
Dhatu masih sibuk dengan pikirannya, hingga Dirga riba dan menyentuh pundaknya. Wanita yang tak sempat bertanya pada Dhatu tersenyum kikuk. Ia merasa ada yang salah, hingga membuat Dhatu terdiam karna pertanyaannya. Dirga melirik staff toko itu dan bertanya. "Ada apa, Mbak?"
Dhatu memeluk lengan Dirga. "Mbaknya mau bantuin aku milih baju bayi, Mas."
Dirga ber-oh-ria. Dhatu yang sudah mampu menguasai dirinya mulai berbicara pada staff toko dan mencairkan suasana. Ia bertanya tentang bahan pakaian dan juga model mana saja yang netral agar bisa dikenakan oleh bayi berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Dirga mengamati Dhatu dalam diam. Ia menikmati pemandangan itu dan pikirannya mulai membayangkan apakah wanita itu akan lebih sibuk dari sekarang jika dirinya yang mengandung. Semua pemikiran itu membuat senyum Dirga mengembang. Akan ada saatnya di mana mereka akan disibukkan dengan bayi mereka sendiri.
***
Dhatu dan Dirga mengantar Kana pada bungalow dan menjelaskan banyak hal tentang tempat itu. Hari yang dinanti akhirnya tiba. Kana tinggal bersama mereka. Dhatu memberikan pakaian-pakaian bayi yang dibelinya beberapa hari lalu pada Kana. Wanita itu terdiam sejenak, lalu senyumnya mengembang melihat pakaian bayi yang tampak menggemaskan. Ia tak menyangka Dhatu telah menyiapkan banyak hal untuk menyambut kedatangannya. Harusnya, dirinya tak diperlakukan sebaik itu, ada perasaan aneh yang menyeruak masuk ke dalam hati Kana.
"Istirahatlah, Kana. Bi Ina, akan membawakan makananmu nanti," ucap Dhatu mengelus lengan wanita itu. Kana menatap Dhatu sekilas. Ia ingin mengucapkan terima kasih, namum lidahnya terasa kelu. Antara gengsi dan juga malu.
"Ya, istirahat dulu. Kalau ada apa-apa, bilang ke Bi Ina agar Bi Ina menyampaikannya pada kami. Jika ada yang kurang, katakan aja." Dirga masih sama dinginnya pada Kana, membuat Kana tersenyum miris.
__ADS_1
Apa yang dirinya harapkan? Lelaki itu akan memperlakukannya dengan baik, hanya karna dirinya mengatakan tengah mengandung bayinya? Ah ... rasanya tak mungkin semua itu terjadi. Dirga bukanlah lelaki yang dulu begitu mendambanya. Tatapan mata penuh cinta yang lelaki itu tujukan pada Dhatu, membuat Kana mau tak mau mulai menerima kenyataan yang ada. Inilah saatnya untuk melepaskan semua rasa. Bukankah, sedari dulu hanya uang yang dipikirkannya? Lalu mengapa ia harus bersedih hanya karna seorang lelaki yang telah mencampakannya.
"Bisa aku minta sesuatu?" ucap Kana dengan tatapan memohon.
Sebelum datang ke rumah ini. Kana sudah menekankan hatinya sendiri untuk tak jatuh dalam perangkap keluarga sempurna yang Dhatu dan Dirga tunjukkan. Dirinya hanyalah wanita yang terbuang, tak pernah diinginkan, maka ia tak boleh membiarkan dirinya terbuai dalam kebaikan keduanya. Ia akan menganggap anak dalam kandungannya sebagai barang guna mendapatkan uang yang banyak. Dengan seperti itu, setelah semua ini berakhir, Kana bisa pergi tanpa membawa beban apa pun. Bayinya akan bahagia tumbuh di keluarga penuh cinta, tak akan menjalani nasib yang sama sepertinya.
"Apa yang kamu inginkan?" Dirga menatap Kana tajam. Ia tak ingin terjebak dalam permainan wanita itu.
Kana tersenyum. Sebenarnya, ia lelaki memainkan peran jahat ini. Ia hanya ingin berdamai demi mereka semua. Seminggu sebelum datang, Kana telah memikirkan banyak hal. Tentang Dirga, masa lalu, dan juga ibunya. Kana memutuskan untuk tak menjadi seorang yang egois seperti ibunya. Ia sadar jika dirinya tak mampu mengubah masa lalu, akan tetapi ia bisa memperbaiki masa depan. Ia akan menjadi ibu yang baik dengan memberikan masa depan yang baik bagi anaknya. Ya, ia sadar, inilah saatnya menyerah.
Dirga berdecak sebal. Untuk apa wanita itu meminta sesuatu dengan cara mengungkit tentang masa lalu di antara mereka. Harusnya bilang saja minta dibelikan tanpa embel-embel sepotong kisah tentang cerita mereka yang telah usai.
Dhatu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Dirinya terlalu mengenal Dirga, dengan melihat raut wajah lelaki itu, Dhatu dapat mengetahui kekesalan yang lelaki itu rasakan. Sungguh, dirinya oun tak menyukai fakta jika perna ada cerita lama di antara keduanya, akan tetapi apa yang bisa ia lakukan? Dirinya tak mungkin bisa menghapus masa lalu, bukan?
__ADS_1
"Kamu lagi ngidam, Kana?" tanya Dhatu lembut, mencoba mencairkan ketegangan di antara mereka semua. Kana tersenyum kikuk dan mengangguk pelan.
Dirinya ingin sedikit diperhatikan walau tak memiliki hak. Ia hanya ingin menikmati kebahagiaan singkat. Kana sadar, setelah melihat kilas balik masa lalunya yang tak pernah merasa bahagia, jika satu-satunya pria yang menghargai dan menjaganya dengan baik adalah Dirga. Oleh karna itu, Kana menyerah. Ia akan mencoba menerima keadaan yang ada, akan tetapi, ingin sesekali ia menikmati apa yang tak mungkin bisa ia miliki selamanya.
"Kami akan membelikanmu makanan itu," ucap Dhatu sembari tersenyum, lalu mengguncang pelan lengan Dirga, "Ya kan, Mas?" lanjutnya menatap Dirga dengan tatapan memohon.
Dirga luluh. Ia tersenyum dan mengangguk pelan, membuat senyum Dhatu mengembang. Semudah itu Dhatu mampu membuatnya melakukan apa pun. Hanya dengan tatapan memohon dan senyum manis, maka Dirga tak bisa menolak keinginan istrinya. Kana tersenyum tipis menyaksikan pemandangan di depannya. Memutuskan tinggal berdekatan dengan keduanya membuatnya tahu, jika inilah konsekuensi yang harus diterimanya. Menguatkan hati dan menekan perasaannya sendiri.
"Makasih, Mas," ucap Dhatu memeluk erat tubuh suaminya, lalu ia mengarahkan pandangan pada Kana, "kamu mau ikut?"
Dengan cepat Kana menggeleng. Ia tak mau melihat kebersamaan keduanya lebih lama lagi. Kana tak ingin semakin tersiksa dengan semua penyesalan yang menggerogoti hati. Jika saja, dirinya mampu melihat ke arah Dirga, tidak pada hartanya. Mungkin dirinya kini berada di posisi Dhatu. Tertawa bahagia dan memeluk erat tubuh Dirga. Memiliki lelaki itu seutuhnya dan dengan bangga memamerkan pada dunia tentang cinta mereka. Ya ... andai saja dirinya dapat memutarbalikkan waktu, mungkin kini, ia tak 'kan tenggelam dalam penyesalan yang menyakitkan. Namun bukankah memang begitu cara hati bekerja, merasa penting begitu kehilangan, merasa ingin begitu dibuang. Sungguh, hati itu penuh misteri.
"Kalau begitu, kami pergi dulu, " ucap Dhatu berpamitan. Kana tersenyum, mengangguk dan mengucapkan kata 'hati-hati' pada keduanya.
__ADS_1
Dalam diam, Kana mengamati punggung mereka yang semakin menjauh. Hanya melihat tubuh keduanya saling berdekatan membuat Kana merasa begitu bodoh dengan perasaannya sendiri. Keduanya tampak serasi, dirinya merasa kerdil melihat kekuatan cinta keduanya. Tanpa sadar, air mata Kana mengalir, perih menghantam bathinnya. Hatinya diselimuti kesedihan tiada akhir, menyesakkan dadanya. Diriny yang tek pernah mencintai ataupun dicintai, tak pernah tahu, jika cinta bisa sesakit ini? Kana tak pernah tahu, bagaimana rasanya cinta sebelum kehilangan cinta yang selama ini setia berada di sisinya. Kana tertawa miris dan menutup wajahnya yang menangis dengan sebelah tangannya.
Mengapa dadaku terasa sesak?