Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Bolehkah Aku Mencintaimu?


__ADS_3

Keduanya segera meninggalkan Kampung Langit dengan bergenggaman tangan. Sedari tadi ponsel Dirga berbunyi, namun diabaikannya. Dhatu hanya bisa tersenyum tipis melihat sikap lelaki itu. Ia tahu, mungkin sikap Dirga padanya hanya sesaat, hanya karna kemarahannya pada Kana, namun tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, saat wanita itu memohon dan meminta kembali pada Dirga. Oleh karna itu, Dhatu masih menjaga hati, agar tak sepenuhnya terbuai. Ia tahu diri, sadar benar, jika tak semudah itu melupakan cinta. Semua ini hanya sekedar amarah yang menyelimuti hati lelaki itu.


"Lebih baik diangkat, Mas. Mungkin penting," ucap Dhatu begitu mereka sudah duduk di mobil, hendak menuju destinasi selanjutnya.


Dirga menatap Dhatu tajam. Heran, mengapa wanita itu bersikap santai, namun ia tersadar. Tentu saja kebersamaannya dengan wanita lain tak 'kan mempengaruhi Dhatu, tak pernah ada perasaan di antara mereka. Hanya dirinya yang merasakan sesuatu, namun belum pasti wanita itu merasakan hal yang sama.


"Apa kamu nggak masalah?" Dirga menatap wanita itu meneliti.


Dhatu berusaha memalingkan wajah, namun dicegah Dirga dengan menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya. "Apa bener-bener nggak masalah?"


Dhatu mengigit bibir bawahnya. "Nggak masalah," ucapnya singkat seraya melepaskan tangan Dirga dari wajahnya. Lalu Dhatu melempar pandangan keluar jendela.


Dirga tersenyum miris, lalu ikut menatap keluar jendela. Apa yang diharapkannya? Konyol sekali jika ia berpikir Dhatu memiliki perasaan padanya. Selama ini, wanita itu hanya melakukan kewajibannya. Hanya sebatas tanggungjawab sebagai istri, sebagaimana yang coba ia lakukan juga saat memberikan kartu debitnya pada Dhatu. Hanya karna keterpaksaan atas hubungan yang terjalin. Keharusan yang tak diinginkan hati. Begitu pula ketika wanita itu mengatakan tak 'kan mengkhianatinya, itu pasti hanya karna salah satu bentuk tanggungjawab Dhatu atas pernikahan mereka. Dirga mulai tak menyukai keterpaksaan di antara mereka.


Abra yang duduk di kursi pengemudi mengamati keduanya dari spion tengah Suasana di kursi belakang begitu mencengkam. Padahal baru tadi pagi, ia melihat kemesraan di antara keduanya. Mengapa suasana hati mereka begitu cepat berganti? Abra memutar otak. Ia diminta untuk membuat keduanya semakin dekat, bukan menjauh seperti ini.


"Apa siap menuju tempat selanjutnya Pak, Bu?" ia mencoba mencairkan keheningan. Tak mungkin ia ikut terbuai dalam kecanggungan yang tercipta. Ia harus membawa keduanya ke suatu tempat yang akan membuat mereka kembali dekat.


Dirga menatap lelaki muda itu dan berkata, "Silahkan."


Keheningan kembali menjebak, perjalanan itu terasa menyesakkan bagi Dirga yang tersadar jika memang tak ada harapan bagi dirinya. Sudah semestinya Dhatu tak memiliki rasa pun padanya. Bagaimanapun ia telah memperlakukan wanita itu dengan buruk.


"Kita akan menuju ke Monument Ground Zero Bali. Bapak dan Ibu bisa menikmati Monumen peringatan bom Bali beberapa tahun lalu."

__ADS_1


"Bisa kita ke pantai aja?" tanya Dirga. Ia membutuhkan angin hangat yang mungkin bisa menekan pedih yang menyelimuti hatinya.


"Monument dulu, baru pantai." Dhatu mulai bersuara.


Keinginan keduanya yang berbeda membuat Abra bingung, sedang Dhatu dan Dirga saling memandang. Dirga mengalah, mungkin memang Dhatu ingin mengunjungi banyak tempat, tak seperti dirinya yang sudah bolak-balik mengunjungi Bali, hingga lebih suka duduk santai di tepi pantai.


"Ya udah ke Monument dulu."


Abra mengangguk, merasa sedikit lega karna tak harus melihat sepasang suami istri berdebat seperti yang kerap ia saksikan. Tamunya kali ini, lebih suka diam dan selalu menghindari perdebatan, tak seperti pasangan pengantin pada umumnya.


Menit demi menit telah berlalu. Mereka tiba di tempat tujuan. Abra kali ini ikut turun dan menuntun keduanya ke Monument. Menjelaskan tempat bersejarah itu pada kedua tamunya.


"Monumen peringatan ini diberi nama Monumen Panca Benua dan lebih dikenal wisatawan dengan nama Monumen Ground Zero Bali." Abra menjelaskan, sedang Dhatu mengangguk-angguk. Dirga hanya memperhatikan Dhatu dalam diam, tak berminat sedikitpun dengan penjelasan Abra.


Dirga mengulurkan ponselnya. "Pake hape saya aja."


Abra tersenyum dan menerima ponsel Dirga. Keduanya berdiri kaku di depan monumen, membuat Abra keheranan. "Pak Dirga lebih baik merangkul ibu, biar hasilnya lebih baik dan santai. Ini 'kan bukan mau ngambil pas foto."


Dirga tersenyum manis, lalu merangkul pinggang Dhatu, mendekatkan tubuh keduanya. Reflek Dhatu menoleh pada Dirga dengan wajah bingung, dan ketidaksiapan Dhatu terabadikan oleh kamera ponsel.


"Boleh sekali lagi, Bu."


Dhatu mengangguk pelan dan keduanya tersenyum ke arah kamera. Abra memperhatikan foto tersebut dan puas dengan hasilnya. Ia menunjukkan hasil foto pada Dhatu dan juga Dirga.

__ADS_1


"Udah cukup atau mau foto lagi?"


Dirga terpesona melihat senyum Dhatu yang telah diabadikan ke dalam kamera ponselnya. Wanita itu memang lebih cocok tersenyum. "Sempurna," ucap Dirga singkat. Dhatu menoleh pada Dirga, hatinya menghangat walau ada ketakutan yang menyelimuti.


Bolehkah ia jatuh cinta pada lelaki yang telah sah menjadi suaminya? Namun, bagaimana jika apa yang dikatakan lelaki itu sebelumnya hanya karna kecewa dan amarah sesaat? Apakah ia sanggup kembali menerima rasa pedih.


"Mau keliling dulu atau lanjut ke pantai?" tanya Abra.


"Pantai," ucap Dhatu singkat.


Abra kembali menuntun keduanya ke arah mobil. Dirga menggenggam tangan Dhatu erat. "Aku nggak mau kamu hilang," ucap Dirga saat Dhatu melihat ke arahnya.


Dhatu tak mampu mencegah hatinya yang berdesir, rasa asing masuk dan memenuhi setiap relung hatinya.


Perjalanan singkat membawa mereka tiba di Pantai Kuta, destinasi wisata pantai yang paling terkenal di pulau Bali. Garis pantai Kuta sangat landai, pasir putih kekuningan dengan tesktur pasir sangat halus, menjadi daya tarik tempat ini. Abra menyarankan keduanya untuk tinggal lebih lama dan menyaksikan pemandangan matahari tenggelam yang mempesona.


Abra meinggalkan keduanya, hendak memberi mereka privasi. Dirga menautkan jemarinya di sela jemari Dhatu. Ia tahu, jika dirinya tak pantas untuk wanita sebaik Dhatu. Ia merasa kerdil dan tak berdaya, baru kali ini ia merasa takut kehilangan yang begitu besar. Bagaimana jika nanti Dhatu tak lagi merasa bertanggung jawab dalam menjalankan perannya sebagai seorang istri? Akankah wanita itu pergi meninggalkannya?


Dirga mengajak Dhatu duduk di bibir pantai dan membiarkan kaki telanjang mereka tersapu ombak. Angin laut memainkan rambut panjang Dhatu, wanita itu tampak sempurna di mata Dirga. Reflek Dirga menyentuh pipi Dhatu, lalu menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga. Ia tersenyum manis, membuat pipi Dhatu terasa panas karna kelembutannya.


"Tu ... aku tahu ini terlalu terburu-buru. Terkesan nggak dewasa. Apalagi setelah memutuskan hubunganku dengan wanita lain." Dirga menatap ke dalam manik mata wanita itu, "tapi, bolehkah aku mencintaimu?"


Waktu seakan berhenti bergulir, meninggalkan keduanya dalam dimensi dan ruang hampa yang tak 'kan bisa dimasuki oleh orang lain. Keduanya berpandangan, suasana mendadak hening.

__ADS_1


__ADS_2