
Penyelidikan pihak berwajib menemukan jika lelaki yang bernama Ardian, lelaki yang sempat berkelahi dengan Dirga di water park beberapa hari lalu lah yang melakukan penusukan pada Dirga. Motifnya karna dendam dan merasa dipermalukan di tempat umum. Lelaki itu sengaja mengikuti keduanya dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan aksi balas dendamnya. Saat keduanya berjalan santai di tepi pantai yang sepi, lelaki itu melihat peluan dan melakukan aksinya.
Dhatu tak lagi berbelas kasih, ia menuntut lelaki yang sudah mencelakai lelakinya dengan hukuman setimpal. Bagaimana jika Tuhan mejemput Dirga untuk selamanya hanya karna lelaki itu ingin membalaskan dendam? Ia tak bisa membayangkan bagaimana dirinya tanpa Dirga. Jika saja Ardian tak berulah, maka Dirga tak 'kan memukulinya di tempat umum. Namun begitulah manusia, pelaku kerap merasa menjadi korban, pelaku yang minta dikasihani, dan pelaku pula yang bersikap Maha benar.
Dirga sudah boleh keluar dari rumah sakit setelah seminggu dirawat di sana, sedang Dhatu harus memalsukan surat keterangan rawat inap agar mendapatkan izin dari perusahaan. Ia bisa saja menggunakan cara mudah, namun semua itu tak terasa benar. Dirinya pun berpikir untuk keluar dari pekerjaan agar bisa mengurus dirga, akan tetapi rasanya ia butuh kegiatan untuk membunuh waktu. Terbiasa bekerja, membuatnya tak bisa duduk diam di rumah. Hati Dhatu dilanda keresahan.
Tatapannya kosong, menatap keluar jendela. Netranya bahkan tak memperhatikan kendaraan yang tengah berlalu lalang. Hari ini, keduanya kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang mereka diantar oleh supir keluarga, Pak Jamal. Sejak turun dari pesawat. Kenyataan menarik Dhatu kembai ke alam mimpi. Kepahitan membuatnya sadar, jika hubungan mereka masih terasa pelik. Pernikahan, pekerjaan, dan banyak hal yang membuat semuanya terlihat rumit.
Dirga yang melihat Dhatu termenung di samping, menggenggam tangan Dhatu, reflek wanita itu menoleh dan tersenyum tipis.
"Kamu mikirin apa?"
Dhatu menggeleng. "Nggak ada."
Dirga mengusap lembut wajah wanita itu. "Bohong itu dosa," ucapnya sembari tersenyum, "Ceritain aja ke aku. Aku akan bantu sebisaku," lanjut lelaki itu.
__ADS_1
"Aku mau berhenti kerja." Dhatu menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan, "gimana menurutmu, Mas?"
"Bukannya kamu menyukai pekerjaanmu? Dulu, saat ku suruh berhenti, kamu kekeh mau tetap bekerja, lalu kenapa tiba-tiba malah pengen berhenti?" Dirga menatap Dhatu penuh tanya.
Selama ini, diam-diam dirinya kerap memperhatikan Dhatu. Entah karna tak ingin wanita itu membuat masalah di kantor atau karna faktor lain. Otak dan hatinya tak mengerti mengapa ia mau melakukan hal konyol itu. Ia sengaja melewati ruangan wanita itu dan mengintip sekilas. Dirga kerap melihat Dhatu tersenyum saat menghandle panggilan masuk. Wanita itu tampak menikmati pekerjaannya, membuat Dirga mulai mengerti mengapa wanita itu ngotot untuk tetap bekerja. Dhatu yang giat bekerja, ke sana- ke mari mengantar berkas, tanpa sadar membuat Dirga mula terbiasa.
Mungkin, karna semua perhatian itu, Dirga tanpa sadar telah jatuh hati. Ia pun tak tahu alasannya. Kita tak memerlukan alasan untuk mencintai seseorang, bukan? Rasa itu muncul begitu saja, tanpa permisi, dan memenuhi setiap relung hati. Kita tak memerlukan alasan untuk memperhatikan seseorang, semua terjadi begitu saja.
Dhatu mengangguk. "Tentu saja. Aku menyukai pekerjaanku. Ya ... walaupun terkadang sulit karna banyak konsumen yang marah-marah, tapi rasanya menyenangkan," Dhatu tersenyum mengingat serangkaian kejadian di tempat kerja. Meski tak banyak orang yang menyukainya, akan tetapi ada Krisna dan beberapa orang yang masih baik. Selalu menghibur dan menjadikan amukan para pelanggan sebagai bahan candaan. Rasanya, ia ta rela kehilangan kebersamaan itu. Dirinya tak mempunyai banyak teman, hingga berada di tempat kerja kerap membuatnya merasa tenang.
Dhatu mengigit bibir bawah. Sebagian alasan itu benar, namun bukan hanya tak enak. Ia tak bisa berbohong dan takut jika banyak orang bertanya alasan ketidak hadirannya selama beberapa hari belakangan. Bagaimana jika dirinya secara tak sengaja menceritakan apa yang terjadi pada suaminya? Mana mungkin ada yang percaya, jika dirinya telah menikah. Apalagi suaminya adalah CEO di perusahaan itu. Sungguh, Dhatu tak tahu jika efek sebuah rahasia bisa sebesar ini.
"Bukan karnamu aja. Hanya saja ..."
Dirga menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya dan menatap ke dalam manik mata Dhatu. "Jangan khawatir ... aku sudah mengurus semuanya. Memastikan surat rawat inap yang kamu kirmkan ke email perusahaan adalah asli. Nggak akan ada yang tahu dan mencurigainya, aku udah bilang langsung ke bagian HR."
__ADS_1
Dhatu menatap Dirga nanar. "Kamu langsung yang turun tangan?"
Dhatu tak percaya, jika lelaki itu tak pernah lelah menggunakan kekuasaan tanpa memikirikan dirinya. Mungkin terlihat mudah, namun efeknya akan dirasakan Dhatu seorang. Tidakkah lelaki itu memikirkannya terlebih dahulu sebelum bertindak? Tak selamanya kekuasaan seorang mampu menyelesaikan semua permasalahan yang ada.
Dirga mengangguk bangga, namun Dhatu menatapnya kesal. "Kamu istriku, jadi biarkan aku mengurusmu." senyum Dirga sirna begitu melihat wajah masam Dhatu, "Kenapa? Kamu nggak suka dengan apa yang kulakukan?"
"Apa yang akan mereka pikirkan nanti tentangku, Mas? Bagaimana bisa seorang CEO mengurusi staff bawahan sepertiku?" erang Dhatu putus asa.
"Begitu pedulinya sama pemikiran orang lain?" Dirga menatapnya lekat, "apa yang kamu takutkan dari pemikiran orang lain, Tu?"
Yang dirinya lakukan hanyalah memudahkan semua urusan Dhatu. Berusaha membuat wanita itu tak tertekan, namun mengapa wanita itu tampak tak suka? Ia hanya ingin melakukan perannya sebagai suami dengan baik. Lelaki yang bertanggungjawab dan menjaga wanitanya dengan baik. Namun anehnya, Dhatu malah terlihat marah. Apa sebegitu salahnya seorang suami mau membantu istrinya sendiri?
"Bukan begitu, Mas. Kamu hanya akan memperparah keadaan. Kamu ..." Dhatu membiarkan perkataannya menggantung di udara, lebih tepatnya, ia tak tahu apa yang harus diucapkannya. Bukannya tak bersyukur, hanya saja bantuan Dirga pasti akan membuat banyak tanya hadir di benak banyak orang. Ia tak mau menjelaskan dan rasanya tak punya kuasa untuk memberitahukan kepada seluruh dunia jika lelaki itu adalah suaminya. Lelaki itu miliknya. Dirga tak mengerti keadaan di antara mereka.
Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ia melepas tangannya dari Dhatu, lalu membuang pandangan ke jendela samping. "Terserahmu aja, Tu."
__ADS_1
Dhatu tahu jika lelaki itu pasti marah. Dirga tak berada di posisinya. Ia merasa kerdil dan lemah walau perasaan mereka saling berbalas dan status mereka sah di mata hukum dan agama, akan tetapi di lain sisi, pernikahan mereka masih dirahasiakan dari banyak orang. Ia tak mau membuat kehidupan di kantor mereka semakin sulit.