Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu yang tersisa di tepi pantai, bergenggaman tangan sembari berjalan dengan kaki telanjang, membiarkan kaki mereka menikmati pasir putih dan juga ombak yang mencium bibir pantai. Bagai berada di negeri dongeng, keduanya tak ingin kembali ke kehidupan nyata yang kerap menawarkan kepedihan. Andai saja, kehidupan bisa seindah cerita dongeng, mungkin saja, tak ada seorang pun di dunia ini yang akan bersedih.


"Apa lagi yang ingin kamu ketahui dariku, Tu?"


Dhatu menggeleng. "Nggak ada."


Dirga memasang wajah sedih, membuat Dhatu menghentikan langkah. Ia tersenyum seraya membelai lembut wajah suaminya. Dirga sungguh terlihat berbeda. Bila sedekat ini, ia hampir ta percaya jika lelaki itu adala CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang biasanya terluhat asing, kini berjalan di sisinya, saling bergenggaman tangan dan berbagi canda tawa.


"Aku udah tahu banyak tentangmu. Seperti kamu yang nggak suka makan toge, selalu minum air putih dulu sebelum mulai makan, atau kamu yang suka meletakkan tas gym di dekat pintu masuk."


Dirga menatap Dhatu terkejut. Ia tak menyangka jika wanita itu mengetahui banyak hal tentangnya. Bahkan hal kecil sekalipun. Ada sekelebat rasa bahagia mampir di hatinya, namun sirna begitu ia sadar, jika Dhatu melakukannya hanya karna rasa tanggungjawab dan juga status di antara mereka. Selebihnya, wanita itu tak perna menganggapnya sebagai prianya.


"Apa kamu memperhatikan segitu detail hanya karna status di antara kita? Hanya sekadar menjalan kewajibanmu?."


Dhatu terrsenyum dan menatap ke dalam manik mata Dirga. Awalnya, memang hanya sebatas tanggung jawab. Hanya karna status di antara mereka, namun alasan itu mulai berubah. Semakin ia memperhatikan lelaki itu, semakin kacau pula perasaannya. Seperti saat Dirga tak sengaja memakan toge dan langsung melepehnya keluar sembari menunjukkan wajah masam seperti seorang bocah saat menyantap makanan yang tak disukainya atau ketika Dirga meletakkan tas dekat pintu dan terkejut begitu menemukannya di atas sofa ruang tamu dengan isi tas yang telah berubah dengan pakaian bersih. Lelaki itu akan pura-pura bodoh dengan keajaiban di dalam tas gym-nya, pura-pura tak melihat, namun beberapa kali Dhatu menangkap basah senyum yang coba disembunyikan oleh lelaki itu darinya.


"Awalnya memang hanya karna kewajibanku sebaga istri, namun perlahan alasan itu telah berubah."


Wajah Dirga berseri-seri, ia segera membawa Dhatu ke dalam dekapannya. "Aku bener-bener nggak sabar membuatmu jatuh cinta padaku, Tu."

__ADS_1


Dhatu tersenyum di dalam dekapan Dirga, menyembunyikan wajah tersipu malunya. Ia dapat mendengarkan simfoni jantung Dirga yang begitu memabukkan. Telah menjadi candunya. Kehangatan yang lelaki itu bagi, bukan hanya menghangatkan tubuh, namun hatinya juga.


"Apa yang akan terjadi saat aku jatuh cinta padamu? Apa cinta adalah akhir dari kebersamaan kita?"


Dirga mengeratkan pelukannya. "Bagaimana bisa cinta mengakhiri apa yang ada di antara kita? Cinta justru akan membuat kita bersama selamanya."


Dhatu tersenyum lirih. Bukan begitu cinta yang selama ini ia ketahui. Cinta selalu menjadi alasan untuk perpisahan, perasaan itu membuat kita tak berpuas hati, hingga kerap menuntut lebih dari orang yang kita cintai. Cinta seakan awal yang harus diakhiri. Berani mencinta, maka dirinya harus siap juga dengan kehilangan. Dhatu takut akan hal itu.


Dhatu melepaskan pelukan mereka. "Nggak ada yang bisa menjamin cinta. Buktinya kamu, Mas. Di awal begitu memegahkan cinta yang kamu miliki, hingga membenciku, tetapi begitu cepat pula kamu berpaling." Dhatu mengigit bibir bawahnya, "maaf, aku nggak bermaksud mengatai jika hatimu cepat berpaling. Hanya saja ..."


Dhatu membiarkan kata-katanya menggantung di udara. Perkataan Dhatu bagai sebilah pisau yang ditancapkan tepat ke jantungnya, menusuk dan terasa begitu menyakitkan. Ya, orang bodoh mana yang akan percaya jika cintanya tulus. Apalagi, selama ini dirinya begitu membenci Dhatu yang telah menghancurkan apa yang ada di antara dirinya dan juga Kana. Ia yang tak begitu mengerti cinta, telah salah menafsirkan rasa, hingga tak mampu melihat kesemuan dari perasaannya sendiri.


Dirga mengulurkan tangannya pada Dhatu. "Lanjut jalan, yuk!"


Dhatu tersenyum dan menerima uluran tangan Dirga. Mereka kembali menyisir pantai dan bercerita santai, hal yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya. Terlalu asyik berbicara, membuat keduanya tak sadar seseorang lelaki berlari cepat dan menubruk tubuh Dirga. Dhatu berteriak dan menoleh pada lelaki yang sudah menjauh. Dhatu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat Dirga memegang perutnya dan terkulai, Dhatu mengalihkan pandangan pada tangan Dirga. Darah segar mengalir.


"Mas ... mas ... kamu kenapa?" Dhatu panik dan menatap sekeliling, air matanya mulai mengalir deras, "tolong ... siapapun tolong ...." teriak Dhatu.


Air mata Dhatu mengalir semakin deras, tubuhnya bergetar ketakutan. Ia menekan tangan Dirga yang menutupi luka tusuknya. "Mas ... aku mohon jangan tinggalin aku, Mas. Mas ... akan baik-baik aja."

__ADS_1


Dhatu kembali mengedarkan pandangan. Kini, kepala Dirga sudah berada di pangkuannya. Ia berteriak sekencang yang ia bisa. "Tolongggg ...."


Dirga tersenyum dan menyentuh wajah Dirga dengan tangannya yang bergetar. "Jangan nangis. Kamu jelek kalau nangis."


Dhatu tak peduli. Ia semakin terisak. "Jangan ngomong apa-apa lagi, Mas."


"Mataku berat banget, Tu."


Ketakutan menyelimuti hatinya. Dhatu kembali berteriak, beruntung karna kini beberapa anak muda dapat mendengarkan permintaan tolongnya dan segera berlari ke arah mereka.


"Semuanya akan baik-baik aja, Mas. Aku mencintaimu, aku nggak bakalan takut lagi dengan perasaanku sendiri. Aku akan memperlakukanmu sebaik mungkin, jadi jangan tinggalin aku, Mas ..."


Dirga tersenyum mendengarkan perkataan Dhatu, lalu matanya terpejam. Teriakan Dhatu yang memanggil namanya adalah kata-kata terakhir yang didengarnya. Setelah itu, kesadarannya direnggut paksa.


Dhatu berteriak histeris. Ia tak mau kehilangan Dirga. Memang dirinya bersalah karna mengabaikan perasaan cinta yang tak berani diakuinya. Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan rasa di hatinya. Tak mau kehilangan lelaki pemilik hatinya dan tak 'kan pernah sanggup bernapas tanpa lelaki itu di sisinya.


Beberapa pemuda yang menghampiri mereka, segera membopong tubuh Dirga, sedang Dhatu mengikuti mereka dari belakang. Tubuhnya gementar hebat. Ketakutan menguasai bathinnya. Air mata pun tak bisa ia hentikan, terus mengalir, tapi tak bisa membuat hatinya sedikit damai. Dalam hati, ia terus berdoa agar Tuhan tak mengambil satu-satunya lelaki pemilik hatinya. Ia memohon agar diberikan kesempatan sekali lagi, agar bisa bersama lelaki itu.


Jika keajaiban itu memang ada, maka ia memohon kepada Tuhan agar menunjukkan belas kasih padanya. Tuhan ... jangan ambil dia.

__ADS_1


__ADS_2