
Kana menggebrak meja di depannya, membuat Dhatu sedikit terkejut, namun tidak dengan Dirga dan juga Drew. Dirga tersenyum miring dan menatap wanita itu dingin. Suasana ruangan yang tegang, bertambah parah karna amarah yang tak lagi bisa ditahan oleh Kana. Dhatu menggenggam tangan Dirga erat, mencoba mengurangi amarah lelaki itu dan memintanya agar tak terpancing oleh sikap Kana. Dirga tersenyum lembut, mengangguk sekilas dan mengusap puncak kepala Dhatu. Pemandangan di depannya, membua hati Kana seakan terbakar. Harusnya, dirinya lah yang diperlakukan selembut itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, tak mau menerima kenyataan yang ada.
"Kamu mau menerima kesepakatan ini atau tidak, itu pilihanmu, tapi ingat, kalau aku nggak akan dirugikan dengan kehamilanmu." Dirga menatap Kana tajam, "lagipula, belum tentu anak yang kamu kandung adalah darah dagingku. Saat kita masih bersama, kamu juga menjalin hubungan dengan lelaki lain, jadi kamu nggak bisa membodohiku," lanjut Dirga mengeraskan rahang.
Setelah apa yang dilihatnya di Bali. Dirga meminta Drew menyelidiki Kana dan Dirga mengetahui, jika saat tak bersamanya, wanita itu kerap menemui beberapa lelaki kaya. Mau yang muda ataupun tua, Kana yang dulu ia pikir, melakukan semua itu karna acara sosial yang dilakukannya mulai meragu karna kedekatan yang dipamerkan wanita itu pada foto-foto yang dikirimkan Drew. Ia merasa begitu bodoh karna mempercayai Kana sepenuh hati, hingga tak sadar jika wanita itu memanfaatkannya. Tak pernah ada cinta di antara mereka.
"Baik, aku akan menerima kesepakatanmu karna anak ini adalah anakmu. Tapi dengan satu syarat." Kana tersenyum licik, lalu melirik Dhatu yang menatapnya penuh tanya.
"Anda nggak ada hak untuk mengajukan syarat di sini," ucap Drew menegaskan.
Kana menyandarka punggung pada sandaran kursi, melipat kakinya, dan menatap Dirga tajam. "Gimana menurutmu, Mas? Persyaratan yang kuajukan cukup mudah dan kamu nggak akan nerasa disusahkan."
"Apa syaratmu?"
Kana tersenyum lebar, senang karna Dirga mulai terpancing dalam permainannya. Kana akan memberitahu pada semua orang yang di ruangan itu, jika tak semudah itu menaklukkannya dan Kana bukanlah wanita yang mudah menyerah. Kana, besar di sebuah panti asuhan. Rumor mengatakan jika kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya. Ibu Kana adalah seorang kembang desa yang menjadi simpanan pengusaha kaya, menjadi simpanan awalnya memang mendebarkan, namun berakhir tragis. Ibu Kana hamil dan lelaki kaya itu membuangnya. Ibunya yang masih muda tak punya pilihan lain, selain meninggalkannya pada sebuah panti asuhan.
__ADS_1
Hidupnya sudah susah sejak kecil, membuat Kana tumbuh menjadi seorang yang tak memiliki hati. Tujuan hidupnya hanya satu, menjadi orang kaya dan menunjukkan pada kedua orang tuanya, jika tanpa mereka pun Kana bisa hidup mewah dan bahagia. Harta lah yang terpenting karna cinta tak ada yang abadi. Rasa itu bisa pergi dan menyakitkan. Yang ia butuhkan hanya uang yang banyak. Ia ingin menunjukkan pada semua orang, jika dirinya bahagia.
"Selama kehamilanku. Aku mau tinggal bersama kalian, di rumah yang sama dan mendapatkan perlakuan yang baik."
Permintaan Kana membuat semua yang ada di sana tampak terkejut. Dirga mengeraskan rahangnya, menatap Kana penuh amarah.
"Kau gila, Kana! Aku nggak akan mungkin menyetujuinya. Nggak masuk akal!"
Kana tersenyum penuh kemenangan. "Aku hanya memikirkan bayi ini," secara tiba-tiba wajah Kana menjadi sedih, "dia butuh kasih sayang dari ayahnya dan nggak mungkin aku tinggal sendiri di sini. Bagaimana jika sesuatu terjadi padaku dan bayi ini?"
"Apa hanya itu syaratmu?" tanya Dhatu lembut. Dirga menatap Dhatu nanar.
"Kamu nggak perlu mendengarkan permintannya, Tu. Dia itu penuh kepalsuan."
Dhatu megusap-usap lengan suaminya, meminta lelaki itu tenang. Ia tersenyum dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Kana tersenyum mengejek melihat sikap positif yang berusaha Dhatu tunjukkan. Waniti itu mempunyai hati yang lemah. Salah mengambil keputusan, maka kau akan terluka karnanya.
__ADS_1
"Ya hanya itu syaratku," ucap Kana tersenyum semanis mungkin. Senyum itu menular pada Dhatu dan Dhatu mengangguk.
"Kamu boleh tinggal bersama kami. Besok datanglah ke rumah dan aku akan mempersiapkan semua keperluanmu hari ini."
"Dhatu ..." Dirga mendesah gusar.
Dhatu tersenyum menenangkan. Dirinya adalah seorang wanita, walau belum mejadi ibu, ia tahu benar jika ibunyang mengandung membutuhkan perhatian lebih. Bagaimana jika tiba-tiba wanita itu membutuhkan dan tak ada seorang pun di dekatnya. Perjalanan rumah mereka ke tempat tinggal Kana memakan waktu sekitar empat puluh menit. Tentu saja, bukan keputusan yang bagus membiarkan wanita itu tinggal sendiri.
"Aku bisa mempekerjakan seseorang untuk membantu dan menjagamu dua puluh empat jam. Jad, kamu nggak harus tinggal bersama kami," Dirga masih tak bisa menerima keputusan Dhatu. Ia tahu bagaimana liciknya Kana dan tak mau pada akhirnya Dhatu lah yang akan tersakiti dengan membiarkan wanita itu tinggal bersama. Dirga tak tahu apa yang akan dilakukan Kana dan apa rencana wanita itu. Yang pastinya, ia tak menyukai ide tinggal bersama ini. Tidak masuk akal.
"Kamu mau membiarkan calon anakmu jauh dari ayahnya. Kamu nggak mau merasakan bagaimana perkembangannya di perutku? Moment ini nggak akan bisa diulang dan kamu akan menyesalinya, Mas." Kana tersenyum lirih.
Kana memang egois dan licik, akan tetapi, ia tak ingin anaknya sama sepertinya, tak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya ia terima. Walau nantinya bukan dirinya yang menjaga bayinya, setidaknya, ia pernah merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang ibu. Mungkin saja, dengan kedekatannya dengan bayinya, Dirga bisa kembali padanya. Ia bisa menyingkirkan Dhatu. Dirinya yang lebih unggul karna tengah mengandung calon bayi Dirga dan lelaki itu pasti akan kembali jatuh cinta padanya.
"Biarkan Kana tinggal bersmaa kita, Mas," ucap Dhatu, "aku nggak bermaksud membagi suamiku dengan wanita lain. Bayi dikandungannya lah yang kamu perhatikan, bukan dirinya dan aku baik-baik aja. Walau bagaimana pun, aku nggak mungkin egois dengan membiarkan seorang anak yang belum lahir, nggak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya sendiri."
__ADS_1
Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ya, apa yang Dhatu katakan ada benarnya. Anak tak berdosa itu tak seharusnya menanggung semua kesalahan para orang dewsa dan tak seharusnya Dirga menjadi egois dan merampas apa yang seharuskan ia berikan pada calon bayi itu. Anaknya atau bukan, bayi tak berdosa itu tak boleh dihukum dan layah mendapatkan kasih sayang.