
Sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan perjalanan mereka diwarnai dengan canda tawa. Berbagi cerita dan juga keseruan lainnya. Padahal perjalanan mereka untuk mencapai tempat tujuan hanya memerlukan sekitar tiga puluh menit, namun mereka merasa sangat bersenang-senang. Krisna yang mengemudi, Rina duduk di kursi samping Krisna, sedang Dhatu mengambil tempat di kursi belakang.
"Tu ... gimana kesanmu waktu pertama kali tahu kalau suamimu itu CEO kita?" Rina tak bisa lagi menyimpan rasa penasarannya.
"Kaget pastinya."
"Oh ... pantas aja ..." Krisna memotong, "saat perkenalan pertama Pak Dirga di kantor, Dhatu kelihatan gugup. Aku baru tahu alasannya, ternyata suaminya adalah Pak Dirga."
Dhatu tersenyum tipis. Dulu lain ceritanya dengan sekarang. Ia takut, tak hanya gugup karna lelaki itu memintanya menjadi bayangan yang tak terlihat. Ia terlalu cemas memikirkan kehidupan pekerjaan ke depannya. Beruntung semua ketakutannya menjadi sia-sia karna semuanya berjalan lancar, Dhatu bahkan tak pernah berpikir pada akhirnya mereka berdua bisa saling jatuh cinta dan tak terpisahkan.
"Berhenti membicarakan tentangku. Kenapa kalian berdua nggak mulai merencanakan masa depan kalian berdua bersama?" ucap Dhatu seraya terkekeh, sedang keduanya berpandangan sekilas.
"Big No!" jawab keduanya serempak. Dhatu tertawa keras. Sesungguhnya tak ada yang harus dipungkiri karna benih-benih cinta terlihat pada mata keduanya.
"Lihat ... jawaban kalian aja selalu kompak. Luar biasa." Dhatu mendramatisir
"Tu ... aku nggak peduli kalau kamu adalah istri CEO. Kalau ngeledek terus, bakalan aku turunin di pinggir jalan loh!" suara Rina penuh ancaman, namun bukannya takut, Dhatu malah kembali tertawa.
__ADS_1
Sedetik kemudian semua yang ada di mobil itu tertawa. Sungguh, hidup mereka semua seakan membaik. Semuanya sempurna. Tak ada lagi air mata dan seharusnya seperti itulah hidup. Penuh dengan tawa dan keceriaan.
Menit demi menit berlalu, mereka tekah tiba di tempat tujuan. Setelah mencetak tiket nonton bioskop yang telah mereka pesan sebelumnya lewat daring, mereka memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Masih ada waktu selama satu jam, sebelum film mereka diputar. Restoran Jepang menjadi pilihan mereka. Mereka duduk di sudut ruangan, tempat yang sedikit sepi, agar tak ada yang terganggu jika mereka kelepasan tawa.
Krisna memanggil seorang pramusaji. Mereka semua memesan makanan dan kembali bercerita dengan santainya. Selalu saja ada topik menarik untuk dibagikan. Sedetik kemudian seorang lelaki duduk di samping Dhatu, membuat semua mata mengarah ke sudut yang sama. Lelaki itu membuat jantung Dhatu berhenti berdebar dalam hitungan detik, keduanya saling berpandangan. Senyum manis lelaki itu yang diberikannya pada Dhatu tak mampu menular pada wajah Dhatu yang mendadak terlihat datar, sedang Krisna dan Rina saling memandang dan bertanya siapakah gerangan pria yang secara tiba-tiba duduk di meja mereka. Keduanya tak mampu menyembunyikan kebingungan mereka.
"Maaf, Anda siapa ya? Kenapa duduk di meja kami?"
Lelaki itu tak menjawab, ia masih tak bosan menatap wajah cantik di hadapannya. Dhatu menggertakkan giginya, tak mengerti akan maksud lelaki itu. Apa yang dirinya inginkan? Apakah menyiksanya dengan semua cerita tentang masa lalu yang telah usai? Atau berharap bisa mengulang kembali kisah yang telah berakhir? Dhatu telah mengubur semuanya dalam-dalam, tak ingin membuka kembali kotak kenangan itu. Bahkan untuk sekadar mengintip pun Dhatu tak ingin. Semua rasa telah mati dan tak ada apa pun yang mampu menghidupkan rasa yang tak lagi disukainya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan pake basa-basi dengan bilang kalau pertemuan ini adalah kebetulan semata. Ini kehidupan nyata, bukan cerita fiksi," ucap Dhatu sarkastis, ia tersenyum miring, tak ingin berdekatan dengan lelaki yang telah pergi dari hidupnya.
"Kau gila!" Dhatu berdesis sebal, "apa yang bisa melukaiku lagi. Semuanya udah berakhir. Aku udah menikah dan saat ini tengah mengandung buah cinta kami, jadi aku mohon, pergi dan jangan pernah kembali lagi."
Ada terkejutan pada wajah lelaki di hadapannnya, ada amarah yang tak mau bersusah payah ia sembunyikan.
"Kamu tega banget sih, Tu," lelaki itu menatap Dhatu sendu, "aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anakmu. Aku akan menjaganya seperti anakku sendiri, jadi kembali lah padaku," lanjut lelaki itu seraya menggenggam tanga Dhatu yang berada di meja, Dhatu menggerak-gerakka tangan, berusaha mengempaskan genggaman tangan lelaki itu.
__ADS_1
"Jangan gila, Alvin! Aku nggak mencintaimu, aku mencintai suamiku dan hanya dia yang kuinginkan sebagai anak bagi calon bayiku." perkataan Dhatu penuh ketegasan, namun lekaki di sampingnya itu seakan kehilangan akal sehatnya, pendengarannya pun seakan rusak. Ia tak mau menolak kenyataan pahit yang ada di depannya.
"Nggak usah menyangkal rasa yang ada, Tu. Kamu masih begitu mencintaiku sebagaimana rasa yang kumiliki untukmu. Kamu mencintaiku," ucap Alvin menatap tajam ke arah Dhatu, sedang Dhatu bergidik ngeri, menatap sepasang manik mata penuh amarah yang lelaki itu tunjukkan padanya.
Lelaki itu semakin mengeratkan genggaman tangan dan senyum yang terlukis di wajahnya tampak mengerikan, membuat bulu kuduk Dhatu berdiri. Dhatu tak menyangka, lelaki yang dulu begitu waras dan lembut padanya bisa terlihat begitu mengerikan. Rina menyenggol lengan krisna dengan sikunya saat melihat keadaan yang sudah tak kondusif. Krisna segera melepaskan tangan Alvin yang menggenggam tangan Dhatu dengan kasar. Lelaki itu menoleh pada Krisna dan menatapnya penuh amarah.
Rina segera berdiri di samping Dhatu, menarik wanita itu dan menyembunyikan tubuh Dhatu di balik punggungnya.
"Saya nggak tahu ada urusan apa antara Anda dan Dhatu, tapi terlihat jelas kalau Dhatu nggak menyukai kehadiran Anda di sini," ucap Rina penuh penekanan.
Krisna yang sudah berdiri di samping Alvin menarik lengan lelaki. "Pergilah dan jangan membuat keributan di sini. Sudah jelas kalau Dhatu mencintai suaminya dan Anda nggak seharusnya memaksakan perasaan Anda secara sepihak."
Alvin menatap mereka semua dan tertawa geli. Mungkin memang dirinya telah kehilangan akal sehat karna cinta. Penyesalan menggerogoti hati, membuat lubang besar di hatinya. Mungkin memang cinta bisa segila ini, merusak apa yang semula baik. Yang ia butuhkan hanyalah satu kesempatan untuk membuktikan cintanya lah yang terbaik. Ia hanya ingin Dhatu melihat ke arahnya, menatapnya seperti dulu lagi. Sungguh tak adil. Mengapa hanya dirinya yang masih tertinggal di dalam dimensi yang sama? Sementara Dhatu sudah berbahagia tanpanya. Tidak ... semua ini tak benar.
"Tu ... beri aku kesempatan. Hanya satu kali saja. Aku mohon," ucap lelaki itu penuh permohonan. Krisna kembali menarik lengan lelaki itu dengan kasar, membuat Alvin menatapnya penuh amarah.
"Saya nggak akan mengulang perkataan saya. Pergi sebelum saya menyeret Anda keluar!" Krisna menatap tajam lelaki itu.
__ADS_1
Alvin menatap sekeliling dan beberapa orang berbisik-bisik melihat ke arah mereka, membuat Alvin menghempaskan tangan Krisna dengan kasar dan berjalan keluar dari tempat itu. Ia tak mau membuat keributan. Dirinya akan memikirkan cara untuk mendapatkan Dhatu kembali. Jika diberi kesempatan, Dhatu akan mengerti betapa besar cinta yang dimilikinya untuk wanita itu. Ya, rasanya teramat besar, hingga tak mungkin dibuang begitu saja.