
Dhatu melirik kedua paper bag yang diletakkannya kembali ke meja di ruangan Dirga, lalu melempar pandangan pada lelaki itu. Ia bimbang, harus ia apakan semua hadiah dari suaminya? Bukan tak bahagia ataupun tak bersyukur, namun membawa semua barang itu kembali ke ruangan akan membuat banyak orang menatapnya curiga. Apalagi ia baru saja keluar dari ruangan Dirga. Pasti akan banyak gunjingan tentang hubungan keduanya. Ia tak memikirkan dirinya, karna ia terbiasa dinilai jelek. Hanya saja, ia tak mau Dirga mengalami hal yang sama. Cukup dirinya saja yang dihina, jangan suaminya.
"Kamu mikirin apa?" tanya Dirga sembari mengusap dahi Dhatu yang mulai berkerut. Ia tersenyum mengamati wajah serius Dhatu.
"Kalau aku bilang, kamu nggak boleh marah ataupun ngambek ya, Mas?" Dhatu menatap lelaki itu penuh permohonan. Dhatu tak mau kembali memulai perang dingin, oleh karna itu ia tak ingin ada kesalapahaman lain di antara mereka.
Dirga tersenyum dan mengangguk. "Katakan aja." Ia menyelipkan anak rambut wanita itu ke balik telinganya.
"Yakin nggak akan marah?" Dhatu kembali memastikan.
"Sekarang, kamu akan membuatku marah, Tu. Tahu sendiri kalau aku bukanlah orang yang sabaran, 'kan?" Dirga terkekeh pelan melihat wajah Dhatu yang langsung cemberut karna perkataannya.
"Aku takut kamu marah."
"Aku jadi beneran mau marah karnamu."
Dhatu tergelak. Tak ingin lagi menggoda lekaki itu. "Bisa kamu yang bawain hadiahnya ke rumah? Aku nggak bisa bawa semua itu kembali ke ruangan."
Dirga menatap wanita itu tajam. "Kenapa? Kamu mau menjaga hati seseorang di sana? Takut ada yang marah? Apa aka ada yang komplain jika kamu menerima hadiah dar seseorang? Bisa saja kamu katakan, kalau itu adalah pemberian kekasihmu yang secara kebetulan melewati kantormu."
Dhatu tahu hal ini akan terjadi. Lelaki itu akan kembali salah paham. Padahal niatnya baik, ia tak mau ada seorang pun yang akan salah paham. Tak ada yang akan marah jika dirinya menerima hadiah, tak ada seorang pun yang spesial selain lelaki itu. Mengapa Dirga tak juga menyadarinya.
__ADS_1
"Maksud Mas apa? Siapa dan kenapa harus ada yang marah?"
Dirga mendadak gugup. Ia tak mau terlihat seperti seorang suami pencemburu, namun sungguh rasa itu terlalu sulit untuk di kontrol. Merasuki begitu saja, hingga membuat pikirannya kacau.
"Lalu kenapa kamu nggak mau membawanya ke ruangan? Aku hanya ingin memberikan apa yang dapat membuatmu tertawa. Aku suka melihat tawamu, tapi kamu seakan terlalu takut untuk menerima pemberianku."
Dhatu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Kamu nggak perlu memberikan apa pun untuk membuatku tertawa, Mas. Di sisimu, aku merasa bahagia," Dhatu tersenyum mania, "Apa kata orang kalau mereka melihatku keluar dari ruanganmu dengan membawa semua pemberianmu itu, Mas? Mereka pasti akan mengira, kamu sedang menggoda seorang bawahan yang begitu nggak pantas untukmu. Mereka akan menilaimu jelek dan aku nggak mau itu."
Dirga berdecak sebal. "Kenapa selalu tentang apa kata orang sih, Tu! Aku beneran mulai muak mendengarnya." Dirga berdiri dan mencengkram pergelangan tangan Dhatu, "akan kuberi tahu seisi kantor kalau kamu adalah milikku. Istriku," lanjutnya sembari menarik Dhatu.
Dhatu berdiri, namun melepaskan tangan lelaki itu dari pergelangan tangannya. "Aku juga nggak mau hidup dengan terbebani apa kata orang, aku nggak masalah jika mereka menilaiku buruk, tapi aku nggak bisa mendengar perkataan buruk tentangmu, Mas." Dhatu menatap ke dalam manik mata lelaki di hadapannya, mencoba membuat lelaki itu untuk mengerti. Bukan cara seperti ini yang ia inginkan untuk memberitahukan kepada seisi dunia, jika mereka saling memiliki.
Dirga berusaha mengatur amarah yang mulai merasuki bathinnya. Ia menyesal karna memilih merahasiakan pernikahan mereka di awal, hingga dirinya yang harus menerima akibat atas keputusannya dulu. Andai saja, ia membiarkan semua kenalan Dhatu hadir, maka semua orang akan tahu ada hubungan apa di antara mereka. Mereka pun tak perlu bersembunyi dan bersikap asing. Dirga kembali duduk, diikuti oleh Dhatu. Dhatu menggenggam kedua tangan lelaki itu.
Dhatu mengerutkan kening, menatap lelaki itu tak percaya. "Kamu cemburu sama siapa sih, Mas? Lalu apa yang bisa kamu cemburui?"
Dirga mengangkat kepalanya dan menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya. "Ada hubungan apa antara kamu dan dia?"
Dhatu semakin tak mengerti arah pembicaraan mereka. "Dia? Dia siapa maksudmu, Mas?"
"Satu-satunya lelaki yang selalu terlihat bersamamu. Satu ruanga denganmu. Yang selalu kamu panggil Mas."
__ADS_1
Dhatu tampak berpikir, sedetik kemudian tawanya pecah. "Yang benar saja, Mas." ia memegang perutnya yang berguncang karna tawa, "Mas Krisna sudah seperti kakak lelakiku sendiri. Nggak mungkin ada hubungan semacam itu di antara kami."
"Apa kamu yakin?"
Dhatu mengecup bibir lelaki itu. "Kamu memang menggemaskan kalau lagi cemburu."
"Aku serius, Tu."
Dhatu memeluk erat lelaki itu. "Yakin sejuta persen. Hanya kamu yang ada di hatiku, Mas."
Sungguh hebat pengaruh Dhatu, dengan mendengar kata-kata manis dari bibir wanita itu, Dirga merasa bahagia, rasa cemburunya menguap entah ke mana.
"Biar aku yang bawa semuanya ke mobil. Kembali lah ke ruanganmu."
Dhatu mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu mengecup bibir lelaki itu sebelum berjalan keluar ruanga dan meninggalkan lelaki itu. Sepeninggalan Dhatu, Dirga bersorak riang dan senyum menghias wajah tampannya. Ia teramat bahagia karna semuanya sudah jelas. Tak pernah ada apa pun di antara keduanya dan itu sudah lebih dari cukup.
Menit demi menit telah berlalu, Dirga yang baru meyelesaikan pekerjaannya, memutuskan untuk berjalan ke pantry dan merenggangkan tubuh di sana. Menikmati secangkir kopi akan lebih baik. Dirga adalah atasan yang selalu mandiri, hingga jarang menyusahkan sekretarisnya sendiri hanya untuk urusan makan dan minum. Selama bisa melakukan sendiri, maka ia tak mau menyuruh orang lain. Semua orang tersenyum ketika bertemu dengannya yang akan dibalas Dirga dengan anggukan singkat dan senyum tipis.
Sesampainya di pantry, Dirga segera menyalakan mesin kopi dan membuat Capuccino kesukaannya. Percakapan di balik tembok membuat Dirga menghentikan langkah. Bukan karna kepo, melainkan nama Dhatu yag disembut mengulik rasa ingin tahunya.
"Jadi Mas Krisna menolakku hanya karna Dhatu? Mas begitu mencintainya, sampai-sampai menolakku berkali-kali. Kenapa Mas nggak bisa melihat, jika orang yang pantas Mas cintai tengah berdiri di hadapan Mas sekarang!"
__ADS_1
Nada penuh amarah dan nama Dhatu yang disebut, membuat hati Dirga tak tenang. Ia hendak berjalan mendekati sepasang anak manusia itu, namun urung ketika bayangan Dhatu hadir di benaknya. Ia mengacak rambut gusar. Untuk memberitahu dan melarang orang lain untuk menyukai Dhatu saja ia tak bisa, seakan tak memiliki hak. Sungguh, ia tak mengerti bagaimana cara memperbaiki keadaan mereka?
Dirga memutuskan membalik tubuh dan meninggalkan pantry. Hati dan pikirannya kembali kacau. Ia harus mencari cara agar bisa membuat semua orang tahu, jika Dhatu adalah miliknya seorang.