
Keduanya menanti jawaban dan menatap Om Mirko dengan tatapan penuh tanya, sedang lelaki itu tersenyum sembari membereskan semua kelengkapannya.
"Gimana istriku, Om? Dia baik-baik aja, kan?"
Om Mirko menepuk-nepuk pundak Dirga. "Jauh lebih baik," ucap lelaki paruh baya itu sembari mengulurkan tangannya pada Dirga, "selamat Dirga. Kamu akan segera menjadi seorang ayah," lanjut Om Mirko menatap wajah terkejut keduanya secara bergantian.
"Apa maksud, Om, Dhatu?"
Om Mirko mengangguk. Dirga segera menoleh ke arah istrinya, kebahagiaan tersirat jelas pada wajah cantik Dhatu. Dirga segera memeluk erat wanita itu.
"Makasih, Sayang. Ini hadiah terindah." air mata haru mulai jatuh dan membasahi pipi Dirga. Hatinya dipenuhi suka cita.
Dhatu pun meneteskan air mata haru yang sama. Keduanya merasa begitu bahagia. Tak menyangka di balik kabar buruk, mereka malah menerima kabar bahagia. Keduanya berpelukan erat dan menangis terisak. Pemandangan di hadapan itu membuat hati Om Mirko menghangat, senyum terukir di kedua sudut bibir Om Mirko. Ia kini mulai mengerti mengapa ibu Dirga begitu membenci Kana.
Di sisi lain, di ambang pintu seorang wanita tengah mengamati keduanya dengan tatapan iri. Air matanya mengalir semakin deras, sesak di dadanya seakan membunuhnya perlahan. Ia tak tahu, apakah rasa yang menyelimuti hati hanyalah obsesi semata atau memang begitulah perasaan bernama cinta. Rasa yang tak pernah ia kenali sebelumnya. Rasa yang seharusnya tak pernah ada, agar ia bisa menjadi seperti dirinya yang dulu, tak berperasaan dan hanya memikirkan tentang uang.
***
Pagi-pagi sekali, Kana berpamitan pada Dhatu dan juga Dirga. Ia tak mau lagi menyangkal, ia telah lama kalah. Kana mengucapkan kata maaf berulang kali. Ia tahu, jika memang dirinya tak layak untuk dimaafkan. Mungkin tak ada seorang pun yang sudi memberikan maaf padanya, pendosa yang hanya tahu menghancurkan apa yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
"Aku harap, kamu menemukan kebahagiaanmu, Kana," ucap Dhatu seraya melepaskan pelukannya, "bukankah kamu bilang kalau kamu telah menemukan mimpimu kembali? Ini saat untuk menwujudkan semuanya," lanjut Dhatu mengusap lengan Kana.
Kana tersenyum mendengarkan perkataan Dhatu. Melihat tatapan mata antara Dhatu da juga Dirga membuatnya merasa begitu kesunyiaan. Hidupnya terlalu kelam, hingga tak mampu melihat melihat cahaya di sekitarnya. Dirinya memang bersalah, takdir terlalu kejam padanya atau mungkin dirnya yang terlalu bodoh? Andai saja, ia tak melepaskan cinta yang entah nyata atau hanya semu semata, maka dirinya akan berbahagia. Ia tak perlu bertindak gila seperti saat ini, bukan?
"Makasih atas semuanya dan sekali lagi, maafkan aku." Kana berucap, lalu melirik pada Dirga, "Mas ... maafin aku," lanjutnya. Air mata Kana kembali jatuh.
"Tanpa diminta, aku udah memaafkanmu, Kana. Hiduplah sebagai orang yang benar, maka kamu akan menemukan kebahagiaan yang selama ini kamu cari. Bahagia, tak harus menyakiti orang lain, Kana."
Kana tersenyum lirih. Kana tak pernah tahu, apa artinya bahagia karna tak pernah sekalipun ia merasakan rasa itu. Apa bahagia terasa seperti rasa senang yang ia rasakan ketikan bisa berbelanja banyak barang mahal? Tidak, karna sehabis berbelanja dan menyusun kembali barang-barang tersebut, dirinya kembali merasa sendiri, hatinya hampa, dan yang bisa ia lakukan hanya menatap kosong semua barang belanjaannya. Pada akhirnya, ia sadar, jika penampilan yang dipoles sedemikian rupa dilakukannya hanya untuk menutupi kesepian di hati, sebagai kedok untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Aku akan melakukan yang terbaik," ucap Kana berusaha tersenyum.
"Kamu bisa menempati apartemen itu selama yang kamu mau. Toh, tempat itu nggak terpakai. Setiap hari selama dua bulan ini, Bi Ina akan datang ke sana dan bantu membersihkan tempat tinggalmu. Aku mau kamu tahu, kalau kamu nggak sendiri lagi."
"Makasih banyak, Mas." Kana lalu menatap ke arah Dhatu, "Makasih banyak, Tu. Aku akan bahagia dengan caraku sendiri," lanjutnya.
Mereka semua berpisah. Dhatu dan Dirga menatap kepergian wanita itu. Mereka berharap, kali ini, Kana akan menemukan kebahagiannya sendiri, sebagaimana Dhatu dan Dirga yang tengah berbahagia. Keduanya harap, Kana bisa lebih melihat keindahan di sekitarnya. Dunia tak sekejam seperti yang wanita itu pikirkan.
***
__ADS_1
*Jika kamu mendengar pesan ini, tandanya aku sudah mati. Ya, Dirga. Aku ingin meninggalkan dunia yang kejam ini. Tempat di mana tak pernah ada cinta untukku. Mungkin, memang seperti itulah aku. Sejak awal kelahiran, hingga keputusan gila ini, tak pernah ada cinta di dalam hidupku.
Kau masih ingat, ketika aku bilang jika cinta adalah omong kosong dan kau terus meyakinkan, jika rasa itu nyata. Senyata perasaanmu padaku. Ternyata kamu memang benar dan aku yang salah.
Kau tahu? Aku lelah menjadi orang yang tak pernah dicintai. Kesendirian menusuk jiwaku dan kehinaan mengiris kulitku, meninggalkan rasa pedih yang begitu mendalam.
Apa sekarang kamu menganggapku terlalu mendramatisir keadaan? Tapi memang begitulah hidup, begitulah aku. Orang melodramatis yang norak. Tak mengapa Dirga. Semua ini bukan salahmu. Aku yang memang terlalu lemah. Aku bahagia dengan caraku sendiri. Meninggalkan dunia ini, berarti tak lagi merasa sendiri, tak lagi perlu menangis ketika sunyi memeluk erat jiwaku. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bahagia dan inilah cara yang kupilih.
Terima kasih karna sempat hadir di dalam hidupku. Jika suatu saat nanti, kehidupan kembali itu nyata adanya, maka aku hanya ingin menjadi orang yang dicintai.
Selamat tinggal, Dirga*.
Dirga menjatuhkan ponselnya. Kemarin, setelah sepeninggalan Kana. Dhatu dan Dirga mematikan ponsel, keduanya memutuskan untuk menikmati kebersamaan. Mengahbiskan waktu untuk merayakan buah hati mereka yang hadir dalam rahim Dhatu. Mereka melakukan banyak hal dan tak mempedulikan benda pipih yang telah menjadi dewa banyak umat manusia di zaman sekarang. Lebih banyak orang-orang yang lebih suka menghabiskan waktu dengan ponsel daripada manusia lain, hingga keduanya memutuskan untuk memiliki quality time tanpa gadget.
Siapa sangka keputusan itu malah membuat mereka mendengarkan kabar buruk itu. Dhatu yang mendengar pesan suara itu pun tak kuasa menahan air matanya. Bagaimana bisa wanita itu memutuskan bunuh diri? Bukankah kemarin Kana mengatakan jika ia akan bahagia dengan caranya sendiri. Kematian bukanlah jalan untuk menemukan kebahagiaan? Bagaimana bisa ada seseorang yang berpikir jika kematiaan jauh lebih baik daripada hidup? Mati artinya Kau tak punya kesempatan untuk menebus dosa, kehilangan kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Tak seharusnya ada orang di dunia ini merasa kematian jauh lebih baik dari hidup.
Kematian ... berarti kau kehilangan segalanya. Termasuk cinta yang kau tunggu.
***
__ADS_1
yang cari bahan bacaan bisa mampir ke sini!