Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Tak Seharusnya Seperti Ini


__ADS_3

Belum sempat Dhatu melanjutkan perkataannya, Krisna menggenggam tangannya secara tiba-tiba, menatap ke dalam manik mata Dhatu dan berkata, "Aku mencintaimu, Tu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh hati padamu. Saat kamu memperkenalkan namamu, aku bahkan merasa namamu sangat indah dan begitu membekas di hati. Tanpa sadar, aku telah jatin cinta padamu."


Krisna tak ingin kehilangan peluang, ia tak tahu bagaimana respon yang akan diterimanya. Yang Krisna tahu, ia harus segera mengungkapkan rasa di hati sebelum terlambat. Ia tak ingin menyesel di kemudian hari tanpa memberitahu orang yang disayanginya tentang apa yang ada di dalam hatinya. Kata orang, cinta harus diungkapkan, bukan? Krisna yakin, Dhatu bisa merasakan perasaannya. Mereka telah lama bersama, tak mungkin jika tak ada sedikit pun rasa yang tumbuh dari kebersamaan itu.


Perkataan Krisna membuat Dhatu segera menarik tangannya dan menatap lelaki itu nanar. Ia menggeleng. "Nggak, Mas. Nggak seharusnya seperti ini," ucapnya seraya membereskan semua barang-barang pribadinya, mematikan komputer, dan mengabaikan Krisna yang sedari tadi menatapnya heran.


"Tu ... apa maksudmu?" tanya Krisnya mencengkram pergelangan tangan Dhatu saat wanita itu hendak berdiri dan meninggalkannya.


"Aku nggak pernah menganggapmu seperti itu, Mas. Aku menganggapmu sebagai kakak kandungku dan nggak mungkin aku bisa membalas perasaanmu. Maafkan aku, Mas. Aku nggak mencintaimu sebagai seorang lelaki, kamu sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri."


Cengrakaman tangan Krisna pada tangan Dhatu semakin mengencang, membuat Dhatu meringis, namun diabaikan.Lelaki itu menatapnya penuh amarah. Antara kecewa dan juga patah hati.


"Mas ... sakit. Lepasin!" Dhatu menggerak-gerakkan tangannya agar lelaki itu mau melepaskan cengkramannya.

__ADS_1


Krisna mencengkram kedua lengan Dhatu dan meminta wanita itu melihat ke arahnya. "Kita bukan saudara. Ayah dan ibu kita aja beda. Gimana kamu bisa menganggapku sebagai kakak kandungmu, Tu?" kilatan amarah dan suara yang meninggi membuat Dhatu ketakutan.


Sepanjang perkenalan mereka, baru kali ini Dhatu melihat Krisna marah. Biasanya tak ada seorangpun yang mampu memancing amarah lelaki itu, tidak konsumen yang membentak, bukan juga rekan kerja yang kerap mengatainya di belakang. Ini pertama kalinya bagi Dhatu dan Dhatu tak menyukai tatapan lelaki itu. Seperti tengah berhadapan dengan seorang asing yang tak pernah ditemui sebelumnya.


"Maaf, Mas. Tapi, aku memang ga bisa melihatmu sebagai seorang lelaki. Aku ...."


Belum sempat Dhatu melanjutkan perkataannya. Krisna sudah menempatkan tangannya di belakang kepala Dhatu dan melahap paksa bibir wanita itu. Dhatu memberontak, memukul-mukul dada Krisna, berharap lelaki itu mau melepaskannya, namun semakin ia memberontak, semakin kasar pula lelaki itu menciumnya. Air mata Dhatu mengalir, ketakutan telah mendominasi hatinya. Ia memejamkan mata dan memberontak, namun mata lelaki di hadapannya seakan menggelap, tak mampu melihat keenganannya akan ciuman penuh paksaan itu.


Sedetik kemudian, suara pintu dibuka paksa terdengar dan selanjutnya Dhatu mendengar suara orang yang terjatuh dan berteriak. Dhatu membuka mata dan melihat Dirga sudah berada di atas Krisna, memukul lelaki itu secara membabi buta, sedang Krisna tak membalas apa pun, seakan pasrah dan memang mengharapkan hal itu. Dhatu yang mulai mendapatkan kesadarannya segera menarik lengan Dirga dan memisahkan keduanya.


"Dia udah kurang ajar sama kamu, Tu. Berani-beraninya dia menciummu!" Dirga mengeraskan rahang dan kembali meninju wajah Krisna, "jangan pernah dekati Dhatu lagi," ucapnya penuh ancaman. Krisna tersenyum miring, mengejek, merasa tak pantas lelaki itu melarangnya. Siapa lelaki itu bagi Dhatu? Ia ta memiliki hak apa pun.


Dhatu kembali menarik lengan Dirga dan menatapnya memohon. Meminta lelaki itu memghentikan perkelahian. Air mata Dhatu kembali jatuh, membuat Dirga panik dan segera memeluk erat tubuh Dhatu. Ia mengusap-usap lembut rambut wanita itu.

__ADS_1


"Iya, aku nggak berantem lagi, Sayang. Udah jangan nangis ya. Aku udah datang dan semuanya akan baik-baik aja. Maaf karna aku terlambat," ucap Dirga penuh penyesalan. Dhatu terisak dan membalas pelukan suaminya.


Hati Dhatu kacau. Ia tak menyangka Krisna memiliki perasaan seperti itu padanya. Ia tak melihat tanda-tanda ketertarikan atau memang dirinya yang kurang peka? Andai saja, ia mengetahui isi hati lelaki itu, maka Dhatu akan lebih cepat menjelaskan semuanya. Ia tak pernah menganggap lelaki itu lebih dari seorang kakak lelaki.


Entah sejah kapan Krisna sudah berdiri dan menatap nanar sepasang anak manusia di hadapannya. Hatinya pedih bukan main. Dhatu tak sepolos yang ia pikir. Ternyata, wanita itu sama saja dengan perempuan lain yang lebih memilih harta dan tahta. Wanita itu tak mungkin mau menerima perasaan tulus seorang yang miskin. Krisna terlalu naif. Tak mungkin ada kisah cinta bak di film-film romantis, di mana yang memiliki cinta paling besar lah yang akan menang dari pertarungan cinta. Tawa Krisna pecah, tawa mengerikan karna kekahalan mutlak dan hatinya yang patah. Miris saat harta selalu menang dari hati.


"Ternyata kamu sama saja dengan perempua di luar sana, Tu," ucap Krisna tersenyum mengejek, "lebih memilih uang daripada apa pun. Bahkan kamu nggak mau menerima perasaan Si miskin sepertiku. Kamu pasti lebih memilih seseorang yang bisa memberi hidup yang layak. Memang aku yang terlalu bodoh."


"Pemikiranmu itu salah, Mas!"


Dhatu benci saat dipikir menyukai harta hanya karna status sosial mereka yang begitu berbeda. Memang rasanya tak pantas seorang staff biasa, dengan orang tua yang hanya memiliki warung makan kecil bersanding dengan seorang yang hampir sempurna seperti Dirga. Orang dari kalangannya memang akan selalu dinilai jelek. Bahkan Dirga sendiri menganggapnya demikian saat pertama kali mereka menikah.


Krisna tak mau lagi berdebat. Apa yang dilihatnya sudah lebih jelas daripada perkataan yang terucap dari mulut Dhatu.

__ADS_1


Dirga menatap tajam Krisna yang cintanya ditolak malah mengatai istri tercintanya. "Dhatu adalah istriku, kami menikah bukan karna dia menginginkan uangku. Kalau memang dia menginginkan uang dan juga kedudukan, untuk apa dia menyembunyikan fakta pernikahan kami dan masih bekerja layaknya seorang staff biasa di perusahaan ini?" Dirga tersenyum miring, "jadilah lelaki jantan yang bisa menerima penolakan. Jangan berlagak seakan dirimu yang menjadi korban saat perasaanmu nggak diterima!"


Dirga menggenggam tangan Dhatu dan segera menarik Dhatu keluar dari ruangan itu. Sementara Krisna yang masih terkejut hanya bisa mematung di tempatnya berdiri sembari menatap nanar punggung keduanya yang kian menjauh. Perkataan Dirga seakan menamparnya, tak seharusnya dirinya merasa sebagai korban hanya karna perasaan yang tak dibalas. Hatinya pedih bukan main. Ia pikir, dirinya begitu mengenal Dhatu dan mengerti semua permasalahannya. Akan tetapi, hari ini, ia seakan tak mengenal Dhatu sama sekali. Kapan wanita itu menikah? Dan mengapa dirinya bisa sangat terlambat?


__ADS_2