
Dhatu keluar dari kamar mandi dan melihat Dirga sudah berpakaian rapi. Lelaki itu tersenyum padanya, berlagak seakan tak ada apa pun yang terjadi di antara mereka sebelumnya. Senyum polos yang lelaki itu pamerkan, entah mengapa malah membuat hati Dhatu pedih.
"Ganti baju, Tu. Ayok, kita makan malam!"
Dhatu tersenyum kikuk dan mengangguk pelan. Tampaknya, memang ciuman yang terjadi di antara mereka hanyalah kesemuan semata, tak berarti apa pun. Mungkin, bagi lelaki itu hanya seperti kecupan di pipi. Dirinya yang terlalu banyak berharap, hingga tak mampu menghilangkan kekecewaan yang merasuki hati. Hanya dirinya yang menganggap ciuman di antara mereka berarti sesuatu. Benar kata orang, terlalu banyak berharap, akan membuat kekecewaan hadir dan menyelimuti hati.
"Mau makan di mana?" Dhatu berjalan ke arah koper dan memilih pakaian yang pantas. Walau bagaimanapun, ia tak mau terlihat seperti seorang pembantu saat berjalan dengan lelaki setampan Dirga.
Dhatu akan belajar bersikap seakan tak ada yang terjadi di antara mereka, ia akan berusaha menyamai pemikirannya dengan lelaki itu. Ya, mereka hanya tengah bermain rumah-rumahan, tak perlu memasukkan perasaan ke dalam permainan itu. Anggap saja mereka adalah aktor dan aktris yang tengah berperan dalam sebuah drama. Pada akhirnya, hanya ada sandiwara di antara mereka.
"Restoran hotel. Aku udah reservasi tempat di dekat pantai. Kita harus menikmati liburan ini selagi bisa. Entah kapan, kita bisa berlibur lagi, 'kan?" pertanyaan itu seakan diajukan Dirga untuk dirinya sendiri.
Mungkin, setelah perjalanan ini, mereka akan kembali seperti dua orang asing. Selagi bisa, ia ingin menikmati kebersamaan yang akan segera berakhir begitu mereka kembali ke Jakarta. Kembali kepada kenyataan di mana tak pernah ada hubungan di antara mereka. Lebih baik terjebak semu di kota lain dan belajar menerima kenyataan saat kembali.
Dhatu tersenyum tipis, mengangguk, menyetujui perkataan Dirga barusan. Ya, entah kapan mereka akan berlibur bersama lagi. Setelah perjalanan itu berakhir, maka ilusi yang mereka bangun bersama pun akan segera sirna.
"Aku ganti baju sebentar," ucap Dhatu seraya membawa pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi.
Menit demi menit telah berlalu. Dhatu keluar dari kamar mandi dan Dirga membeku sesaat melihat Dhatu yang sudah tampak cantik dengan balutan dress hitam klasik tanpa motif yang dipadukannya dengan anting dan kalung gold. Riasan natural pada wajahnya, membuat wanita itu terlihat cantik dan juga lebih fresh. Dirga tanpa sadar membuka mulut, tak percaya Dhatu bisa berdandan seperti sekarang.
Dhatu yang ditatap sedemikian oleh Dirga menjadi salah tingkah. Ia tersenyum kikuk, lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
__ADS_1
"Aku kelihatan aneh, ya?"
Cepat-cepat Dirga menggeleng. "Nggak, kok." ia mengulurkan tangan pada Dhatu, "kita pergi sekarang?"
Dhatu mengangguk, lalu menerima uluran tangan Dirga. Untuk sesaat ia ingin terjebak dalam kesemuan di antara mereka. Anggap saja dirinya adalah Cinderella yang bisa menikmati pesta dansa bersama pangeran hingga tengah malam, semua keajaiban dalam hidupnya akan berakhir begitu mereka kembali ke Jakarta. Oleh sebab itu, Dhatu ingin menjad Cinderella yang egois dan menikmati moment singkat di antara mereka.
Keduanya berjalan beriringan. Dhatu tak lagi harus berjalan di belakang dan tak terlihat. Kini, lelaki itu membiarkanya berjalan di sisinya dan semua ini sudah lebih dari cukup bagi Dhatu. Ia bahagia dan takut dikutuk, jika menginginkan lebih. Biarlah, hanya untuk sementara merasakan mejadi pendamping lelaki itu, daripada tidak sama sekali.
Beberapa menit kemudian, keduanya tiba di restoran. Seorang pramusaji menuntun mereka menuju pantai melalui pintu samping restoran. Di sana, tepatnya di bawah pohon kelapa yang tak jauh dari bibir pantai, sepasang kursi yang mengapit meja bulat telah diisi dengan berbagai makanan. Gelas-gelas kecil berisi lilin menyala, sengaja dibentuk hati dan disusun di dekat meja. Tampak indah dan Dhatu bagai tengah berada di negeri dongeng. Diperlakukan sedemikian rupa membuat hatinya dipenuhi kebahagiaan. Ia tak pernah menyangka, jika Dirga mau mempersembahkan suasana romantis bagi dirinya yang bukan siapa-siapa bagi lelaki itu.
"Kamu suka?" bisik Dirga, membuyarkan lamunan Dhatu yang berdiri mematung di tempatnya saat melihat pemandangan di depan matanya itu.
Dirga menautkan kedua alis, lalu tertawa kecil. "Kok, kenapa? Kamu istriku dan sudah sepatutnya aku memberikan hal seperti ini padamu."
Perkataan Dirga membuat jantung Dhatu berhenti berdetak untuk hitungan detik, lalu berdebar tak menentu. Bolehkah ia mempercayai dan menerima semua keindahan semu ini? Apa benar lelaki itu melakukannya hanya karna Dirga menyadari posisi Dhatu yang tidak lain adalah istrinya?
Tak ingin terus membuat Dhatu bertanya-tanya. Dirga menautkan jemari mereka, tersenyum, dan menuntun Dhatu berjalan ke arah meja yang telah disiapkan untuk mereka. Dirga menarik kursi, mempersilahkan Dhatu duduk, lalu dirinya mengambil tempat di hadapan wanita itu.
Sang pramusaji, membuka satu-satu persatu makanan yang telah disiapkan, mempersilahkan keduanya bersantap, lalu meninggalkan mereka berdua.
"Kamu suka sama pilihan makanannya?"
__ADS_1
Dhatu menatap seisi meja dan mengangguk. "Suka sekali Tuan Dirga yang terhormat."
Dirga berdesis sebal. "Kamu merusak suasana, Tu."
Dhatu tergelak pelan. "Suka banget, Mas."
Dirga menggenggam tangan Dhatu yang berada di meja. Hatinya berdesir hangat dan jantungnya berdebar kencang, hingga dirinya tak mampu mengartikan rasa itu.
"Maaf karna selama ini, aku menyusahkanmu. Selama seminggu ini, aku ingin memperlakukanmu dengan baik. Sebagaimana selayaknya."
Hanya seminggu? Lalu, setelah itu, mereka akan kembali seperti semula? Tanya itu menghantui Dhatu, namun bibirnya terlalu kaku, hingga tak mampu melayangkan tanya.
"Apa semua ini karna ciuman tadi?" Dhatu tersenyum lirih, "kamu nggak perlu melakukan semua ini karna memang nggak ada kesalahan yang harus dimaafkan." Dhatu menunduk, "hanya saja ... aku ...."
Dhatu tak sanggup jujur. Jika ia merasakan gejolak asing yang membuatnya menginginkan lelaki itu, namun tak sanggup meneruskan karna tak ada cinta di antara mereka. Lelaki itu bukan sepenuhnya miliknya. Hubungan mereka hanya sekedar kata-kata tak bermakna di atas buku nikah, tak memiliki arti. Ada wanita lain di hati lelaki yang seharusnya hanya memikirkannya, sebagaimana lelaki itu di dalam hati maupun benaknya.
Dirga mengeratkan genggaman tangannya, membuat Dhatu menoleh. Senyum lelaki itu seakan menghipnotis. "Aku nggak akan merasa bersalah dengan hal yang memang seharusnya terjadi di antara kita. Bukan karna ciuman itu, Tu. Hanya saja ...." Dirga mendadak gugup, tak pernah sekalipun ia merasa kesulitan berbicara di depan seseorang.
"Hatiku terasa aneh saat bersamamu dan aku mau mencari tahu arti dari perasaan ini. Bolehkah aku mempelajarinya terlebih dahulu?"
Dhatu terdiam, tak mengerti akan maksud lelaki itu. Hati terasa aneh? Apakah seperti apa yang ia rasakan pada lelaki itu?
__ADS_1