Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Benarkah Semua Ini?


__ADS_3

Dirga menatap tajam wanita di hadapannya, tak berniat sedikit pun mendengarkan penjelasan wanita itu. Semua telah berakhir, begitu pun perasaannya untuk wanita itu, tak ada lagi yang tersisa, jadi tak perlu menjelaskan apa pun. Dirga harus menegur office boy-nya, pasti pria itu yang membiarkan pintu ruangannya terbuka. Memang selalu seperti itu setiap pria muda itu mau membersihkan ruangan. Harusnya lelaki itu menutup pintu kembali, agar tak ada satupun orang yang bisa masuk ke ruangannya.


"Keluarlah Kana! Aku nggak butuh penjelasan apa pun darimu. Seperti yang kubilang. Semua sudah berakhir di antara kita."


Kana menatap Dirga penuh luka, matanya berkaca-kaca. "Semudah itu kamu melupakan semuanya? Kamu yang memintaku menunggu, tapi kamu juga yang berkhianat. Kamu bilang, perpisahan ini hanya sementara dan kamu akan kembali padaku. Mana buktinya?" air mata Kana mengalir.


Dirga tersenyum miring, merasa kagum melihat akting wanita itu. Sesiapa pun pasti dapat dibodohi dengan wajah lugunya. Seperti Dirga yang memberikan banyak hal, menghabiskan waktu dan juga materi pada wanita yang tak pernah mencintainya. Hanya ada kesemuan di antara mereka dan Dirga tak ingin kembali terjebak di dalamnya.


"Kamu nggak pernah mencintaiku, Kana. Kamu hanya menyukai uangku," ucap Dirga seraya menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya, "jika aku seorang pria pengangguran, kamu nggak akan pernah melirikku," lanjut Dirga datar.


Kana menggeleng. "Kamu yang memberikan semuanya padaku dan kamu yang menuduhku menyukai uangmu saja. Apa kamu masih ingat, kalau kamu yang menolak uang yang kupinjam darimu saat mau kubayar kembali? Kamu juga yang memaksaku menerima kartu kreditmu karna kamu selalu sibuk dan takut aku membutuhkan sesuatu. Kini kamu yang melempar tuduhan menyakitkan itu padaku?" air mata Kana mengalir semakin deras.


Perkataan Kana membuat jantung Dirga seakan diremas. Secara tidak langsung, memang dirinya yang kerap memberi dan memanjakan wanita itu dengan uang, namun begitu wanita itu meminta, ia mulai menganggap jika wanita itu hanya mencintai uangnya. Apa benar pemikirannya tentang Kana salah? Wanita itu mencintainya sebagaimana perasaannya dulu? Dirga menggeleng, tak pernah ada cinta untuk wanita itu. Dhatu telah mengajarkan makna cinta sesungguhnya, rasa yang tak pernah ia rasakan pada Kana. Ia tak boleh goyah. Cintanya pada Dhatulah yang nyata.


"Nggak usah merasa menjadi korban, Kana. Aku melihatmu bermesraan dengan seorang pria tua di Bali."

__ADS_1


Kana membelalakkan kedua mata, tampak terkejut, namun tak lama karna sedetik kemudian ia kembali memasang wajah sedih handalannya.


"Aku memang sengaja memancingmu, Mas," Kana menghapus air mata yang kembali mengalir, "kamu bilang kalau kamu ke Bali untuk perjalanan bisnis, tapi apa? Kamu malah pergi berbulan madu dengan wanita itu. Kamu pikir, aku nggak mengetahui kebohonganmu? Aku pikir, kamu akan berlari padaku, menarik pria itu, dan menunjukkan amarahmu, Mas. Nyatanya, aku salah. Memang kamu yang nggak pernah mencintaiku," lanjut wanita itu lirih.


Dirga tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Ia tak tahu mengapa Kana bisa mengetahui tujuan sebenarnya pergi ke Bali. Benarkah apa yang dikatakan wanita itu? Dirinya sengaja memancing amarahnya, agar ia kembali pada Kana? Bodoh ... mengapa Dirga tak menyadarinya. Benar apa yang Kana katakan. Ia yang meminta wanita itu menunggu, namun dirinya sendiri yang berdusta. Ia mulai tak bisa menilai mana benar dan mana yang salah.


Genggaman tangan Kana yang secara tiba-tiba membuyarkan lamunan Dirga. "Mas ... aku mencintaimu, bukan uangmu."


Dirga terdiam, menatap ke dalam manik mata wanita itu. Perasaan yang ia rasakan untuk wanita itu berbeda dengan apa yang ia rasakan pada Dhatu. Dulu, dirinya pun tak marah ataupun cemburu jika ada yang mendekati Kana. Dirga bahkan maklum karna wanita itu memiliki banyak teman lelaki, ia tak posesif sebagaimana pada Dhatu yang membuatnya merasa tak rela jika ada yang tertarik pada istrinya itu. Semua sudah terlambat, dirinya memang tak pernah mencintai Kana.


Dirinya memang bukan lelaki baik-baik, namun ia bukan orang yang suka memainkan perasaan. Ia tak mau membohongi perasaannya sendiri dan tak mau membuat orang lain ikut salah menafsirkan rasa. Cukup dulu ia terlalu bodoh dan tak mampu mengartikan rasa yang ia miliki. Bersama Dhatu, semuanya menjadi lebih jelas. Walau dirinya salah mengerti Kana, namun ia yakin, hatinya tak mampu mencintai wanita lain sebagaimana ia mencintai istrinya.


Kana menggebrak meja, amarahnya memuncak. "Kamu pikir, semudah itu menyingkirkanku? Setelah kamu memintaku menunggu, lalu kamu bisa membuangku begitu aja? Kamu beneran jahat, Mas!"


Kana berdiri, menatap Dirga tajam, lalu berlalu begitu saja dan keluar dari ruangannya. Dirga mengusap wajah gusar. Ia tak sepenuhnya percaya dengan perkataan Kana, namun dirinya yakin dengan hatinya sendiri. Meski ada cinta di hati wanita untuknya, ia tak bisa merasakan perasaan yang sama. Cinta tak mungkin bisa dipaksakan, bukan?

__ADS_1


Di sisi lain, Kana tak mampu menyembunyikan amarahnya. Ia pun mengabaikan beberapa orang yang menatapnya penuh tanya. Ia harus membuat Dirga merasakan apa yang ia rasakan. Selama ini, tak ada seorang lelaki pun yang berani meninggalkannya. Hanya dirinya yang boleh pergi ketika sudah bosan dan bukan seperti ini akhir kisahnya. Ia akan membuat lelaki itu menyesali keputusannya. Apa hebatnya istri lelaki itu darinya? Apa lelaki itu telah jatuh cinta pada istrinya, hingga meninggalkan Kana? Sungguh konyol. Tak ada seorang pun yang bisa lepas dari genggamannya.


Terlalu sibuk dengan pemikirannya, membuat Kana menabrak seseorang hingga terjatuh. Ia menggerutu dan menatap marah tangan yang terulur. Tak ditermanya tangan itu dan ia berusaha berdiri sendiri. Kana tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat bertemu lekaki itu.


"Drew," ucap Kana menarik lelaki itu ke sudut ruangan, sedang Drew yang tak tahu apa pun terpaksa menurut. Dulu, wanita itu adalah kesayangan tuannya, hingga ia terbiasa menghormati wanita itu.


Kana melepaskan cengkraman dan bersedekap dada. "Bagaimana istrinya Mas Dirga? Apa kamu ada fotonya?"


Drew tersenyum, mulai mengerti mengapa wanita itu mengajaknya berbicara. Dirga pasti telah mencampakkannya. Dalam hati, Drew merasa bangga dengan atasannya yang bisa mengambil sikap dan tak tergoyahkan. Drew dulu sudah lelah berusaha membuka mata Dirga agar menyadari siapa Kana sebenarnya. Untung saja, Dirga bertemu dengan Dhatu, hingga terbebas dari ular beracun di hadapannya.


"Maaf ... pesta pernikahan Pak Dirga tertutup. Yang artinya, semuanya menjadi rahasia," ucap Drew tersenyum sembari menundukkan kepala sekilas. Tanpa menunggu respon apa pun dari wanita itu, Drew segera meninggalkan wanita yang mengeram kesal karna sikapnya.


"Lihat aja kalian nanti!"


Drew dapat mendengar ancaman Kana, namun perkataan wanita itu semakin membuat senyumnya mengembang. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. Ia lega karna kini Dirga sudah menemukan cinta sesungguhnya. Ya ... walaupun cinta itu membuat atasannya sedikit tak waras, namun itu jauh lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2