Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Rasaku Begitu Besar


__ADS_3

Dirga masih menunjukkan wajah marah. Sedari tadi, ia ingin memberikan SP tiga pada kedua wanita yang membicarakan buruk Dhatu di ruang pantry, namun berulang kali Dhatu melarangnya. Padahal Dirga pikir, wanita seperti kedua orang itu patut diberikan pelajaran agar tak bertindak sesuka hatinya lagi. Tak seharusnya ada orang yang tega membicarakan orang dengan cara seperti itu.


"Mereka nggak bisa dibiarkan, Sayang." Dirga mencengkram erat kemudi, sedang Dhatu tersenyum tipis menatap kemarahan lelaki itu.


"Aku tahu, Mas. Tapi, kalau kamu membelaku dengan cara memberikan hukuman pada mereka, maka secara nggak langsung kamu akan membenarkan perkataan buruk mereka."


Dirga menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. "Mereka nggak seharusnya berkata sesuka hati. Merendahkanku juga dengan pemikiran mereka. Apa mereka pikir, aku seperti CEO nakal di novel ataupun film yang tengah marak bertema seperti itu? Konyol!" Dirga mengembuskan napas gusar.


Sungguh, Dirga bukanlah seorang suci. Ia suka bersenang-senang dan kerap melakukan kesalahan, akan tetapi dirinya selalu memisahkan antara pekerjaan dan juga urusan pribadi. Dirga bertanggungjawab, walau memang tak sepenuhnya baik. Ia paling benci dengan fitnah. Salah satu kejahatan yang tak bisa ditolerir. Fitnah itu paling bahaya, bisa memecahbelahkan seseorang, dan juga menghancurkan.


Dhatu mengusap-usap lengan Dirga, mencoba mengurangi amarah yang menguasai hati lelaki itu. Dhatu tak ingin hati Dirga terus dipenuhi dengan kebencian. "Udahlah, Mas. Mereka juga pasti telah mengerti kesalahan mereka. Lagi pula tiga minggu lagi aku akan segera keluar dari perusahaan. Aku baik-baik aja."


Dirga menatap Dhatu sekilas, lalu mengembuskan napas gusar. "Aku nggak bisa terima jika ada orang yang membicarakan buruk tentangmu. Aku nggak bisa terima, jika ada orang yang berpikiran buruk tentangmu. Aku nggak menyukainya, Sayang!"


Dirga selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Pria itu tak pernah gagal membuat hatinya dipenuhi kebahagiaan. Dirga selalu menjaganya dengan baik dan memberikan semua yang terbaik untuknya. Lelaki itu tak sekalipun mau membuatnya terluka. Entah beruntung atau memang Tuhan terlalu mencintainya hingga mengirimkan seseorang seperti Dirga untuknya. Seseorang yang telah mengubah hidupnya.


"Aku ngerti, Mas. Tapi, jangan lakukan semua itu. Orang seperti golongan kami, membutuhkan pekerjaan untuk tetap mengisi perut. Marah boleh, tapi jangan sampai kita memutus mata pencarian seseorang. Jika kamu memberinya SP tiga, tentu saja itu akan mempengaruhi pehitungan bonusnya di akhir tahun dan kenaikan gaji di awal tahun, jadi jangan lakukan itu."


Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ia tahu benar arti dari perkataan Dhatu. Memang tak seharusnya ia terbawa emosi, hingga mengurangi pendapatan orang yang pas-pasan. Dirinya seharusnya mensejahterakan para pekerja, bukan mengurangi pendapatan orang lain.


"Baiklah ... maafin aku, Sayang," ucap Dirga tersenyum, "tapi kalau aku mendengarnya kembali menjelek-jelekkanmu, jangan salahkan aku kalau nggak bisa mengontrol diri."

__ADS_1


Dhatu mengangguk-angguk dan kembali mengusap lengan suaminya. Ia tak bisa menjamin sikap seseorang, tapi ia harap hal seperti tadi tak 'kan terulang lagi.


Perjalanan yang memakan waktu dua puluh menit itu pun berkahir. Keduanya sudah tiba di rumah. Setelah membersihkan diri, Dirga menemui Dhatu yang tengah menyiapkan makan malam mereka. Keduanya bersantap dengan masakan Dhatu yang dimasaknya dengan cepat setelah membersihkan diri. Asisten rumah tangga yang dipekerjakan Dirga hanya bertugas membersihkan rumah, sementara Dhatu mengambil alih hal memasak karna Dirga terlalu menyukai masakan Dhatu dan tak ingin mencicipi masakan orang lain, selain hasil karya tangan istrinya.


"Kenapa kamu makannya dikit, Tu?" Dirga memperhatikan Dhatu yang beberapa hari ini kehilangan nafsu makan.


Dhatu tersenyum tipis. "Nggak tahu, Mas. Beberapa hari ini lagi nggak selera makan."


"Kamu nggak enak badan?" tanya Dirga khawatir sembari menatap Dhatu meneliti. Lelaki itu segera berdiri dan duduk di samping Dhatu, diletakkannya punggung tangannya pada kening Dhatu.


"Nggak panas, kamu pusing atau gimana? Kita ke rumah sakit aja."


"Makan dikit ya. Harus dipaksain, setelah itu kita ke Dokter."


"Aku baik-baik aja, Mas."


Dirga berdecak sebal. "Jangan bandel, Sayang. Sini aku suapin." Dirga mengambil piring Dhatu dan menyuapi wanita itu penuh kasih. Dhatu yang tak ingin berdebat lagi tersenyum dan menyantap makanannya dengan perlahan.


"Sejak beberapa hari ini, kamu nggak selera makan. Jangan diikutin rasa mualnya. Jangan membantah lagi, sehabis makan, kita langsung ke dokter."


Dhatu mengangguk. Tak mau lagi membantah ataupun berdebat dengan Dirga. Keduanya bertukar senyum, Dirga menghadiahi puncak kepala Dhatu dengan usapan lembut saat wanita itu menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Mulai besok, aku bakalan suapin kamu biar makannya lahap kayak gini."


Dhatu tertawa kecil. "Aku udah besar dan bisa makan sendiri, Mas."


"Makan sendiri apanya? Kamu makannya selalu dikit banget akhir-akhir ini. Sakit jangan disimpan, Sayang. Kalau dibiarin, akan lebih parah, jadi kamu kalau nggak enak badan, harus cepet laporan sama aku, ya!"


Dhatu meletakkan tangan di kening, bagai tengah hormat. "Siap, Pak Bos!"


Keduanya tertawa bahagia. Entah apa yang telah Dhatu lakukan padanya, Dirga tak bisa lagi melihat ke arah lain bila mereka bersama. Ia tak pernah merasakan perasaan yang sehebat ini, rasa yang begitu sukainya. Kata orang, tak ada yang abadi di dunia ini, namun bersama Dhatu, Dirga seakan mampu menemukan keabadian dalam rasa yang menyelimuti hati mereka. Konyol memang, namun Dirga merasa seperti itu. Wanita itu datang dan menjungkirbalikkan dunianya yang semulai tenang dan monoton. Dhatu memberikan banyak warna dalam hidupnya.


"Dhatu ... andai kamu merasakan sebesar apa rasa yang kumiliki padamu. Jangan membuatku khawatir. Hatiku tersakiti saat melihatmu bersedih ataupun sakit," Dirga mengusap lembut wajah Dhatu, "pokoknya kamu nggak boleh sakit!"


Dhatu terbahak mendengarkan perintah Dirga. Dirinya hanyalah manusia biasa yang tentu saja bisa sakit walau ia tak menginginkannya. Manusia mana yang tak pernah jatuh sakit, bukan? Tak mungkin dirinya bisa menepati permintaan suaminya itu.


"Kamu beneran aneh, Mas. Aku nggak ada kuasa untuk mencegah diri untuk nggak jatuh sakit, kan?"


Dirga memeluk Dhatu secara tiba-tiba, membuat tubuh wanita itu menegang sesaat. Dhatu tersenyum dan mengusap-usap punggung suaminya. Ia tak mengerti mengapa Dirga bisa setakut ini. Walaupun sakit, paling dirinya hanya demam biasa.


"Dulu ... ada seseorang yang berjanji nggak akan pernah meninggalkanku, lalu dia pergi gitu aja. Pergi untuk selamanya dan karna itu, aku paling takut kalau orang yang kusayangi sakit, Sayang." Dirga melepaskan pelukannya dan menatap Dhatu memohon, "Jadi, aku mohon jaga kesehatan dan usahakan untuk nggak jatuh sakit ya, Sayang."


Dhatu terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Ya, aku janji, Mas."

__ADS_1


__ADS_2