Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Aku Hanyalah Manusia Biasa


__ADS_3

Kedatangan Om Mirko membuat keduanya senang, mereka segera menuntun lelaki paruh baya itu menuju kamar Kana. Di perjalanan menuju kamar Kana, Dirga menceritakan semua yang dialami oleh wanita itu, Om Mirko mengangguk-angguk, seakan tengah mendiagnosa permasalahan Kana dari keterangan Dirga. Dhatu yang berjalan di depan tak melihat Dirga yang menghentikan langkah sebentar dan membisikkan sesuatu pada pria paruh baya itu.


Lelaki itu menepuk pelan pundak Dirga. "Tenang, Ga. Om tahu benar apa yang harus dilakukan. Om akan memberitahukan semua hasilnya nanti. Berdoalah, jika apa yang dialaminya, nggak seperti perkiraanmu."


Dirga tersenyum, mencoba mengusir pemikiran buruknya tentang Kana. "Makasih banyak, Om. Aku harap, Om bisa merahasiakan tentang ini dari Mama dan Papa. Om pasti tau benar, betapa Mama membenci Kana."


Om Mirko mengangguk mengerti. "Mamamu membencinya bukan tanpa alasan, Dirga. Kamu harus menanyakan semuanya pada mamamu, Om nggak ada hak untuk menceritakan apa yang Om ketahui."


Dirga tersenyum dan mengangguk mengerti. "Kali ini, aku sangat membutuhkan bantuan, Om."


Lelaki paruh baya itu kembali mengangguk, tersenyum menenangkan dan menepuk-nepuk pundak Dirga. "Serahkan semuanya pada, Om!"


Dirga kembali mengucapkan terima kasih dan keduanya melanjutkan langkah mereka yang tertinggal jauh dari Dhatu. Dirga tahu, jika tak seharusnya, ia menyelipkan permintaan itu pada Om Mirko, namun insting Dirga tak pernah salah. Ia tahu, jika firasatnya kali ini benar. Inilah saatnya bagi Dirga untuk mencari bukti atas dugaannya. Dirga hanya ingin yang terbaik bagi dirinya dan juga Dhatu, Dirga harus melakukan semua ini, agar apa yang ada di antara mereka menjadi jelas dan tak ada seorangpun yang akan tersakiti.


Saat tiba di kamar, Kana tak mamou menyembunyika kekhawatiran dan juga rasa takutnya saat melihat seorang pria yang tak dikenalnya di samping Dirga. Ia dapat menebak, jika pria itu adalah dokter yang dimaksudkan oleh Dirga. Kana meremas-remas perutnya, masih sakit, namun ia tak mahu dokter keluarga Dirga memeriksanya. Dhatu duduk di sebelah Kana dan menggenggam tangan Kana erat-erat. Dhatu tersenyum menenangkan.


"Dokternya udah datang, kamu diperiksa dulu ya, Kana."


Kana menggeleng cepat dan menatap Dhatu memohon. "Aku nggak mau, Tu. Aku baik-baik aja. Percayalah kalau aku udah sembuh dan nggak perlu diperiksa lagi."

__ADS_1


Dhatu mengusap-usap lengan wanita itu. "Apa yang kamu takutkan Kana. Santai aja, ini untuk kebaikanmu," ucap Dhatu seraya berdiri, memberikan tempat bagi Om Mirko untuk duduk dan memeriksa Kana.


"Apa yang kamu rasakan, Kana?"


Kana meremas-remas ujung kaos yang dikenakannya. Ketakutan terlihat jelas pada wajahnya, keenganannya untuk diperiksa membuat Dirga semakin yakin dengan dugaannya pada Kana. Dirga tersenyum tipis. Ia segera duduk di sisi lain dari tempat tidur dan menggenggam tangan Kana.


"Kamu mau aku marah lagi, atau membiarkan Om Mirko memeriksamu?" walau senyum terukir di wajah Dirga, akan tetapi wajah lelaki itu tampak dingin, membuat ketakutan merasuki setiap relung hati Kana.


Kana tak merespon dan Dirga memberikan kode pada Om Mirko untuk memulai pemeriksaannya. Om Mirko menghentikan gerakannya saat Kana meletakkan tangannya di udara, seakan meminta lelaki itu untuk menunda pemeriksaannya. Kana menoleh pada Dirga dan menatap lelaki itu dengan tatapan sendu.


"Aku mau diperiksa, kalau kamu menemaniku dan terus menggenggam tanganku seperti ini," ucap Kana penuh permohonan.


Dirga tersenyum ketika mendapatkan persetujuan dari Dhatu, lalu pria itu menoleh ke arah Kana. "Tenang aja. Aku akan ada di sini," ucap lelaki itu datar.


Kana tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih. Kana melirik Dhatu dan mengucapkan perkataan yang sama. Tak mengapa bila lelaki itu membekukan hatinya dengan sikap dinginnya, saat ini, Kana hanya ingin menikmati kesemuan yang tercipta di antara mereka. Walau hanya sesaat, dirinya akan berpuas diri. Apa yang diharapkannya. Toh, cepat atau lambat semuanya akan segera terbongkar. Ini bisa saja kesempatan terakhir baginya untuk mencuri sedikit kehangatan dari genggaman tangan lelaki itu. Setelah semuanya diketahui, mungkin mereka tak akan pernah bertemu lagi. Biarlah merasakan kebahagiaan walau dibenci seumur hidup akan menjadi harga yang harus dibayarkannya demi menikmati sesuatu yang semu itu. Tak mengapa, memang begitulah cara hati bekerja. Lebih memilih tersakiti, demi kenikmatan sesaat.


"Bagian mana yang terasa sakit dan aoanyang kamu makan selama dua puluh empat jam terakhir?"


Pertanyaan Om Mirko membuat Kana menoleh pada sumber suara. Kana menjawab semua pertanyaan Om Mirko dengan kooperatif. Sementara tangan Dirga masih menggenggam tangannya. Om Mirko mulai memeriksa tekanan darah Kana. Dhatu hanya bisa berdiri di belakang Dirga dan mengamati pemeriksaan yang tengah berlangsung itu dengan saksama. Ia tak mampu menekan pedih yang menyerang hati, ketika secara tak sengaja melihat tangan keduanya yang saling bergenggama. Demi menekan perasaannya, Dhatu berjalan ke arah Bi Ina yang setia menunggu di ambang pintu.

__ADS_1


"Bi, tolong buatkan minum untuk kami. Aku akan membantu Bibi membawanya."


Dirga yang mendengar percakapan wanita itu dengan Bi Ina, menoleh ke arahnya. "Kamu mau ke mana, Tu?"


Dhatu mencoba mengukir senyum di wajahnya, menutupi rasa sakit yang menjalar perlahan tanpa bisa dicegah.


"Aku akan membantu Bi Ina di dapur. Sekalian nyialin cemilan untuk disantap nanti."


"Nyonya Dhatu nggak perlu membantu saya. Saya bisa mengerjakan semuanya sendiri," ucap Bi Ina yang menjadi merasa bersalah karna Dhatu mau membantunya.


Dhatu mengelus lengan Bi Ina dan tersenyum manis. "Nggak pa-pa, Bi. Biarkan aku membantu," ucap Dhatu memaksa, wanita itu menoleh ke arah Dirga yang masih memandangnya.


"Aku tinggal bentar ya, Mas?"


Dirga meneliti wajah Dhatu. Ia tahu, jika melihatnya menggenggam tangan wanita lain, pasti membuat Dhatu merasa terluka, namun Dirga tak bisa menolak. Ia harus bekerjasama agar tujuanya bisa tercapai. Ia tak boleh memperlihatkan kecurigaannya, agar Kana tak mengetahui niat dan permintaan yang dibisikkannya pada Om Mirko. Dirga ingin segera menyelesaikan semua permasalahan di antara mereka.


Dirga tersenyum dan mengangguk. Mungkin, memang lebih baik Dhatu pergi agar wanita itu bisa menenangkan hatinya. "Pergilah, aku akan menjaga Kana di sini."


Dhatu segera menuntun Bi Ina untuk keluar dari kamar dan menuju dapur. Hatinya terlalu lemah, membuatnya sadar, jika memang dirnya hanyalah manusia yang tak berdaya bila dihadapkan dengan pemandangan yang menyakitkan mata.

__ADS_1


__ADS_2