Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Cerita Yang Telah Usai


__ADS_3

Dhatu memutuskan untuk tak kembali ke meja di mana dirinya diperlakukan agak khusus karna status yang disandangnya. Ia melirik meja di mana para sahabatnya berada, banyak canda tawa yang terlihat nyata di sana, lalu berganti menatap meja di mana Dirga berada, banyak kepalsuan yang mengelilingi meja. Dhatu membawa jus melon dan berjalan ke rooftop. Ia ingin mencari udara segar. Berada di sana dan mendengar percakapan berat tentang pekerjaan membuat kepalanya pening.


Dhatu duduk pada kursi panjang yang berada di sekeliling tanaman hidup, tempat di mana dirinya dan Krisna kerap menghabiskan waktu bersama. Berbagi makan siang dan bercanda tawa. Tempat persembunyian Dhatu dan juga Rina ketika bosan dengan pekerjaan dan ingin mencari udara segar. Dhatu mengadahkan wajah, menatap langit yang cerah di atas sana. Sebentar lagi, ia akan merindukan semua ini. Kebersamaan dan kegiatan yang kerap mereka lakukan di tempat itu.


"Ehemm ..."


Deheman yang terdengar dari balik punggung, membuyarkan lamunan Dhatu. Wanita itu menoleh ke sumber suara dan jantungnya seakan berhenti berdebar saat menyadari sosok yang tengah berdiri menatapnya lembut dengan senyum manis yang dulu sempat mempesona Dhatu. Dhatu segera berdiri, terkejut, dan juga tak percaya dengan apa yang dilihat matanya.


"Kamu ...." Dhatu membiarkan perkataannya menggantung di udara, lebih tepatnya lagi, ia tak mampu menemukan perkataan yang tepat untuk menyampaikan apa yang hatinya rasakan saat ini. Lelaki itu berjalan mendekat, setiap langkah yang semakin dekat, membuat Dhatu secara tak sadar menahan napasnya selama beberapa detik.


Kini , lelaki itu berdiri tepat di hadapannya, terlihat begitu nyata, seperti pedih yang mula menjalar ke penjuru hatinya. Tangan lelaki itu terulur hendak menyentuh wajahnya, reflek Dhatu menjauhkan wajahnya. Dhatu tak ingin terjebak dalam suasana canggung, hingga ia memilih melangkah pergi, namun dengan cepat lelaki itu mencengkram pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya. Aneh ... tak ada lagi rasa apa pun yang mampu hatinya rqsakan, hanya ada sekelebat rasa pedih yang mengisi setiap relung hati saat tangan mereka bersentuhan.


"Maaf ... bisa lepaskan tangan saya?" tanya Dhatu tanpa membalik tubuh untuk melihat lawan bicaranya. Lelaki itu mengendorkan cengkramanya dan dengan cepat mengambil posisi di hadapan Dhatu.

__ADS_1


"Tu ... kita harus bicara." Ada permohonan pada manik mata lelaki itu, namun Dhatu tak mau mengabulkannya. Tak ada lagi yang bisa dibicarakan di antara mereka. Semua telah usai, meninggalkan cerita lama yang tak ingin dimulai kembali.


"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi," ucap Dhatu tersenyum miring, "lagian ... kenapa kamu bisa di sini?"


Dhatu belun bisa memikirkan alasan masuk akal apa yang dapat membenarkan keberadaan lelaki itu di kantornya. Tak mungkin hanya kebetulan atau memang lelaki itu dengan sengaja mencari keberadaannya, bukan? Harusnya, lelaki itu melakukan semuanya lima tahun lalu, ketika dirinya masih bodoh dan belum bisa melupakan rasa yang kini tak lagi memiliki arti apa pun.


"Kantor ini memakai chatering-ku untuk acara makan siang ini," ucap lelaki itu menjelaskan, "aku mohon ... dengarkan dulu penjelasanku."


"Aku bukan memilih keluargaku karna status sosial seperti yang kamu tuduhkan. Aku butuh waktu untuk memampankan diri, agar bisa mandiri, dan membawamu bersamaku." Ada kejujuran pada manik mata lekaki di hadapannya.


Mereka adalah teman sejak memakai seragam putih abu. Kisah klasik, di mana sahabat menjadi cinta. Kebersamaan dan kenyamanan memberikan rasa yang tak bisa mereka sangkal. Keduanya menyerah dan sadar, jika tak ada gunanya terus menjauh saat cinta menarik mereka untuk terus berdekatan, seakan tak rela berpisah. Alvin, cinta pertama yang hadir dalam hidup Dhatu, orang yang turut mengukir sakit yang sulit disembuhkan. Seseorang dari masa lalu yang sudah sejak lama Dhatu tinggalkan.


"Nggak ada gunanya lagi, Vin. Semua udah berakhir. Nggak peduli keluargamu menyetujui hubungan kita atau seberapa mapan dirimu, yang ada di antara kita hanyalah kisah yang telah usai."

__ADS_1


Tak ada kisah yang bisa dirakit kembali saat semuanya telah usai dan tak lagi bermakna. Hidup terus berjalan, waktu tak kan mau menunggu kita, siap atau tidak, waktu akan terus maju ke depan, meninggalkan kita dalam kenangan yang tergantung bagaimana cara kita ingin menanggapinya. Terus mau atau tetap terjebak di dalamnya. Pada akhirnya, hidup adalah tentang pilihan, bukan?


Alvin lahir dari keluarga kaya. Kedua orang tuanya yang memang kaya tujuh turunan memang tak suka melihat keakraban antara Alvin dan juga Dhatu. Dhatu yang sering diajak ke rumah Alvin pun kerap menolak karna sering menerima penolakam secara tak langsung dari ibu lekaki itu. Sang ibu kerap bertanya tentang keluarga Dhatu dan apa pekerjaannya, wanita itu pun kerap membangga-banggakan harta yang dimilikinya. Tipe sosialita yang membuat Dhatu merasa rendah. Demi menjaga hati dan juga harga dirinya, Dhatu menjauhi Alvin, seperti apa yang ibu lelaki itu minta.


Padahal, biasanya Alvin kerap menghibur dan mengatakan jika perbedaan bukanlah masalah besar bagi keduanya, namun hari itu Dhatu melihat, jika memang semua orang kaya sama saja. Mementingan diri sendiri. Di sana, Alvin ikut menghinanya, mengatakan jika orang seperti Dhatu memang hanya menginginkan harta, menguatkan niat Dhatu untuk melepas mawar berduri yang digenggamnya terlalu erat, membuatnya tertusuk duri dan terus tersakit.


"Tu ... aku mengatakan semua itu, agar mama nggak lagi mempermalukanmu di pesta ulang tahunku." lelaki itu mengacak rambut gusar.


Dhatu tertawa renyah. "Dengan membawaku ke dalam ruangan dan ikut menghina kemiskinanku?" Dhatu menatap nanar lelaki di hadapannya.


Dhatu tak pernah malu terlahir miskin, hatinya kaya dan itu yang terpenting. Akan tetapi, mendengarkan perbedaan sosial yang begitu kentak dari mulut orang yang dikasihinya membuat hatinya hancur tak berbentuk. Sebelum memutuskan menerima Dirga, Dhatu pun sempat mencemaskan hal yang sama, kemiskinannya yang akan kembali dihina dan menjadikan alsannya untuk melepaskan, namun melihat betapa baiknya ayah suaminya, membuat Dhatu yakin, jika Dirga pasti memiliki sisi baik seperti ayahnya yang tak segan bergaul dengan orang dari kalangannya. Dengan modal nekad, Dhatu menguatkan hati menerima perjododohan mereka.


Siapa sangka, keputusannya berbuah baik. Lelaki itu memiliki sisi ayahnya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dirga yang di awal memang menilai kemiskinannya, tak melakukan kesalahan yang Alvin lakukan, yaitu menyerah dan menegaskan perbedaan di antara mereka. Dirga tak pernah menyerah, lelaki itu membuatnya mulai melihat sisi lain dari kehidupan para orang kaya. Ternyata, tak semua orang kaya seperti keluarga Alvin yang begitu alergi dengan Si miskin.

__ADS_1


__ADS_2