Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kau Tahu, Cinta Itu Menyakitkan


__ADS_3

Dirga terpaku sesaat melihat Dhatu yang berjalan bersama dengan Kana. Wajah Dhatu terlihat muram, namun tidak dengan Kana yang terlihat sangat bahagia. Wanita itu berlari kecil ke arah Dirga dan memeluknya erat. Dhatu masih berjalan santai, membiarkan pemandangan menyakitkan mata dan juga hati itu berlangsung di hadapannya. Dirga berusaha melepaskan Kana, namun wanita itu seakan memiliki lem dan tak bisa terlepas darinya.


"Tu ... aku bisa jelaskan semuanya," ucap Dirga panik sesaat setelah Dhatu berdiri di hadapannya.


Dhatu berusaha tersenyum, walau hatinya pedih. Ia akan mendengarkan semua penjelasan suaminya. Ia tak peduli dengan perkataan orang lain, selain Dirga seorang. Mereka memang baru saling mengenal dan langsung diikat dengan pernikahan, akan tetapi cinta tak bisa diukur dengan seberapa lama kalian mengenal satu sama lain atau seberapa banyak kenangan yang telah kalian ukir bersama. Pada akhirnya, cinta terjadi begitu saja, tanpa tanda-tanda dan juga kata permisi. Tahu-tahu kita telah terjebak di dalamnya. Tak mungkin bisa pergi lagi.


"Apa maumu, Kana?"


Kana akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Dirga dengan mata berbinar, terpancar jelas kebahagiaan di dalam mata wanita itu. "Aku hamil," ucapnya dengan girang.


Dirga menautkan alisnya dan menatap Kana tak mengerti. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


Kana menarik tangan Dirga dan meletakkan di perutnya. "Aku hamil anak kamu, Mas.Anak kita," ucapnya masih dengan nada bahagia yang sama. Ia menggenggam pergelangan tangan Dirga.


"Kau gila, Kana!" Dirga menghempas kasar tangan wanita itu, "Aku bahkan nggak pernah menyentuhmu. Bagaimana bisa kamu mengandung anakku? Nggak masuk akal!"


Dirga sungguh tak mengerti mengapa Kana bisa segila itu. Dirga memang bukan lelaki baik-baik, bukan pula munafik dan sok suci yang tak ingin menjamah tubuh wanita begitu memiliki kesempatan. Dirga sudah melakukan hal itu semenjak dirinya duduk di bangku kuliah, pergaulan bebas dan juga harta berlimpah membuatnya mudah membawa wanita manapun ke ranjangnya, akan tetapi tidak dengan Kana. Bukan karna wanita itu tak menarik, namun sosok kalem dan lemah Kana membuat Dirga tak mau mengambil kesempatan.Ia pikir, dirinya telah jatuh cinta, hingga ingin menjaga wanita itu sebaik mungkin. Tak mau merusaknya. Hubungan mereka tak lebih dari sekadar berciuman dan memainkan gunung kembr wanita itu. Selebihnya Dirga selalu menekan hasrat ya bila bersama wanita itu.


"Kamu ingat saat pesta ulang tahun rekan bisnismu empat bulan lalu? Kamu mabuk berat dan mengajakku berhubungan di kamar hotel di mana acara ulang tahun itu berlangsng. Aku mencintaimu dan tentu saja aku bersedia menyerahkan diriku padamu."


Dirga tampak berpikir sesaat. Kejadian itu memang benar adanya, namun ia tak mengingat apa yang terjadi malam itu. Yang ia ingat hanya dirinya dan Kana berdansa di dekat kolam renang, cahaya bulan dan juga keindahan langit malam itu menambah kesan romantis kebersamaan mereka. Setelah itu Kana meminta pelayan membawa minuman beralkohol untuk mereka nikmati di tepi kolam renang, keduanya bercerita sembari minum-minum di sana. Setelah itu pandangan Dirga kabur dan ia tak lagi mengingat apa pun. Pagi harinya, ia melihat Kana keluar dari kamar mandi, namun wanita itu tak mengatakan apa pun. Bagaimana sekarang tiba-tiba saja wanita itu menuntut pertanggungjawabannya. Tak masuk akal!


"Kamu nggak bisa melakukan ini padaku, Mas!" Kana berteriak histeris sembari mencengkram kuat pergelangan tangan Dirga. Matanya menunjukkan kemarahan yang tak mau ia sembunyikan.

__ADS_1


Harga diri Kana seakan terinjak. Selama ini, tak ada seorang lelaki pun yang berani menolaknya. Mengabaikan tatapan memohonnya dan tak juga jatuh dalam perangkat cintanya. Ia tak terima dengan sikap Dirga yang terlihat begitu mudah membuangnya. Dirinya bukan mainan, hanya dirinyalah yang boleh bermain dan berhenti ketika bosan, buka orang lain. Ia akan membuat lelaki itu kembali, tak peduli bagaimana caranya. Kana akan mendapatkan Dirga kembali.


"Aku bukan orang bodoh, Kana. Jika memang kamu mengandung anakku. Lahirkan anak itu dan kita bisa tes DNA. Jika memang dia anakku, aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Aku bahkan akan memasukkan namanya ke dalam kartu keluarga. Aku akan membuatkan akte kelahirannya dan dengan bangga menuliskan namaku sebagai ayahnya." Dirga tersenyum, lalu mempertipis jarak di antara wajah mereka dan menatap wanita itu tajam, "tapi, bukan namamu yang akan tertulis di akte kelahirannya sebagai ibunya. Istri dan ibu dari anak-anakku, hanya ada seorang dan itu hanya Dhatu," lanjut Dirga dengan tatapan dingin.


Perlahan genggaman tangan Kana mengendor, tubuhnya bergetar hebat. Tak pernah sekalipun ia melihat tatapan dingin penuh amarah yang terpancar dari mata Dirga sebelumnya. Lelaki itu bukanlah Dirga yang dikenalnya dulu. Kini, lelaki di hadapannya seakan dua orang yang berbeda. Tiba-tiba saja Kana merasa asing. Kemana Dirga yang dulu sering memanjakan dan melindunginya?Kemana lelaki yang kerap memeluknya erat dan memberikan kehangatan yang ia perlukan? Kemana Dirga yang kerap menatapnya memuja dan memberikan apa pun yang ia inginkam saat ia merengek? Apa lelaki itu tidak ada lagi? Apa semua yang pernah ia terima dari lelaki itu hanya bisa menjadi kenangan yang telah usai?


Tanpa sadar air mata Kana jatuh. Penyesalan merasuki bathinnya, mengantarkan rasa yang menyesakkan dada. Dirinya memang malang, tak menyadari jika ada cinta yang begitu besar, hingga melepaskan hal yang kini ia harapkan bisa menjadi milikinya kembali. Kini, ada wanita lain yang menggantikan posisinya. Wanita beruntung yang telah menerima semua yang telah dibuangnya hanya karna hasrat yang tak pernah terpuaskan dengan memiliki seorang lelaki saja. Hati yang tak pernah merasa cukup dengan limpahan materi yang diterimanya dari Dirga. Mengapa dirinya bisa sebodoh itu. Kaki Kana mendadak lemah, ia terkulai dan menangis terisak.


Dhatu yang merasa kasihan, ingin menenangkan wanita itu, namun Dirga mencegahnya dan menggeleng, membuat Dhatu kembali melangkah mundur.


"Semua itu hanya akting, Dhatu. Aku sudah sering melihatnya. Ayok, kita pulang," ucap Dirga sembari menarik Dhatu untuk masuk ke dalam mobilnya. Dirga membukakan pintu dan Dhatu segera duduk, sementara Dirga memutar bagian depan mobil dan duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


Lelaki itu menggenggam erat tanga Dhatu. "Makasih karna kamu telah mempercayaiku," ucap Dirga lemah. Keduanya bertukar senyum. Dhatu yang harus berterimakasih karna lelaki itu tak jatuh dalam perangkap dan dengan cepat mampu mencari solusi.


Dhatu menatap keluar jendela dan tak mampu melepaskan pandangannya dari wanita malang yang terisak dengan menutup kedua matanya dengan tangan. Isakkannya tersirat penyesalan yang begitu dalam. Dhatu tersenyum miris, memang begitu cara cinta bekerja. Menghancurkan dan membuat seseorang merana.


__ADS_2