Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kamu Yang Ku Mau


__ADS_3

Dhatu menjelaskan apa yang terjadi pada Manager restoran tempat mereka berada, sedang Dirga ditemani Abra menunggu di salah satu kursi yang terletak tidak jauh dari tempat Dhatu berbicara. Dirinya sengaja tak membiarkan Dirga ikut masuk dalam pembicaraan mereka, takut-takut amarah lelaki itu kembali tersulut. Dhatu meminta maaf dan akan membayar ganti rugi karna kerusakan yang suaminya sebabkan. Ia pun tak mau memperpanjang masalah dengan lelaki yang dipukuli Dirga tadi dan semuanya diselesaikan secara damai, dengan permintaan maaf dari lelaki eksotis tadi padanya.


Manager restoran tersebut maklum dan berkata, suami mana yang tidak marah jika istrinya hendak dilecehkan. Manager tersebut pun memuji betapa berani dan besar cinta yang suami Dhatu miliki untuknya. Dhatu melirik ke arah Dirga saat mendengarkan perkataan Si manager, tatapan mereka bertemu, dan senyum lelaki itu menular padanya. Hatinya berdesir hangat setiap kali pandangan mata mereka bertemu. Jantungnya terasa asing karna debarannya yang tak menentu. Lelaki itu membuat perasaannya kacau. Benarkah sebesar itu cinta yang lelaki itu miliki untuknya?


"Baik, Bu ... kalau begitu, saya permisi," ucapan lelaki paruh baya itu membawa Dhatu kembali ke alam nyata. Dhatu menoleh, mengangguk sekilas, dan mengucapkan terimakasih.


Dhatu kembali berjalan menghampiri Dirga. Tatapan mereka beradu, tak bisa lepas. Semakin dekat langkah membawanya pada lelaki itu, maka semakin cepat pula debaran jantungnya. Rasa yang tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata. Dirga masih terus menatapnya hingga ia duduk di hadapan lelaki itu, pandangan mata lelaki itu membuatnya salah tingkah.


"Ada sesuatu di wajahku?"


Dirga tersenyum, lalu menggeleng. "Kamu cantik banget, makanya banyak cowok iseng kayak tadi. Aku beneran nggak boleh ninggalin kamu sendirian atau mungkin kamu harus di rumah aja, jadi cukup aku yang mengagumi kecantikanmu."


Mata Dhatu terbelalak kaget, lelaki itu terlalu memujinya. Sedetik kemudian, rasa panas menjalar pada kedua pipinya dan ia yakin, jika pipinya kini sudah memerah karna lelaki itu.


Abra yang merasa bagai obat nyamuk pun segera berdiri. "Saya akan menunggu di mobil ya, Bu, Pak. Barang-barangnya akan saya bawa sebagian," ucap pemuda itu sembari membawa tas ransel hitam milik Dirga. Lelaki itu segera beranjak pergi begitu Dirga mengangguk dan mengucapkan silahkan padanya.


Dhatu meringis menatap kepergian pemuda itu, lalu menoleh pada Dirga. "Kamu gombal mulu sih, Mas. Abra pasti risih."


Dirga tergelak. "Siapa yang gombal? Itu kenyataannya, kok."


Dhatu memutar mata, tak ingin berdebat lagi dengan lelaki itu. Ia kembali memeriksa wajah tampan Dirga yang kini terlihat lebam. Ia menyentuh pipi lelaki itu hati-hati.

__ADS_1


"Pipimu harus dikompres pake es."


Dirga menggenggam tangan Dhatu yang ada di pipinya dan menatap wanita itu lekat. Dirinya merasa beruntung memiliki Dhatu, ia mengarahkan tangan wanita itu ke depannya, lalu mengecup punggung tangan wanita itu dengan mata yang masih tertuju pada Dhatu. Jantung Dhatu berpacu liar karna perbuatan lelaki itu.


"Aku beruntung memilikimu," ucap Dirga. Senyum tak mampu dicegah, kedua sudut bibir Dhatu terangkat sempurna. Dirinya merasakan yang sama. Beruntung memiliki Dirga di sisinya.


"Aku juga, Mas."


Betapa hebatnya mata, dapat mengatakan banyak hal yang tak bisa diucapkan mulut. Menjelaskan perasaan yang tak mampu diungkap. Tatapan mata lelaki itu membuat Dhatu yakin, jika lelaki itu memang telah berubah. Kelembutan yang tak pernah ia saksikan sebelumnya dan kesungguhan dari setiap perkataannya. Ia pikir, dirinya pun telah jatuh cinta pada lelaki itu.


Menit demi menit telah berlalu, keduanya sudah tiba di kamar hotel dan membatalkan perjalanan yang seharusnya mereka lakukan setelah mengunjungi water park. Dhatu meminta Dirga mandi terlebih dahulu dan tak lama kemudian lelaki itu sudah keluar hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Dhatu menelan ludah dengan susah payah menyaksikan pahatan indah tubuh lelaki itu.


Ia menggeleng. Dirinya tak boleh memikirkan hal yang tak pantas. "Duduk di sini, Mas. Aku udah minta es tadi. Biar dikompres dulu dan aku harus mengobati sudut bibirmu yang terluka."


Dirga tertawa kecil melihat kegugupan Dhatu yang tak ia sembunyikan. "Kamu gugup?" tanya Dirga sembari meraih tangan Dhatu dari wajahnya, lalu menggenggam tangan wanita itu, "mau tahu obat apa yang paling mujarab untuk menyembuhkan lukaku?"


Dhatu mengangguk, lalu menoleh pada obat yang diletakkannya di nakas, Dirga mengikuti arah pandang Dhatu dan tergelak pelan. Sungguh, wanita itu terlalu serius jika berbicara mengenai luka.


"Obat paling mujarab adalah kamu, Tu."


Dirga mengarahkan wajah Dhatu ke arahnya, lalu menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya. Ia mempertipis jarak di antara wajah mereka, lalu mengecup bibir Dhatu. Kecupan-kecupan ringan untuk memastikan Dhatu tak 'kan menolaknya. Saat dirasa wanita itu menginginkan ciuman tersebut, ia melahap bibir wanita itu dengan lembut, lidah keduanya saling beradu, bibir mereka saling mengecap dan bergerak dengan irama yang sama. Tangan Dirga mengusap punggung Dhatu, sedang Dhatu yang ikut terbuai pun memeluk erat tubuh lelaki itu.

__ADS_1


Dirga menghentikan ciumannya, ingin meminta izin untuk mendapatkan haknya. Ia ingin memiliki Dhatu sepenuhnya. Ia ingin menjadi suami sesungguhnya bagi wanita itu, bukan sekedar bayangan ataupun status belaka. Ia ingin menjadikan hubungan mereka sebagai kenyataan, tak hanya semu atau sekadar ilusi yang akan segera menghilang.


"Boleh aku memilikimu seutuhnya?" Dirga menatap ke dalam manik mata Dhatu, mencari persetujuan atas permintaannya.


Jantung Dhatu berdebar kencang. Malam pertama yang tertunda sebulan lebih lamanya, haruskah ia berikan sekarang? Apa setelah ini, mereka akan saling memiliki seutuhnya?


Dirga tersenyum. Mungkin memang dirinya selalu terburu-buru hingga membuat Dhatu ketakutan. Dirga segera menjauhkan wajah mereka. "Nggak pa-pa kalau kamu memang nggak siap."


Tanpa aba-aba Dhatu mengecup bibirnya, hanya kecupan sekilas yang membuat Dirga terkejut karna aksinya, namun hanya sesaat karna selanjutnya senyum lelaki itu menghiasi wajahnya, senyum yang menular pada Dhatu.


Dhatu menatap ke dalam manik mata lelaki itu, menelan saliva, lalu berbisik pelan, "Aku siap." Dhatu menunduk malu, "tapi, apa bibirmu nggak sakit?" lanjut Dhatu yang teringat luka Dirga dan segera memperhatikan bibir lelaki itu.


Dirga terkekeh pelan dan mempertipis jarak di antara wajah mereka."Kan udah kubilang, obat paling mujarab untukku adalah kamu."


Dhatu tersenyum malu-malu. Dirga menarik Dhatu untuk duduk di pangkuannya. Bersama wanita itu membuat dirinya begitu bahagia. Layakkah ia memiliki Dhatu seutuhnya? Akankah Dhatu menerima dirinya sebagai mana Dirga yang sudah menerima keberadaan Dhatu sebagai istri sahnya?


Dirga tak peduli. Ia akan membuat wanita itu jatuh cinta sepertinya.Ya, tak adil rasanya, jika dirinya sendiri yang terjebak dalam rasa itu.


***


Holla ... maafkeun kemarin absent. Hamba sedang tak enak bada, nih :(

__ADS_1


Semoga masih ada yang nungguin ya.


Makasih semuanya dan selamat membaca ^_^


__ADS_2