"Oh ... jadi cuma Rina aja nih yang terbaik? Aku nggak diberikan pujian yang sama?" Krisna menaikka sebelah alisnya dan menatap Dhatu penuh tanya. Dhatu terbahak melihat sikap iri lelaki yang sudah dianggapnya kakak kandung itu.


"Tentu saja Mas Krisna juga yang terbaik. Kalian yang terbaik," ucap Dhatu tersenyum pada keduanya.


"Kamu mau pulang aja atau lanjut nonton, Tu? Kalau kamu masih khawatir dan takut, baiknya kamu nonton. Minta jemput sama Pak Dirga, bilang aja kalau aku mendadak nggak enak badan," ucap Rina mengelus-elus lengan Dhatu, "kamu masih terkejut, kan?"


"Iya, Tu. Kalau memang masih shock banget, baiknya kamu pulang aja, Tu. Kita batalkan aja rencana hari ini dan kami akan mengantarmu pulang." Krisna menimpali.


Dhatu dengan cepat menggeleng tidak setuju. "Enak aja ... aku itu kuat, nggak selemah itu," ucap Dhatu menyombongkan diri, "lagian, nantinya kita akan jarang bertemu, jadi aku nggak mau melewatkan kesempatan ini."


Mereka semua berbagi senyum. Ya, setiap waktu harus dihargai karna waktu adalah hal yang tak mungkin bisa kita dapatkan kembali. Sekali kehilangan, maka kau tak pernah bisa mengulangnya lagi. Tak lama makanan mereka tiba dan segera disajikan di meja. Ketiganya bersantap dengan gembira seakan kejadian yang sempat mereka perdebatkan hanyalah hal yang tak lagi memiliki arti apa pun. Krisna dan Rina sudah mulai larut dalam obrolan, sedang Dhatu tak mampu berhenti memikirkan tentang Alvin dan bagaimana caranya membuat lelaki itu sadar jika apa yang ada di antara mereka telah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2