
Dhatu tak berhenti tersenyum menatap boneka besar di hadapannya, sementara Dirga sudah masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Dhatu tak tahu, jika Dirga bisa bersikap begitu manis. Semakin mengenal lelaki itu, maka semakin Dhatu jatuh hati padanya. Dari bunga, coklat, dan sekarang boneka. Ia tak tahu alasan lelaki itu memberikannya banyak hadiah, akan tetapi dirinya bahagia. Pertama kalinya ia menerima hadiah dari Dirga, membuatnya merasa mereka bagai pasangan normal lainnya. Memang cinta datangnya terlambat, namun di waktu yang tepat.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Dhatu menoleh ke sumber suara. Keduanya saling bertukar senyum. Dirga berjalan ke arahnya, lalu segera menjauhkan boneka beruang itu dari Dhatu. Dhatu tersenyum sembari menggeleng-geleng melihat kelakuan Dirga, sedetik kemudian lelaki itu sudah merebahkan kepalanya pada pangkuan Dhatu. Dhatu menyandarkan punggung pada sandaran tempat tidur dan mengusap-usap puncak kepala Dirga.
"Kamu terlihat begitu cape hari ini, Mas."
Dirga memejamkan mata dan menikmati belaian Dhatu pada kepalanya. "Ya, hari yang melelahkan." Dirga menggenggam sebelah tangan Dhatu yang berada di dadanya, "bagaimana dengan harimu?"
Dhatu tampak berpikir sesaat."Nggak ada yang menarik. Seperti biasa, menerim konsumen yang marah besar karna kunjungan servis yang begitu lama."
Dirga membuka mata perlahan. "Apa yang membuat teknisi lama kunjungan? Terlalu banyak job atau kita kekurangan teknisi?"
"Keduanya benar. Apalagi banyak teknisi berusia tua yang sudah pensiun sejak bulan lalu. Mau memaksakan teknisi yang ada untuk mengerjakan sepuluh job dalam sehari pun rasanya nggak mungkin."
Dirga menatap sendu wanitanya. Membayangkan wanita itu diteriaki, meski hanya lewat telpon membuatnya tak tega. Dirinya saja tak mau meneriaki Dhatu, lalu mengapa para konsumen itu berteriak? Marah memang boleh, namun bukankah lebih baik mengatakannya secara perlahan agar kedua belah pihak mengerti dan bisa segera mencari solusi.
__ADS_1
"Lebih baik, aku memindahkanmu ke bagian lain. Menjadi call center pasti berat, membuatmu terus dimarahi," ucap Dirga mengusap lembut wajah wanita itu.
Dhatu tersenyum dan menggeleng. "Nggak usah, Mas." Dhatu menghentikan usapannya pada puncak kepala Dirga, "sebenarnya orang yang marah-marah itu kasian. Aku beruntung bisa menjadi tempat pelampiasan mereka, dan mungkin dengan begitu bisa membuat beban hati dan pikiran berkurang sedikit."
"Aku nggak mau kamu dimarahin orang," ucap Dirga memaksa, "jadi admin aja. Akan kuurus semuanya," lanjutnya tetap pada pendirian.
Sesungguhnya, ada maksud lain atas keputusan Dirga itu. Dengan memindahkan Dhatu, maka ia akan menjauhkan wanita itu dari lelaki yang menyukai Dhatu. Ah ... tiba-tiba saja dirinya teringat perkataan lelaki itu. Dirinya mencintai Dhatu. Apa lelaki itu sudah mengungkapkan rasanya pada Dhatu?
"Mas ... percaya padaku! Aku baik-baik aja," ucap Dhatu sungguh-sungguh. Ia tak mau menyusahkan Dirga hanya dengan urusannya. Lagipula, ia menikmati pekerjaanny. Walau terkadang sulit, namun ada beberapa sisi baik dan juga pujian yang kerap diterimanya.
Dirga mengangguk mengerti. Tak ada gunanya memaksakan Dhatu. Mungkin, ia bisa mencari cara lain untuk menjauhkan wanita itu dari lelaki yang menyimpan rasa padanya. Ia tak ingin mereka selalu bersama, dirinya begitu takut kehilangan Dhatu.
Dirga menatap ke dalam manik mata Dhatu. "Jangan pernah tinggalin aku ya, Tu!"
Dhatu mengangguk. "Nggak akan pernah," ucap Dhatu seraya mengusap-usap puncak kepala Dirga, "tidurlah, Mas." Dhatu mengecup kening Dirga.
__ADS_1
Dirga segera menangkup wajah Dhatu dan tak membiarkan wanita itu menjauh. Dikecupnya bibir wanita itu dengan penuh kelembutan, bibir keduanya saling berpagut dan bergerak seirama. Hati keduanya dipenuhi rasa damai yang begitu menghangatkan. Cinta memang seindah ini dan mereka harap keindahan itu akan terjaga untuk selamanya.
***
Dhatu mengeryitkan kening begitu melihat sekotak coklat dan juga setangkai bunga mawar di mejanya. Ia menatap sekeliling, ruanganya masih kosong, hanya ada dirinya di sana. Yang lain belum tiba. Dhatu tak mampu menebak siapa yang meletakkan benda itu di sana. Nama Dirga muncul secara tiba-tiba, namun ia segera menggeleng pelan. Tak mungkin suaminya yang memberikan kejutan itu karna mereka berangkat dan tiba di kantor pada waktu yang bersamaan, jadi tak mungkin lelaki itu yang memberinya kejutan. Bagaimana caranya menyiapkan jika mereka hadir di waktu yang sama, bukan?
Padahal, hari ini ia tiba empat puluh menit lebih awal dari jam masuk kerja mereka karna Dirga memiliki meeting penting pagi ini, hingga lelaki itu harus menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya. Dhatu meraih kotak itu dengan ragu. Ia yakin, pasti Si pemberian kejutan salah meletakka benda itu di mejanya. Mungkin saja coklat dan bunga itu ditujukan pada Silvy yang masih muda dan juga cantik. Sepanjang waktunya bekerja di kantor itu, tak pernah ada seorang lelaki pun yang menunjukkan ketertarikan padanya, hingga dirinya yakin, hadiah itu bukan pula dari pengagum rahasianya.
Terdapat secarik kertas di bawah kotak coklat itu. Dhatu mengeryitkan kening dan segera membacanya.
Teruntuk Dhatu yang semanis coklat, semoga harimu bisa berjalan dengan manis dan bahagia. Aku baru tahu jika nama Dhatu berarti anak yang anggun bagai ratu, maka aku mau memperlakukanmu bak ratu di dalam hatiku.
Tangan Dhatu bergetar, ketakutan mulai merasuki hatinya. Dirinya merasa bagai tengah berselingkuh dari Dirga. Diremasnya kertas itu, lalu membuangnya ke tong sampah. Ia menyimpan coklat dan bunga ke dalam laci. Ia ta menginginkan hal ini. Walau bagaimanapun dirinya adalah wanita yang sudah bersuami, hingga tak pantas diperlakukan seperti ini. Dhatu harus mencari tahu, siapa pengirim hadiah itu dan menjelaskan semuanya. Ada orang lain yang memenuhi benak dan hatinya, hingga ia tak bisa menerima perasaan orang lain, selain milik suaminya sendiri.
Dhatu terdiam sesaat. Haruskah ia melaporkan hal ini pada Dirga? Ia tak ingin menyembunyikan apa pun dari suaminya dan tak ingin merasa bersalah karna sikap orang lain. Dhatu menggeleng. Tidak. Ia tak boleh memberitahukan hal ini pada Dirga. Bukan bermaksud menyembunyikan, hanya saja, lelaki itu terlalu pencemburu. Bagaimana jika lelaki itu salah paham atau parahnya lagi, lelaki itu memaksanya berhenti dari pekerjaannya. Dhatu mengacak rambut gusar. Ya, mungkin untuk saat ini, lebih baik hal ini disembunyikan. Ia akan mencari tahu dulu siapa orang itu, menjelaskan dan menolak perasaan orang itu. Bila semuanya sudah jelas, maka Dhatu akan memberitahukan semuanya pada Dirga. Ia tak mau lelaki itu salah paham. Kali ini, Dhatu harus menyelesaikan misteri itu seorang diri.
__ADS_1