
Dirga langsung berlari memasuki pelantaran restoran dan meminta karyawan yang menjaga di sana untuk memanggil Alvin keluar menemuinya. Ia memaksa, namun tak ada seorang pun yang membiarkannya masuk.
"Saya bisa menuntut kalian bekerjasama dengan Alvin dalam menculik istri saya," ucap Dirga penuh pengancaman dan menatap tajam kedua orang wanita yang kini berpandangan.
"Kami bener-bener nggak tahu di mana Pak Alvin, Pak," ucap seorang dari mereka dengan panik, ia menyenggol lengan sahabatnya, hendak mencari bantuan untuk menjawab.
"Setelah bapak datang ke sini tadi siang, Pak Alvin langsung keluar restoran dan sampai saat ini belum kembali. Ada beberapa dokumen pemesanan yang harus di cek oleh Pak Alvin, namun nggak bisa diselesaikan hari ini karna sampai sekarang Pak Alvin belum kembali dan nggak bisa dihubungi sama sekali," ucap wanita yang tadi lengannya disenggol.
Dirga menatap keduanya meneliti. Ia dapat melihat jika kedua orang wanita di hadapannya itu memang tak mengetahui apa pun. Yang artinya, ia tak bisa lagi memaksa ataupun mengancam mereka. Dirga berpikir keras apa yang bisa ia lakukan.
"Apa ada yang tahu, di mana biasanya Alvin berada saat nggak datang ke restoran. Pasti seorang bos sekalipun punya tempat bersembunyi, bukan? Dan jika sesuatu yang urgent terjadi, nggak mungkin nggak ada salah satupun dari kalian yang diminta menemuinya ditempat persembunyian itu, kan?" Dirga menatap tajam keduanya, ia mengeraskan rahang, merasa tak sabar untuk terus mewawancarai kedua orang di hadapannya.
"Cepat katakan atau aku benaran akan membawa hal ini ke polisi. Kalian tahu, aku bisa dengan mudah memenjarakan orang seperti kalian!"
Dirga tak peduli lagi dengan etika dan juga rasa kemanusiaan. Yang ada di pikirannya adalah menemukan Dhatu dengan cepat dan berharap wanitanya baik-baik saja. Ia harap, Alvin tak bertindak nekad dan membuatnya menggila. Ia harap lelaki itu tak berani menyentuh istrinya. Dirga tak kan segan-segan menghancurkan lelaki itu jika saja istrinya dilukai.
"Pak Alvin ada rumah di daerah Bogor dan di sana biasanya dia beristirahat. Jika ada hal urgent, kami akan diminta ke sana jika dia sedang nggak bisa ke restoran."
"Berikan alamatnya!"
__ADS_1
Dengan cepat salah seorang wanita itu berlari menuju meja kasir, menuliskan sesuatu oada kertas, lalu menyerahkannya pada Dirga. Dirga segera merampasnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Sementara kedua wanita itu saling berpandangan dan berharap keputusan mereka memberitahukan rum singgah Alvin adalah keputusan yang benar. Mereka tak yakin, jika Alvin yang lembut dan baik itu mampu melakukan hal jahat sepeti penculikan, akan tetapi amarah yang Dirga tunjukkan membuat keduanya yakin jika memang ada sesuatu yang tidak beres.
Dirga segera melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh wanita di restoran tadi. Dalam perjalanan, ia meminta Drew mengecek alamat yang diberikan wanita tadi dan meminta asisten pribadinya itu untuk menyusul dirinya ke sana. Ia juga memerintahkan Drew melaporkan kejadian hari ini kepada pihak berwajib.
Dua jam perjalanan membawa Dirga ke rumah yang tampak sepi. Rumah-rumah yang berjarak cukup jauh satu di antara yang lain memang cocok digunakan sebagai tempat menyendiri dan tampak cocok untuk menyembunyikan seseorang. Dirga sengaja memarkirkan mobilnya beberapa meter dari rumah tersebut, tak ingin Alvin menyadari kedatangannya. Pagar yang tak digembok, memudahkan Dirga untuk masuk ke sana. Alvin memang cukup ceroboh. Ia pikir, tak ada seorang pun akan menemukannya hingga lekaki itu tak mengunci pintu rumah.
Memang perumahan itu cukup aman dengan rumah-rumah megah, temlat asri, hingga mungkin Alvin berpikir tempat itu cukup aman untuk menyembunyikan seseorang. Dirga mengendap-endap bagai seorang pencuri, pandangannya menyapu seisi ruangan. Cangkir yang ada di meja ruang tamu meyakinkan Dirga memang ada seaeorang yang menghuni tempat itu.
Dirga membuk ruangan demi ruangan dan tak menemukan seorang pun di sana. Dirga memutuskan untul berjalan ke lantai dua rumah tersebut. Perlahan. Darahnya mendidih begitu menemukan Alvin yang mengambik tempat di atas Dhatu yang memberontak. Ditendangnya pintu kamar itu dan ia langsung mendorong Alvin hingga tersungkur.
Mata Dhatu telah basah dengan air mata. Kedua tangan dan kakinya diikat, membuat hati Dirga terasa nyeri. Dirga dapat melihat kelegaan pada wajah Dhatu begitu melihat kehadirannya. Dirga dengan cepat membuka ikatan tangan Dhatu, belum sepenuhnya selesai membuka ikatan tangan wanita itu Alvin sudah menarik lengannya untuk menjauh dari Dhatu.
Alvin berusaha meninju wajah Dirga, dengan cepat Dirga mengelak dan menangkap genggaman lelaki itu. Dirga memelintir tangan kelaki itu ke belakang. Tak menyerah, Alvin menggeliatkan tubuh dan menendang Dirga. Dirga tersungkur dan segera berdiri. Keduanya beradu tinju, akan tetapi Alvin yang memang tak tahu cara berkelahi langsung kalah telak dan tersungkur di lantai.
"Aku sudah memperingatimu untuk menjauhi Dhatu!" Dirga mengeraskan rahang dan tinju dilayangkanya pada wajah lelaki yang sudah tampak tak berdaya di' bawahnya.
"Dhatu istriku dan yang ada di antara kalian hanyalah masa lalu. Dia mencintaiku dan harusny sebagai lelaki kamu bisa menerima kenyataan."
Dirga bagai kesetanan, matanya menggelap, ia terus meninju waja lelaki itu hingga lebam dan darah mengalir di sudut bibirnya. Mengingat apa yang Dhatu lalui karna kegilaan lelaki itu membuat amarah Dirga semakin menjadi-jadi. Ingin ia melenyapkan lelaki itu dari muka bumi. Bagaimana bisa ia memperlakukan Dhatu sedemikian buruk. Mengikatnya bagai hewan. Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Dhatu dan calon bayi mereka? Ia akan membunuh lelaki itu agar tak ada lagi yang menyakiti wanitanya.
__ADS_1
Tangan Dirga berhenti saat merasakan yangan yang mencegah tinjunya. "Mas ... udah Mas. Dia udah nggak berdaya. Jangan lakukan ini lagi," ucap Dhatu terisak.
"Dia harus mati, Tu! Dia memang sudah gila dan tega menyakitimu."
Dhatu menggeleng cepat dan memeluk erat suaminya. "Cukup dia yang gila. Jangan kamu Mas. Pikirkan aku dan anak kita. Apa uang terjadi pada kami jika kamu sampai membunuhnya?"
Jantung Dirga seakan berhenti berdetak. Matanya seakan menemukan cahaya kembali. Dengan cepat ia berdiri dan membawa Dhatu ke dalam pelukannya. Sungguh, ia hampir saja melakukan hal yang akan disesalinya karna amarah yang menutupi matanya. Dirinya hampir saja kehilangan masa depan dan kebahagiaan bersama Dhatu.
"Maafin aku karna terlambat menemuknmu, Tu."
Dhatu menggeleng dalam pelukan Dirga. "Aku baik-baik aja Mas. Pada akhirnya, kamu telah menemukanku."
Keduanya bertukar senyum. Merasa beruntung bisa kembali saling menemukan. Dirga kembali memeluk Dhatu erat-erat. Suara tawa yang terdengar pilu membuat keduanya mengarahkan pandangan ke arah yang sama.
"Jika aku nggak bisa memiliki Dhatu, maka nggak akan ada yang bisa," ucap lelaki itu dengan senyum dingin. Matanya terlihat menggelap dan air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Tanpa aba-aba, lelaki itu mengulurkan pistol ke arah Dhatu, menarik pelatuknya dan "dor", peluru ditembakkan. Dirga dengan sigap mendorong tubuh Dhatu, membiarkan timah panas tersebut menembus perutnya. Dirga terkapar dengan darah yang mengalir. Dhatu menatap nanar pemandangan di hadapannya. Jantung dan dunianya seakan berhenti berputar, sedetik kemudian Dhatu mendapatakan kesadarannya kembali. Air matanya mengalir deras.
"Mas Dirga ....." teriaknya histeris.
__ADS_1