
Hari-hari kebersamaan mereka selalu dipenuhi dengan tawa, hingga ada saat Dhatu merasa takut karna semua kebahagiaan yang memenuhi bathinnya. Bagaimana jika suatu saat kebahagiaan itu sirna? Mampukah dirinya tetap bertahan? Semua yang terjadi dalam hidupnya terlalu indah, bahkan untuk menjadi sakadar mimpi.
Lingkaran pada perut menyadarkan keterpakuan Dhatu yang tengah termenung di balkon kamar. Sehabis makan malam dan membersihkan diri, Dirga berpamitan ke ruang kerja, ada sedikit pekerjaan yang harus dilakukannya. Dhatu membuatkan kopi, lalu mendekam dalam kamar agar tak mengganggu lelaki itu. Setelah kejadian dengan Krisna tadi sore, Dhatu mendadak merasa kerdil. Perbedaan yang begitu kental membuatnya ketakutan.
"Suda selesai pekerjaanmu, Mas?" tanya Dhatu mengusap tangan lelaki itu yang melingkar pada perutnya. Dirga menempatkan dagunya pada pundak kecil Dhatu, menyelipkan wajahnya pada leher jenjang wanita itu dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang membuatnya kecanduan. Dirga mengeratkan pelukannya.
"Aku merindukanmu," bisiknya tepat di telinga Dhatu, membut bulu kuduk wanita itu berdiri.
Dhatu tertawa kecil. "Baru juga berpisah selama satu jam."
Dirga cemberut. "Satu jam bagai satu tahun, Sayang."
Dhatu tergelak sembari menggeleng-geleng. "Kamu béneran lebay plus gombal, Mas."
Dirga membalik tubuh Dhatu ke arahnya. "Semua ini karnamu, Tu. Kamu yang mengubahku menjadi aku yang sekarang," ucap Dirga sambil mengusap lembut wajah Dhatu, "kamu pake pelet apaan sih, Tu?" lanjut Dirga menatap Dhatu meneliti.
__ADS_1
Dhatu terbahak. Ya Tuhan ... lelaki di hadapannya itu sungguh menggemaskan. Tangan Dhatu terjulur dan mencubit gemas kedua pipi suaminya. "Kamu gemesin banget sih, Mas. Aku pake pelet yang buat kasih makan ikan itu."
Dirga tergelak, lalu menggenggam kedua tangan Dhatu yang berada di pipinya. Digenggamnnya tangan wanita itu erat-erat. "Jangan pernah ninggalin aku ya, Tu."
Dirga selalu merasa tak aman karna cinta yang baru saja ia rasakan. Dulu, ia tak pernah merasakan perasaan sebesar dan seindah ini. Ia yang tak pernah mencintai, tak tahu, jika cinta bisa membuat keadaan seseorang separah ini.
Dhatu mengangguk. "Aku nggak akan mungkin meninggalkanmu, Mas. Aku bisa mati tanpamu."
Dhatu mempertipis jarak di antara wajah mereka, bibir keduanya saling berpagut dan bergerak seirama. Ciuman yang tadinya penuh kelembutan, kini mulai mengganas. Tangan Dirga tak tinggal diam dan menelusuri punggung wanita itu. Ciuman Dirga turun ke leher, hingga ke bahu Dhatu. Tangannya pun tak tinggal diam dan menyelinap masuk ke dalam baju tidur bertali satu yang Dhatu kenakan. Ia mengusap inti wanita itu, membuatnya mengerang tertahan. Nafas keduanya memburu dan desahan Dhatu memancing gejolak Dirga. Ia menghentikan serangannya dan menatap ke dalam manik mata wanita itu.
"Buat anak, yuk!" Dirga tersenyum menggoda.
***
Dhatu mengukir senyum, mencoba terlihat sebiasa mungkin begitu memasuki ruang kerjanya. Dhatu menghentikan langkah begitu melihat Krisna menatapnya sekilas, lalu menbuang wajah ke arah lain. Ada nyeri di hati Dhatu, seakan kehilangan hal yang penting bagi hatinya. Dhatu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, ia mencoba menguatkan dirinya sendiri. Ia segera menghampiri meja Mira dan memberikan amplop yang sedari tadi berada di genggamannya.
__ADS_1
"Apa ini, Tu?" tanya Mira sembari menatapnya penuh tanya.
Dhatu tersenyum tipis dan berujar pelan. "Surat resign. Aku akan tetap bekerja sampai sebulan ke depan sesuai peraturan perusahaan."
Mira tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. "Kenapa tiba-tiba? Kok, aneh ... aku nggak nyangka." Mira bergumam, masih tak percaya, "apa sesuatu terjadi? Bukankah kamu membutuhkan pekerjaan ini?"
Dhatu tersenyum tipis. Ia tahu, keputusannya pasti membuat banyak orang merasa terkejut. Terlalu tiba-tiba, sebagian orang akan merasa senang dengan kepergiannya, dan mungkin hanya sebagian kecil yang merasa kehilangan. Dhatu sudah memikirkan semuanya dan yakin jika inilah yang terbaik bagi mereka semua. Melihat kecanggungan yang tercipta antara dirinya dan Krisna, semakin membulatkan tekadnya.
"Ini keputusanku, Mbak. Ada beberapa hal yang nggak bisa kujelaskan sama Mbak. Yang pasti, aku udah memikirkannya matang-matang."
Mira menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ada jeda sebelum Mira berkata. "Aku menghargai keputusanmu, Tu. Semoga ini yang terbaik." Mira mengulurkan tangan dan tersenyum pada Dhatu. Dhatu menerima uluran tangan wanita itu dan mengucapkan terima kasih.
Dhatu segera duduk di mejanya. Ia tak menyukai keadaan mereka yang mendadak berlagak bagai orang asing. Tak ada sapaan selamat pagi, bertukar kabar maupun cerita. Senyap, ada jarak tak kasat mata yang memisahkan keduanya. Sungguh, tak semua cinta terasa indah. Sebagian menyesakkan seperti ini dan cinta seakan merusak hubungan yang tadinya baik-baik saja. Cinta terlalu banyak jenisnya dan Dhatu tak menyukai cinta seperti ini. Cinta yang seharusnya tak perna ada di antara mereka.
Dhatu mulai menyalakan komputer dan memulai pekerjaannya. Diam-diam banyak yang menatap Dhatu dan Krisna dengan tatapan penuh tanya. Mereka heran, mengapa kedua orang yang kemarin masih terlihat baik-baik saja dan juga akrab, dalam sekejap bisa menjauh seperti ini.
__ADS_1
Dhatu dan Krisna sama-sama menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing. Menatap ke komputer dan tak sekalipun saling berpandangan. Mereka bahkan terlihat tak sudi saling bertukar senyum. Dhatu rasanya ingin menangis, kehilangan salah satu orang yang memiliki peran penting di hatinya, membuat dirinya terluka. Andai saja ia dapat memutarbalikka waktu, maka semua ini tak 'kan pernah terjadi. Mengapa lelaki itu harus menghancurkan apa yang ada di antara mereka? Mengapa harus menyelipkan perasaan itu ke dalam hati yang sudah nyaman dengan keadaan sebelumnya.
Menit demi menit telah berlalu. Jam istirahat makan siang telah tiba, Dhatu merenggangkan tubuh pada sandaran kursi. Ia menoleh sekilas ke arah Krisna, saat ia ingin meminta maaf, lelaki itu segera bangkit berdiri, membuatnya menarik kembali keberanian dan juga kata-kata yang belum sempat diucapkan. Dhatu tersenyum miris melihat punggung Krisna yang menghilang di balik pintu ruangan yang telah tertutup kembali. Dhatu tak menyukai perasaan yang menyelimuti hatinya. Ia ingin hubungan mereka kembali seperti dulu lagi. Waktunya hanya sebulan lagi dan ia harap, sebelum saat itu tiba Krisna bisa mengerti akan perasaannya pada Dirga dan juga memaafkannya.