
Lestari mengantarkan keduanya hingga ke Bandar Udara Soekarno Hatta, memastikan anak dan menantunya tidak kabur. Ia ingin keduanya tetap menjalani bulan madu yang telah diaturnya sebaik mungkin. Ia harus bertindak, agar keduanya lebih cepat akrab. Ia tak mau berharap pada kedua orang asing yang dipaksa menikah itu. Lestari tahu benar, jika keduanya masih merasa canggung bersama. Wanita paruh baya itu bisa merasakannya, walau keduanya berusaha menutupi secara mati-matian.
Lestari mengerti tak mudah untuk beradaptasi dengan seorang asing yang tinggal seatap. Oleh karna itu, ia mengatur rencana ini. Walau bagaimanapun, mereka para tetua memang sedikit bersalah karna memaksakan sebuah hubungan. Akan tetapi, mereka tak mungkin memaksa jika tak ada cerita di balik semua keputusan sepihak yang mereka ambil. Mereka, para orang tua, hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Hati-hati di jalan," ucap Lestari sembari menatap keduanya secara bergantian. Ada rasa lega yang menyelinap masuk ke hatinya karna keduanya mau menuruti permintaannya.
"Makasih, Ma. Mama juga hati-hati di perjalanan pulang nanti ya." Dhatu memeluk ibu mertuanya.
Lestari menepuk-nepuk pundak Dhatu, lalu ia mendekatkan bibir pada telinga wanita itu, "Mama udah masukin lingerie di tasmu karna mama lihat ngga ada satupun pakaianmu yang siap untuk acara liburan ini. Pergunakan dengan baik dan nikmati bulan madu kalian."
__ADS_1
Wanita paruh baya itu menjauhkan wajahnya, mengedipkan sebelah matanya pada Dhatu, dan tersenyum menggoda. Sementara Dhatu menunduk malu, berusaha menyembunyikan semburat merah jambu yang menghiasi kedua pipinya. Sikap ganjal Dhatu membuat Dirga menatap keduanya penuh tanya. Ada rasa tak tenang yang tiba-tiba menyelinap ke dalam hatinya.
"Baik-baik sama Dhatu," ucap Lestari sembari memukul lengan Dirga pelan.
Keduanya memeluk Lestari, lalu berpamitan. Dirga menggenggam tangan Dhatu dengan sebelah tangannya yang bebas, melengkapi sandiwara mereka di depan Lestari. Dhatu dapat merasakan jantungnya yang berpacu kencang karna genggaman tangan mereka. Sesekali ia melirik ke arah Dirga, bertanya dalam hati tentang getaran asing yang menjalar perlahan dan memenuhi setiap sisi hatinya. Rasa yang tak dapat ia artikan.
Pertanyaan Dirga semakin membuat jantung Dhatu tak tenang. Ia tersenyum kikuk tanpa melihat ke arah Dirga. Dirinya takut lelaki itu dapat mendengarkan irama jantungnya saat ini, terlalu kencang dan tak bisa ia kendalikan.
"Itu ... anu ... kata Mama hati-hati," dusta Dhatu sembari mengigit bibir bawah kuat-kuat.
__ADS_1
"Bukannya sebelum berbisik, Mama memamg udah bilang hati-hati?" Kini Dirga menatapnya lekat, sedang yang ditatap semakin salah tinggah. Ia menarik tangannya dari genggaman Dirga, berusaha menutupi kegugupan yang menguasai hatinya.
"Bukan apa-apa, kok. Hanya minta kita saling menjaga." Dhatu menunduk, tak ingin Dirga melihat kegundahan hatinya.
Lelaki itu tergelak melihat sikap malu-malu Dhatu, meyakinkanya jika ibunya tadi pasti mengatakan hal yang tidak benar.
"Perkataan Mama nggak usah begitu dipikirkan." Dirga kembali menggenggam tangan Dhatu, "kita ke arah sini, Tu."
Dhatu menatap senang genggaman tangan mereka. Ia mulai menyukai kebersamaan mereka. Walau ia tahu, jika semua ini hanyalah kesemuan yang akan segera berakhir, namun ia tak bisa mencegah dirinya sendiri yang larut dalam rasa. Senyum terukir di kedua sudut bibir Dhatu.Dalam hati ia berharap, waktu dapat berhenti saat ini juga.
__ADS_1