
Hari ini, jadwal keduanya membawa mereka ke taman rekreasi air pertama di Bali, Circus Waterpark. Tempat ini bukan sekadar waterpark biasa. Fasilitas yang ditawarkan cukup lengkap dan beragam untuk semu usia. Banyaknya wahana air dan juga tempat yang asri menjadi nilai tambah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan juga orang terkasih.
Setelah lelah bertualang mencobai semua wahana air yang ada di sana, keduanya menghabiskan waktu di Lazy River, berleyeh-leyeh di atas pelampung sembari terombang-ambing di "sungai" nan asri. Keduanya merasa santai dan juga damai. Mereka mulai bisa menikmat liburan bersama itu dan berharap seterusnya bisa seperti ini.
Tangan keduanya bergenggaman dan sesekali terlepas, hendak memberikan jalan bagi orang yang ingin mendahului. Hati Dirga seakan meraaa kehilangan begitu tautan tangan mereka terlepas, rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bagaimana bisa seorang wanita asing membuatnya begitu kacau?
"Kamu nggak laper, Tu?" pertanyaan Dirga membuat wanita itu membuka mata.
"Kamu laper?"
Dirga memasang wajah sedih, lalu mengangguk pelan. Dhatu tergelak kecil, merasa mimik wajah yang terlalu imut itu tak pantas ditunjukan oleh suaminya. Dhatu turun dari pelampung dan mengulurkan tangannya pada Dirga.
"Ayok, kita makan!"
Senyum lebar ditunjukkan Dirga dan matanya berbinar bagai anak kecil. Menggemaskan, bathin Dhatu. Ia tak tahu, Dirga memiliki sisi manja yang tak pernah ditunjukkannya. Mungkin karna posisi dan tanggungjawab lelaki itu, maka dirinya tak pernah terlihat santai. Dhatu beruntung karna dirinya bisa mengetahui banyak dan melihat sisi lain seorang Dirga.
Keduanya berjalan menuju salah satu cafe setelah mengambil dompet yang dijaga oleh Abra. Lelaki itu menemani mereka, namun menolak untuk ikut bermain air. Pemuda itu lebih memilih menjadi penjaga barang-barang daripada harus ikut membuat tubuhnya basah. Ia pun kerap memberikan privasi kepada keduanya dan menolak diajak makan bersama. Dirga membelikan makanan untuk Abra sebelum meninggalkan lelaki itu, tak mungkin mereka makan enak saat seseorang menunggui mereka.
Dirga meminta Dhatu duduk dan menanyakan apa yang ingin dimakannya sebelum meninggalkan wanita itu seorang diri di kursi bawah pohon. Dhatu tersenyum menatap punggung Dirga yang terus menjauh. Semoga apa yang ada di antara mereka, bukan sekedar mimpi belaka. Ia tak ingin terbangun dari tidur, jika semua ini hanyalah buah tidur.
"Permisi, Mbak?" suara seorang lelaki yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapan Dhatu membuyarkan lamunannya.
Dhatu tersenyum kikuk. "Ya?"
__ADS_1
Tanpa diizinkan, lelaki berkulit coklat dengan rambut panjang sebahu, khas anak pantai itu duduk di hadapan Dhatu. Kesan maskulin dan juga eksotis pasti membuat siapapun terpanah. Apalagi saat tersenyum, kedua pipi lelaki itu dihiasi lesung pipi, membuatnya semakin manis.
"Sendirian aja?"
Dhatu menggeleng. "Sama suami."
Lelaki itu terbahak, merasa tak percaya dengan perkataan Dhatu, terlalu konyol meninggalkan wanita secantik Dhatu seorang diri. Cara biasa yang ia terima saat menemukan seorang wanita yang berusaha jual mahal, namun pasti tak akan berlangsung lama. Ia tahu benar jurus itu, tarik-ulur.
"Alasannya nggak ada yang lain, Mbak? Udah banyak yang pake alasan begituan untuk sok jual mahal."
Dhatu mendengkus kesal. Wajah tampan, tak selamanya menjadi jaminan seseorang bisa memiliki punya etika dan juga harga diri. Apa dirinya pikir, ia terlalu tampan, hingga tak mungkin ada satu wanita pun yang tak 'kan terpesona.
"Sebentar lagi suami saya akan kembali. Kamu bisa langsung menyapanya," ucap Dhatu datar. Ia heran, apa yang lelaki itu lihat darinya. Ia tak cantik, tak juga seksi, bersuami pula. Lelaki itu hanya akan membuang waktu percuma dengan berusaha menggodanya.
Sedetik kemudian suara nampan yang dibanting keras ke meja mengejutkan Dhatu. Ia menatap ke sumber suara dan menemukan Dirga yang menatap garang pria di hadapannya.
"Ada urusan apa dengan istri saya?"
Pria yang masih sama terkejutnya dengan Dhatu segera berdiri. "Siapa istri Anda?"
Dirga mengeraskan rahang. Ingin rasanya menghadiahi wajah lelaki itu dengan tinju, namun ia masih berusaha menahannya.
Dirga menarik Dhatu berdiri, lalu memeluk pinggang wanita itu, merapatkan tubuh mereka. "Ini adalah wanita saya. Istri saya. Lebih baik pergi sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi."
__ADS_1
Memang dasar, lelaki eksotis itu tak tahu malu. Ia malah tertawa keras. Merasa kagum dengan usaha Dhatu untuk jual mahal.
"Kamu memang menarik. Usahamu untuk menolak seseorang patut diacungi jempol." lelaki itu mengangkat kedua jempol ke udara, "padahal nggak cantik-cantik banget, tapi sok jual mahal. Kamu ma dibayar berapa untuk dipake semalam?" lanjutnya dengan senyum mengejek.
Tanpa aba-aba, tinju Dirga sudah mendarat di wajah lelaki itu. Dirinya hampir saja tersungkur ke belakang. Lelaki yang tak terima dipukul tanpa sebab itu membalas serangan Dirga, ia balas meninju wajah Dirga, beruntung Dirga mampu mengelak. Dirinya semakin geram dan menendang Dirga. Namun sayang, lagi-lagi Dirga yang memegang sabuk hitam taekwondo dengan mudah mengelaknya. Dirga tersenyum mengejek dan kembali melayangkan serangannya pada lelaki tak tahu malu itu. Kemarahan menguasai hati, membuat serangannya semakin liar, dan lelaki itu pun tersungkur karna tendangannya.
Banyak orang berkumpul mengelilingi, sebagian bersorak dan pramusaji segera memanggil satpam untuk merelai. Dirga tak peduli. Ia tak puas, jika lelaki itu tak mengetahui kesalahannya. Dirga kembali memukuli wajah lelaki itu. Tak ada seorang pun yang boleh menghina Dhatunya dan memperlakukannya bak perempuan murahan. Tak akan dibiarkannya mulut lelaki buaya itu membuat Dhatu merasa rendah. Pukulan Dirga tak hanya mendarat di wajahnya, perut lelaki itu pun dipukulnya bertubi-tubi.
"Istriku yang paling cantik di dunia ini. Orang sepertimu nggak layak untuk melihat ataupun mendekatinya. Kau hanya lelaki murahan yang nggak punya otak!" ucap Dirga penuh amarah. Lelaki itu tersungkur ke lantai dengan Dirga di atasnya dengan terus melayangkan pukulan. Mata Dirga digelapkan oleh amarah. Dhatu yang panik segera menghentikan lelaki itu dengan mencengkram tangan Dirga.
"Udah, Mas. Cukup."
Dirga yang lengah karna suara Dhatu, membuat lelaki itu mendaratkan tinju pada pipi Dirga. Beruntung satpam segera hadir dan berdiri di antara keduanya. Lelaki yang masih tak terima itu berteriak, mengeluarkan makian pada Dirga dan juga Dhatu, dirinya segera ditarik oleh satpam, agar tak terus menimbulkan keacauan di sana.
Mata Dhatu berkaca-kaca, air matanya jatuh dan tubuhnya bergetar. Ia tak ingin Dirga terluka, jika terus melanjutkan pertarungan itu. Dirga yang melihat ketakutan di mata Dhatu segera memeluk wanita itu dan mengusap-usap lembut punggungnya.
"Sudah, Tu. Maafin aku, ya. Jangan nangis lagi. Aku baik-baik aja."
Dhatu melepaskan pelukan mereka, menatap Dirga dan mengusap lembut wajah lelaki itu. "Sakit?" tanyanya lirih.
Dirga menggeleng. "Nggak sama sekali." ia tersenyum menenangkan sembari mengusap lembut wajah Dhatu, "nggak akan kubiarkan seorang pun merendahkanmu. Aku akan menjaga martabat dan kehormatanmu dengan semua yang kumiliki. Nggak akan kubiarkan seorangpun menyakiti perasaanmu, Tu. Nggak akan pernah."
Air mata Dhatu mengalir semakin deras, ia menghambur ke dalam pelukan Dirga. Hatinya berdesir hangat.
__ADS_1