Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Aku Beruntung


__ADS_3

Wanita paruh baya itu menghentikan gerakannya yang hendak masuk ke dalam ruang rawat inap, ia tersenyum menyaksikan pemadangan di depannya. Sepasang anak manusia di hadapannya tengah bercumbu mesra. Ia merasa lega, keputusan mengirim keduanya ke Bali membuahkan hasil. Cinta memang harus dipupuk dan disiram, jika hanya berdiam diri, maka rasa itu tak 'kan pernah hadir. Wanita itu kembali menutup pintu, membuat lelaki yang sedari tadi mengekor di belakang menatap wanita itu penuh tanya.


"Kenapa malah nggak masuk, Ma? Gimana keadaan Dirga?"


Wanita itu tersenyum dan mendorong tubuh suaminya menjauh. "Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, Pa. Dirga cuma tergores pisau aja. Dia baik-baik aja, kok."


"Loh ... tergores gimana? Kok, sampai di operasi? Mama nih beneran nggak sayang sama anaknya. Kok, bisa banget santai begitu."


Wanita itu berdecak sebal. "Udah tenang aja, Pa. Anak kita baik-baik aja," ucap wanita itu seraya menarik suaminya menjauh dari pintu, sedang pria paruh baya itu menatap pintu dan juga istrinya secara bergantian. Semakin tak mengerti dengan keinginan wanita paruh baya itu.


Sanjaya tak mengerti mengapa mendadak wanita itu menjadi tenang. Padahal, saat mendengar kabar dari Abra, dirinya langsung menarik Sanjaya untuk pergi ke Bali bersama. Ia bahkan rela membentak lelaki itu yang mengatakan dirinya sedang sibuk, namun kini wanita itu malah terlihat tak acuh. Terlalu santai untuk seorang ibu yang tadinya panik bukan main begitu mendengar anak kesayangannya terluka. Sungguh, Sanjaya tak mengerti bagaimana jalan pikiran seorang wanita, terlalu rumit.


Di sisi lain, Dhatu melepaskan ciuman mereka dan membelai lembut wajah suaminya. Lelaki itu menggenggam tangan Dhatu yang berada di pipinya.


"Aku pengen lebih dari berciuman," ucapnya seraya tersenyum nakal. Dhatu dapat merasakan rasa panas menjalar di kedua pipinya, bayangan akan permainan ranjang mereka yang panas begitu membekas. Dirinya pun meginginkan lebih, namun tentu saja tak bisa.


"Kamu masih malu aja sama suami sendiri, Tu." Dirga tertawa kecil menatap wajah wanita di hadapannya. Mengapa dirinya bisa begitu menggemaskan? Wajahnya itu justru membuat Dirga ingin memakan wanita itu.


"Jangan ngomong yang aneh-aneh, Mas. Kamu baru dioperasi."


"Aku masih bisa bermain dengan istriku yang cantik ini, kok."

__ADS_1


Sungguh, Dhatu tak mengerti mengapa lelaki itu begitu suka menggodanya. Tak tahukah dia, kalau saat ini Dhatu sudah tak mampu menahan gejolak di dada.


"Jangan terus menggodaku dan pikirkan lukamu, Mas."


Dirga menunjukkan wajah kecewa. "Ah ... kamu nyebelin, tapi gemesin banget sih, Tu."


Dhatu menggeleng-geleng, suaminya itu seakan orang yang berbeda dari lelaki yang selama ini dikenalnya. Lebih hangat, lebih santai, dan mungkin inilah sisi lain Dirga yang tak pernah ditunjukkannya. Sikap lelaki itu membuatnya merasa jika mereka adalah pasangan normal pada umumnya. Yang bertemu dan bersatu karna cinta. Yang memiliki pondasi dasar untuk membangun ruma tangga bersama, cinta. Keduanya bertukar senyum dan beberapa menit kemudian pintu terbuka. Lestari dan Sanjaya tersenyum begitu pandangan mata mereka saling bertemu, keduanya berjalan mendekat.


Lestari langsung mengusap wajah putranya terkasih. "Kamu baik-baik aja, Ga? Masih sakit?"


Dirga menggenggam tangan ibunya, tersenyum, dan menggeleng lemah. "Aku baik-baik aja, Ma. Ini cuma luka kecil, hanya goresan dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."


"Kan udah dijelasin semuanya sama Abra, Pa. Ngapain masih nanya? Harusnya tanyakan keadaan anakmu," ucap wanita di samping Sanjaya, membuat Sanjaya meringis menatap istri cantiknya. Sungguh, Sanjaya selalu serba salah berada di dekat wanita itu. Panik salah, terlihat santai pun bisa lebih salah.


Dhatu tersenyum mengamati pemandangan di hadapannya. Ayah dan Ibunya saja selalu menyembunyikan pertengkaran kecil darinya, hingga ia tak tahu jika pasangan yang sudah lama menikah masih bisa tampak mesra saat berdebat. Apa dirinya dan Dirga akan seperti itu bila mereka sudah tua nanti? Pemikiran akan masa depan dan menua bersama itu menghangatkan hati Dhatu. Semuanya sudah tampak lebih jelas sekarang. Mereka akan bersama hingga ajal memisahkan.


"Nggak pa-pa, Ma," ucap Dhatu berusaha membela ayah mertuanya, "pelakunya belum tertangkap dan kejadian ini masih diselidiki oleh piha berwajib. Kita akan segera menangkap menemukan pelakunya, Pa, Ma."


"Papa ini memang nggak peka. Orang masih sedih, malah diintrogasi kayak polisi."


"Kenapa papa selalu salah sih, Ma?" wajah lelaki paruh baya itu menunjukkan keputusasaan yang membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa.

__ADS_1


Dirga diam-diam menggenggam tangan Dhatu, reflek membuat wanita itu menghentikan tawa. Keduanya saling bertatapan dan berbagi senyum. Lestari yang menyaksikan pemandangan yang menyejukkan mata itu berdehem.


"Tuh, lihat kan, Pa. Itu anakmu baik-baik aja. Kita jadi kayak obat nyamuk di sini," ucap Lestari sembari tersenyum menggoda ke arah Dirga, sedang Dhatu menunduk malu. Seharusnya mereka bisa bersikap biasa saja di hadapan para sesepuh itu.


"Ya udah ... Mama dan Papa balik aja ke Jakarta. Ada Dhatu yang akan mengurusku di sini." Dirga masih tetap menggenggam tangan Dhatu, tak membiarkan wanita itu menarik tangannya dan berusaha melepaskan. Bukan hanya kedua orang tuanya saja yang bisa tampak mesra, Dirga pun tak mau malu menunjukkan kemesraannya bersama Dhatu.


"Coba kamu kembalikan semua kepanikan yang udah Papa keluarkan karnamu, baru kamu bisa mengusir kami."


Dirga tertawa. "Makasih, Ma, Pa."


Lestari tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala putranya. "Yang terpenting adalah kamu selamat, Ga. Beristirahatlah beberapa hari dan langsung kembali ke Jakarta. Jangan mulai bekerja begitu tiba di Jakarta." Lestari menoleh pada Dhatu, "kamu juga ambil cuti lagi ya, Tu. Nanti papa yang langsung ngomong ke bagian HR dan juga atasanmu," lanjut wanita itu.


Sesungguhnya Dhatu segan. Apa yang nantinya orang-orang akan pikirkan tentangnya. Walau hubungan mereka sudah semakin baik, namun hingga saat ini tak ada seorang pun yang mengetahui statusnya. Rasanya tak elok, jika pemilik saham yang langsung meminta izin. Apakah dirinya harus melepaskan pekerjaannya?


"Nggak usah, Pa. Nanti biar Dhatu yang izin langsung," ucap Dirga yang seakan mampu membaca pikirannya, "ya kan, Tu?"


Dhatu mengangguk. "Iya, Mas." wanita itu menoleh ke arah ayah mertuanya, "nanti Dhatu yang akan minta izin langsung ke atasan. Dhatu nggak mau merepotkan Papa."


Pria paruh baya itu tersenyum. "Nggak ada orang tua yang akan merasa direpotkan dengan membantu anaknya, Tu."


Begitulah Sanjaya yang dikenal Dhatu. Lembut, perhatian, dan sosok ayah impian banyak orang, sama seperti ayahnya. Lelaki itu tak pernah membedakannya dari Dirga. Dhatu sungguh beruntung. Tak hanya mendapatkan suami yang begitu mencintainya, ia juga mendapatkan dua orang tua yang menyayanginya.

__ADS_1


__ADS_2