
Ponsel Dirga berbunyi, membuyarkan fokusnya. Nama Bi Ina terpampang pada layarnya. Dhatu meminta wanita tua itu untuk pergi mengunjungi Kana dan membantu wanita itu membersihkan rumahnya. Bi Ina pasti ingin mengabari apa yang terjadi di sana. Dhatu segera mengambil ponsel Dirga dan menjawab panggilan tersebut. Dirga masih terlalu terkejut, hingga terpaku, hingga Dhatu harus menjadi kuat dan mengurus semuanya. Begitulah pasangan bukan, saat ada yang lemah, maka yang lainnya harus menguatkan.
"Iya, Bi ... kami mengerti ... ya ... kami akan segera ke sana." Dhatu segera menutup panggilan. Ia duduk di samping Dirga dan memeluk tubuh lelaki itu.
"Bi Ina menemuk mayat Kana di bath tub. Kita diminta ke sana untuk mengurus semua dengan polisi dan juga menguburnya. Kana nggak punya keluarga, hingga kita harus mengurus semuanya," Dhatu mengelus-elus punggung suaminya.
"Aku hanya terkejut, Tu. Bagaimana bisa aku nggak menyadarinya?" Dirga menoleh pada Dhatu, "aku jahat banget ya, Tu? Seharusnya, aku nggak begitu keras padanya. Nggak ada orang yang pantas mengakhiri hidup hannya karna merasa nggak dicintai. Aku telah memberikannya harapan, lalu aku yang merenggut semuanya," lanjut Dirga mengusap wajahnya gusar.
Dhatu menatap sendu suaminya. "Ini bukan salahmu, Mas. Harusnya juga aku bisa lebih peka," air mata Dhatu jatuh, "mungkin, jika sejak awal, aku nggak pernah hadir dalam hidupmu, maka semua ini nggak akan terjadi. Kana nggak mungkin memutuskan keputusan gila seperti ini," ucap Dhatu terisak.
Dirga segera memeluk Dhatu erat-erat. Ia tak suka mendengar wanita itu merasa bersalah. Dirinya akan lebih menyesal, jika Dhatu tak masuk ke dalam hidupnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya, bila Dhatu tak pernah hadir. Ia memang merasa bersalah, namun tak berarti dirinya menyesal karna telah menemukan cinta dalam diri Dhatu. Ia tak mau cinta yang lain, selain wanita itu. Hanya dirinya lah yang mampu membuatnya merasakan cinta yang sesungguhnya.
"Tu ... jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Hatiku pedih mendengarkan ucapanmu, Tu. Bagiku, pertemuan kita adalah anugerah terindah, nggak ada sedikitpun penyesalan dalam hatiku, Tu. Kamu membawa ke dunia baru penuh cinta, tanpamu, mungkin hidup ku tak kan berwarna seperti sekarang," Dirga melepaskan pelukan dan menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya, "kamu nggak akan tahu, betapa besar cintaku padamu, Tu. Memang terdengar konyol, namun cinta terjadi begitu aja. Nggak perlu alasan dan juga waktu, tiba-tiba aja, kita terjebak di dalamnya," lanjut Dirga tersenyum lembut. Tatapan matanya menyiratkan cinta yang begitu dalam. Cinta yang sama besarnya seperti cinta yang Dhatu miliki.
__ADS_1
"Tapi ... aku merasa ikut bersalah karna kepergiaannya, Mas."
"Tu ... merasa bersalah itu menusiawi, tapi jangan membiarkan rasa itu mengkonsumsimu dan melupakan hal baik di sekitarmu," Dirga mengusap-usap lembut wajah Dhatu, "aku merasa bersalah karna nggak bersikap terlalu keras padanya. Jika aku menurutimu dan mencoba membimbingnya lebih awal, maka dia nggak akan merasa sendiri."
Dhatu menggeleng. "Kamu membimbingnya, memberikannya pekerjaan, dan ingin memperbaiki hidupnya. Kamu telah berusaha sangat keras, Mas. Kamu memikirkan kebaikannya dan aku bangga padamu."
Keduanya saling berbagi senyum, mereka saling menguatkan. Hati manusia adalah samudera paling dalam dan sulit diselami, hingga kita tak kan pernah bisa tahu apa yang ada di hati orang tersebut. Mereka bisa saja terlihat bahagia, namun nyatanya hancur. Mereka bisa saja tersenyum, tetapi hati menangis. Tak ada yang bisa menebak isi hati orang lain. Oleh karna itu, saat kita merasa terpuruk, baiknya kita segera mencari bantuan. Pada dasarnya, tak ada seorang manusia pun yang mampu menghadapi semuanya sendiri.
"Ayok, kita urus semuanya, Mas. Kana membuthkan kita dan inilah hal terakhir yang bisa kita lakukan untuknya," ucap Dhatu sembari mengusap-usap punggung suaminya. Keduanya saling berbagi senyum dan segera bangkit berdiri untuk mengantarkan kepergiaa Kana.
Panti asuhan di mana tempat Kana dibesarkan telah menjadi tempat di mana tubuh kaku wanita itu dimandikan dan menjalani beberap ritual untuk mengantarkan kepergiaannya. Acara doa dilakukan di sana. Dhatu tersenyum lirih. Sesungguhnya, banya orang yang mencintai Kana, apalagi ibu panti, Maria. Wanita tua yang memperlakukan semua anak-anak pantinya sama rata. Menjadi ibu bagi mereka semua. Wanita tua itu berteriak histeris dan tak mampu menyembunyikan kesedihannya begitu melihag jenazah Kana. Wanita itu hancur-sehancurnya. Andai saja Kana dapat melihat pemandangan sekarang, maka dirinya pasti tahu, jika begitu banyak cinta di sekitarnya. Yang perlu wanita itu lakukan adalah membuka matanya dan melihat sekeliling. Orang-orang berdatangan dan mengantarkan kepergiannya ke rumah Yang Maha Kuasa dengan kesedihan yang mendalam.
"Kana sebenarnya adalah anak yang baik," ucap Maria seraya menatap Dhatu, "dia bekerja keras demi membantu panti ini agar tetap bisa berdiri. Kami nggak tahu apa pekerjaannya, tapi setiap bulannya, Kana nggak pernah berhenti mengirimkan uang untuk adik-adiknya."
__ADS_1
Dhatu tersenyum lirih dan menggenggam tangan Maria. Ya, itulah yang Dhatu percayai. Pada dasarnya, semua manusia itu terlahir baik. Begitupun dengan Kana yang terlihat tak memiliki hati dan kehangatan. Pada nyatanya, masih ada benih kebaikan yang terus berkembang. Kebaika yang entah mengapa tak dapat dirasakan wanita itum Andai saja dapat mengulang waktu kembali, maka Dhatu ingin memperlihatkan pemandangan ini pada Kana.
"Wajahnya tersenyum. Walau ini mengejutkan, tapi saya tahu, jika ini pilihannya. Ini caranya untuk berbahagia dan mungkin memang dengan cara inilah dia bisa merasa tenang," Maria tersenyum miris, "tentunya, saya nggak bisa menerima atau membenarkan perbuatannya. Hanya saja, manusia terkadang membuat pilihan yang salah dan bukan tempat kita untuk menghakimi manusia lainnya," lanjut Maria.
Dhatu mengangguk-angguk mengerti. "Ya, Bu. Kami nggak akan menghakiminya. Aku tau, jika Kana mempunyai kebaikan dalam dirinya."
Marie tersenyum lirih. "Maafkan kesalahannya. Setidaknya, berikan sedikit kedamaian untuk hatinya."
Dhatu mengeratkan genggamannya. "Tanpa Ibu minta, aku dan suami nggak pernah membenci Kana. Kami telah memaafkan apa yang telah dilakukannya."
Bu Maria tersenyum bahagia dan segera memeluk Dhatu. "Terima kasih, Nak."
Air mata keduanya mengalir, begitu tanah telah menutupi peti mati yang menjadi ranjang terakhir tempat Kana beristirahat. Hidup memang tak selalu mudah, tak juga selalu indah, namun jika kita bertahan sedikit saja, maka kita bisa menemukan banyaknya alasan kita untuk berbahagia. Mungkin, hari ini kita memangisi kehidupan yang terasa tak adil dan kejam, akan tetapi, bisa saja, esok kita menertawakan apa yang telah terjadi dan menjadikan semua kemirisan itu sebagai lelucon.
__ADS_1
Dirga menghampiri Dhatu, keduanya tersenyum lirih dan saling berpelukan. Yang mereka sesali adalah, tak dapat membuat Kana melihat arti cinta yang sebenarnya. Mereka akan menjadikan kisah tentang Kana ini sebagai pelajaran, jika hidup harus diperjuangkan.