Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Aku Tak Mau Melepasmu


__ADS_3

Dhatu menatap nanar makanan yang tersaji di hadapannya. Semua yang tersaji di sana adalah makanan kesukaan. Mulai dari ayam gulai, sambal terasi, udang sambal, dan berbagai macam masakan lainnya. Dulu saat mereka bersama, Alvin kerap datang ke rumahnya dengan berbagai bahan masakan. Lalu keduanya memasak gembira, sementara kedua orang tua Dhatu hanya diminta menunggu dengan sabar. Akhir pekan kerap mereka lalukan dengan berbagai hal positif. Tidak seperti gaya berpacaran para anak muda seusia mereka, membuat kedua orang tua Dhatu menyuka Alvin dan kerap membela lelaki itu jika mereka berdebat kecil.


Namun, ya begitulah jodoh. Walau tampak serasi dan baik-baik saja, keduanya tetap saja berpisah karna memang tak berjodoh. Tak peduli seberapa banyak waktu yang mereka habiskan bersama, jika tak ditakdirkan untuk saling memiliki, pada akhirnya mereka akan tetap melepaskan. Tak peduli seberapa besar rasa suka yang saling mereka miliki, pada akhirnya, memang ada saatnya Si pejuang merasa lelah dalam petarungan yang tengah ia hadapi.


Memang sudah sedekat itu hubungan keduanya. Namun sayang, Dhatu tak seperti Alvin yang diterima oleh keluarganya. Kedua orang tua Alvin justru membenci Dhatu dan kerap bersikap sinis saat ia berkunjung. Saat itu pun, Alvin hanya bisa mengenggam tangannya, meminta Dhatu untuk tetap kuat bertahan di sisinya. Namun apa hasil dari semua usahanya dalam menguatkan hati? Tidak ada, lelaki itu tetap memilih meninggalkannya karna dirinya tak layak bergabung dalam keluarga kaya seperti keluarga Alvin. Dirinya hanya Si miskin yang dianggap suka memoroti harta Si kaya.


"Wah ... Anda tahu benar dengan selera istri saya. Semua ini menu kesukaan istri saya," ucap Dirga menatap kagum makanan yang tersaji, lalu pria itu menoleh pada Dhatu, "Semua ini makanan kesukaan kamu kan, Sayang?" tanya Dirga basa-basi.


Dhatu tersenyum kikuk dan mengangguk sekilas. Ia tak ingin mengucapkan kebohongan pada suaminya, jadi ia memutuskan tak berkomentar dan hanya mengangguk saja. Dhatu semakin tak tahan dengan kebersamaan mereka, ingin rasanya ia menarik Dirga pergi dari tempat itu dan tak lagi menyakiskan segala penyesalan yang coba Alvin sampaikan dengan semua perbuatannya yang mulai terlihat tak masuk akal.


"Semuanya hanya kebetulan. Syukurlah kalau apa yang saya sajikan sesuai dengan selera kalian," ucap Alvin melirik Dhatu sekilas, sementara wanita itu pura-pura tak menyadari tatapan lelaki di hadapan mereka. Ia lebih memilih menatap suaminya, daripada menyaksikan sepasang netra penuh penyesalan yang lelaki itu tunjukkan padanya.


"Terima kasih banyak Pak Alvin. Kami benar-benar merasa begitu dimanjakan dengan sambutan ini."


"Sudah seharusnya saya melakukan semua ini pada tamu spesial saya," ucap Alvin menatap sepasang manusia di hadapannya secara bergantian.


"Kami merasa tersanjung," ucap Dirga penuh sopan santun, Dhatu tersenyum di samping Dirga.

__ADS_1


"Silahkan dinikmati hidangannya," ucap Alvin mempersilahkan keduanya, "semua ini saya yang masak sendiri," lanjut Alvin sembari tersenyum.


Dirga menatap Alvin tak percaya. "Wow ... nggak hanya tampan, mandiri, dan kaya. Ternyata, Pak Alvin juga berbakat dalam memasak."


Alvin tertawa kecil. "Anda terlalu memuji saya," ucapnya menoleh pada Dirga, "dulu ada seseorang yang begitu menyukai masakan sana, hingga saya senang belajar memasak walau banyak yang bilang cowok pintar memasak itu nggak terlihat macho," lanjut Alvin.


"Wah ... pasti orang yang sangat spesial, ya?" tanya Dirga penasaran.


Alvin tersenyum tipis. "Ya, wanita yang telah menguncangka dunia saya. Wanita yang membuat saya jatuh cinta berulang kali. Wanita yang membuat saya merasa lengkap," ucap Alvin, tatapan matanya melembut.


Alvin mengangguk setuju. "Ya, Pak. Kita termasuk orang-orang yang beruntung," ucap Alvin seraya meilirik Dhatu, "apa menurut Bu Dhatu, lelaki yang bisa memasak itu nggak macho?"


Dhatu tersenyum tipis dan menggeleng. "Stereotipe masyarakat yang membuat semua itu tampak tak wajar. Padahal memasak itu nggak diharuskan sebagai tugas wanita semata. Lelaki juga memiliki hak yang sama. Menyukai dunia masak memasak."


Dirga tersenyum mendengarkan jawaban Dhatu. Wanita itu tak hanya cantik dan juga baik, akan tetapi pemikirannya luas dan cara berpikirnya membua Dirga jatuh hati. Tanpa sadar, Dirga menyukai segala sesuai tentang Dhatu. Caranya berbicara, caranya menatap dunia, dan cara wanita itu mengutarakan pemikirannya. Dirinya telah jatuh hati pada Dhatu yang penuh dengan kesederhanaan.


"Pak Dirga sungguh beruntung memiliki istri seperti Bu Dhatu. Dia sempurna," gumam Alvin sembari menatap Dhatu lembut.

__ADS_1


Tak ada cela dari diri Dhatu yang mampu ditemukan oleh Alvin dan bodohnya dengan mudah ia melepaskan wanita itu. Kini, tak ada gunanya ia meratapi kesedihan maupun penyesalan yang ada. Wanita itu telah berjala jauh meninggalkannya. Membentuk ruang hampa di dalam hatinya yang tak lagi mampu menemukan kenyamana dan kesempurnaan. Kepingan yang telah hilang tak mungkin lagi kembali. Alvin sadar akan hal itu, hanya saja, hatinya tak mau mengerti keadaan yang tak lagi sama. Hatinya tak sanggup menerima kenyataan pahit di depan mata. Ingin dirinya mengulang kembali cerita lama mereka.


"Saya lelaki yang sangat beruntung. Menemukan Dhatu di antara milyaran manusia di dunia ini dan bisa jatuh cinta padanya adalah anugerah terindah dalam hidup saya," ucap Dirga mengambil tangan Dhatu, menggenggamnya erat, dan mengecup punggung tangan wanita itu.


Keduanya saling bertatapan, mereka seakan berada di ruang waktu yang terhenti dalam cinta yang begitu lembut. Cinta yang terlalu dalam hingga tak mungkin lagi bisa muncul ke permukaan. sungguh beruntung orang-orang yang dipertemukan, saling jatuh cinta, dan memiliki satu sama lainnya.


Alvin menatap keduanya iri, hatinya teriris perih. Harusnya, dirinya lah yang berada di sisi Dhatu. Menggenggam tangan wanita itu dan saling menatap dalam cinta.


"Saya permis ke toilet dulu," ucap Dhatu berpamitan.


"Toiletnya ada di samping rumah," ucap Alvin sembari menunjukkan arahnya pada Dhatu menggunakan jari telunjuknya.


Dhatu mengucapkan terima kasih, berpamitan pada suaminya, lalu beranjak pergi menuju tempat tujuannya. Dhatu keluar rumah minimalis itu dan menemukan bangunan kecil berbentuk jamur yang berada di samping rumah di mana mereka menyantap makan malam tadi. Dulu Dhatu pernah berkelakar pada Alvin dan ingin membuat kamar mandi di luar rumah, berbentuk jamur, hal yang kini diwujudkan oleh Alvin. Namun sayang, tak ada lagi makna yang tersisa di balik semua hal yang seharusnya lelaki itu lakukan di masa lalu mereka.


Menit demi menit telah berlalu. Dhatu keluar dari kamar mandi dan terkejut begitu menemukan Alvin menunggu di luar. Lelaki itu tersenyum padanya, namun hati Dhatu mulai diliputi ketakutan yang mendalam melihat senyum manis yang lelaki itu tunjukkan padanya.


"Kita perlu bicara, Tu!" lelaki itu menatap Dhatu penuh permohonan, sedang jantung Dhatu berdebar tak menentu. Bukan jatuh cinta, namun rasa takut yang bergelayut di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2