Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Sangkala yang Mengubah Hati


__ADS_3

Pernahkah kau bercermin, lalu tersenyum miris pada pantulan diri yang berada di sana? Menertawakan wajah bodohnya yang tampak penuh dengan penyesalan?


Kau menanyakan padanya; "Hai kamu, bagaimana kabarmu hari ini? Pasti ada beberapa keputusan yang kau sesali, bukan? Atau mungkin, kini, hidupmu hanya tentang penyesalan semata?"


Kau berharap memiliki mesin waktu yang akan membawamu kembali ke masa lalu, dan berharap dapat memperbaiki semuanya. Mungkin saja, dirimu di hari ini lebih baik daripada sekarang jika kau bisa melakukan hal yang terdengar mustahil itu? Memutar balikkan waktu. Ah ... andai saja hal itu benar adanya. Mungkin, tak 'kan ada orang yang memiliki penyesalan di dalam hatinya.


Namun sayang, waktu bukanlah hal yang bisa kau dapatkan kembali begitu dilepas. Kau tak 'kan bisa kembali ataupun mengejar ketertinggalan yang ada. Kehilangannya tak 'kan mungkin bisa kau bawa kembali.


Sangkala akan terus melaju tanpa mau menunggumu. Yang kau bisa lakukan, adalah berusaha menerima keadaan. Menyesal pasti, namun jangan jadikan penyesalan sebagai tali yang mengikat erat kakimu, membuatmu takut melangkah maju.


Begitulah hidup ... harus dijalani walau berat. Harus disyukuri, meski penuh penyesalan. Pada akhirnya, hidup adalah tentang melangkah maju dengan menerima apa yang kita miliki saat ini.


Begitupun dengan Dhatu yang dulu kerap menatap pantulan dirinya. Bertanya akan keputusan-keputusan yang telah diambilnya. Adakah penyesalan di sana? Saat baru saja berpisah, hampir setia hari Dhatu menangisi keadaan, menyesal karna telah melepaskan cinta yang begitu disukainya. Merasa bodoh karna bersikap terburu-buru dalam mengambil keputusan yang nantinya akan mempengaruhi masa depannya. Mampukah dirinya menertawai apa yang telah terjadi di masa lalu, atau terus tenggelam dalam duka yang tercipta? Kini, Dhatu menemukan semua jawaban atas semua pertanyaan yang sempat menganggu benaknya.


Meski tatapan mata lelaki itu memaksanya kembali ke masa lalu, hati Dhatu tak bisa turut kembali ke masa yang telah lama ia tinggal pergi. Dirinya tak merasa menyesal seperti yang ia kira. Perlahan, waktu menyembuhkan hati dan mengajarkannya tentang arti melepaskan. Ia sadar, tak ada gunanya memaksakan apa yang memang tak pernah ditakdirkan bersama. Seperti dirinya dan Alvin. Sangkala menghapus semua rasanya perlahan, ia belajar menerima keadaan, dan tak lagi berusaha kembali ke masa lalu.


Kini, ia bisa menatap bangga pantulan dirinya di cermin dan berkata; "Hai kamu, gimana kabarmu? Setelah belajara melepaskan dan menerima, apakah hatimu kini jauh lebih baik? Kau bisa tersenyum dan menemikan tawamu kembali, bukan?"

__ADS_1


Kau memang bodoh. Berpikir, hidupmu akan berhenti di titik itu, saat di mana kau memutuskan melepaskan satu-satunya hal yang dulu membuatmu bahagia.


Kau memang terlalu lugu, saat berpikir kehidupanmu hanya berpusat pada satu titik. Tak seharusnya kau memperjuangkan dia yang terus menolakmu. Tak seharusnya kau meneteskan air mata demi dia yang tak menginginkan keberadaanmu.


Kini, kau menertawakan kebodohanmu, bukan? Sudah sejak awal kubilang, kalau semuanya akan baik-baik saja. Kau saja yang terlalu takut. Takut hatimu tak lagi bisa berdebar seperti saat bersamanya. Takut, tak ada lagi cinta yang bisa kau dapatkan.


Kini, tataplah dia dan beritahu padanya. Jika semua cerita lama tentang kalian, tak lagi mampu mengoyahkan duniamu. Kau telah pergi jauh meninggalkan titik di mana kau menunggunya dalam asa. Kau tak lagi mengharap cinta yang tak pernah menginginkan dan membanggakan siapa dirimu.


Dhatu berharap, Alvin bisa sama sepertinya, melanjutkan hidup dengan tak lagi membawa penyesalan. Bukan hidup dalam masa lalu yang seperti lelaki itu lalukan. Berusaha mewujudkan semua mimpi-mimpi yang sudah amat terlambat untuk direalisasikan. Lelaki itu tak harus terjebak dalam hal yang tak mungkin bisa mereka ulang kembali.


"Aku menyerahkan semua pilihan padamu, Tu," ucap Dirga seraya mengusap lembut lengan Dhatu.


Dhatu membaca buku menu di hadapannya, memilih beberapa menu dan memadu madankannya dengan menu-menu yang cocok untuk acara arisan kalangan atas. Alvin meminta asistennya mencatat semua hal yang disampaikan oleh Dhatu, sementara dirinya dalam diam memperhatikan wajah cantik wanita itu. Dhatunya tak pernah berubah.


Wanita itu suka mengigit bibir bawahnya, senyumnya masih seindah dulu, dan mata lelaki itu akan menyipit saat tersenyum. Wanita itu suka memainkan pulpen antara sela jemarinya saat menulis, seperti yang wanita itu lakukan saat hendak menulis beberapa menu dan permintaan khusus yang akan membuat acara itu sukses dan meriah. Hati Alvin masih berdebar kencang, masih sama seperti dulu, lalu mengapa wanita itu tak lagi merasakan perasaan yang sama? Mengapa hanya dirinya yang masih mencinta, sementara wanita itu sudah bahagia dengan yang lain? Tak adil rasanya.


"Kami akan menantikan acara nanti," ucap Dirga menutup pertemuan itu.

__ADS_1


"Saya sudah menyiapkan jamuan untuk disantap bersama. Bagaimana menurut Pak Dirga?"


Dirga menatap Dhatu sekilas, meminta izin pada wanitanya. Dhatu tersenyum, ia bingung dan sebenarnya sudah tak betah berlama-lama menatap cermin masa lalu di hadapannya itu. Dhatu tak mau terjebak dalam dimensi kenanga, tak pula berharap bisa memutar balikkan waktu. Dhatu hanya ingin bersama dengan masa depannya dan menikmati kebahagiaannya bersama dengan satu-satunya lelaki yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang.


"Saya mohon Bu Dhatu nggak menolak ajakan ini. Karyawan saya sudah mempersiapkan semuanya khusus untuk menyambut Bapak dan Ibu." Alvin tersenyum manis, berusaha menyakinkan Dhatu untuk tinggal lebih lama lagi.


Alvin masih tak rela melepaskan wanita itu pergi dari masa lalu mereka. Alvin selalu tak puas menikmati


"Nggak baik rasanyakita menolak niat baik Pak Alvin, Sayang," bujuk Dirga pada istrinya.


Dhatu tersenyum kikuk dan mengangguk pelan. "Baiklah, terima kasih banyak atas penyambutannya, Pak Alvin."


Senyum Alvin mengembang mendengarkan persetujuan Dhatu. Hatinya dipenuhi suka duka. Jantungnya berdebar tak menentu setiap melihat senyum yang Dahtu berikan. Walau ia tahu, tak ada ketulusan di sana, namun Alvin akan berusaha berpuas hati dengan apa yang wanita itu sunggingkan padanya. Setidaknya, wanita itu masih mau menganggapnya ada, walau memang rasa tak lagi sama.


Alvin memanggil salah satu karyawannya dan meminta menyajikan apa yang telah lelaki itu siapkan untuk kedua tamunya. Dhatu dan Dirga saling bertukar senyum, keduanya menatap penuh cinta. Dalam diam, Alvin hanya bisa menahan amarah yang mulai merasuki hatinya. Bathinnya teramat perih menyaksikan cinta yang bukan lagi miliknya. Kenyataan di hadapannya begitu sulit ia terima. Ingin rasanya ia memiliki mesin waktu, yang akan membawanya kembali pada sosok Dahtu yang kerap menatapnya denga tatapan yang sama. Penuh cinta dan juga pemujaan.


Oh, Sangkala. Apa yang telah kau buat pada hati yang dulu saling mencintai?

__ADS_1


__ADS_2