Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Cemburu?


__ADS_3

Mira mengajak Dhatu ke ruang meeting samping ruangan mereka begitu trafik panggilan telpon yang masuk sudah tak begitu ramai. Banyak tanya yang harus dilayangkannya untuk membunuh rasa penasarannya. Tentang Dhatu yang terlalu diistimewakan pihak HR.


Wanita itu bersedekap dada dan menatap Dhatu meneliti, sedang Dhatu yang duduk di hadapan wanita itu hanya bisa meremas-remas ujung kemejanya, mencoba mengusir kepanikan yang merasuki dada. Mira menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. Ia melipat tangan di meja dan mencondongkan sedikit badannya ke depan. Wanita itu menatap Dhatu lekat-lekat, Dhatu menelan ludah dengan susah payah. Ia memaksakan senyum begitu mata mereka saling bertemu.


"Ini hanya di antara kita," ucap wanita itu setengah berbisik, "bagaimana kamu mengenal Pak Sanjaya?"


Dhatu membesarkan kedua mata dan menatap Mira terkejut. Bagaimana bisa wanita di hadapannya menanyakan tentang ayah mertuanya kepadanya? Apa selama ketidak hadirannya ada gosip aneh yang beredar?


"Kenapa tiba-tiba menanyakan Pak Sanjaya?"


"Saya dengar, dia yang memasukkanmu keperusahaan ini. Kamu orang titipan dan itu yang membuat banyak orang di ruangan ini yang nggak menyukaimu."


Dhatu mengangguk-angguk. Kini, ia baru mengerti mengapa begitu banyak orang yang tak menyukainya. Bukan hanya kedekatannya dengan Krisna, namun banyak orang merasa dirinya adalah simpanan seorang bos perusahaan mereka. Luar biasa manusia dengan pemikirannya. Pasti karna ada staff HR yang gemar bergosip dan menyebarkan kabar itu keluar. Apalagi, penambahan cutinya yang lalu langsung diurus oleh ayah mertuanya.


"Aku nggak bisa memaksa orang untuk menyukaiku, Mbak." Dhatu tersenyum tipis, "aku juga nggak peduli tentang apa yang mereka pikirkan. Pak Sanjaya adalah orang yang sangat saya hormati."


Mira mengangguk mengerti. "Saya hanya mau kamu nggak salah paham. Saya memanggilmu ke sini, bukan karna merasa iri atau mau mencari tahu hubungan kalian. Hanya ingin memperingatkan saja."


Dhatu tersenyum tipis. Ia tahu benar maksud tersembunyi dari perkataan wanita itu. Mira tak pernah peduli dengan urusan orang, yang ia pikirkan hanya mencari muka dan juga karir. Mendengar kabar ia dekat dengan seorang bos, pasti membuat Mira berpikir untuk menjadikan Dhatu sebagai asetnya.


"Makasih atas peringatannya, Mbak," ucap Dhatu seraya berdiri, "udah jam istirahat. Aku boleh istirahat, Mbak?"

__ADS_1


Mira mengangguk. " Tentu saja."


Keduanya berbagi senyum seraya berjalan keluar ruangan. Dhatu berpisah dengan Mira begitu menemukan Krisna sudah menunggunya di depan ruangan. Lelaki itu melempar senyum hangat dan berjalan mendekat. Krisna memang tak kaya, namun wajah tampannya membuat lelaki itu banyak disukai dan selalu menjadi bahan rebutan banyak wanita. Dhatu beruntung karna memiliki seseorang yang begitu menjaganya bagai seorang kakak kandung seperti Krisna.


"Ayok, kita makan, Tu!" ucap Krisna begitu berdiri di hadapan Dhatu, "kamu lagi mau makan apa?"


Dhatu tersenyum. "Apa aja, Mas. Yang penting ikhlas."


Krisna tertawa kecil. "Ikhlas banget. Bekal makan siang kamu udah dikasih ke Rina, 'kan?"


Dhatu mengangguk. "Udah, Mas. Aku nggak mau buang makanan."


Krisna tergelak. "Ya, Tu. Aku udah sangat mengenalmu. Gimana kalau ke mall deket kantor?"


Menit demi menit telah berlalu. Dhatu dan Krisna telah tiba di mall, keduanya memutuskan ramen sebagai menu makan siang mereka. Keduanya asyik memilih menu, sesekali canda tawa menghiasi kebersamaan mereka. Keduanya tak sadar, sepasang mata tengah mengamati mereka dari kejauhan.


Lelaki itu berjongkok di balik meja dan mengintip dari kejauhan. Ia mengeraskan rahang melihat wanitanya tersenyum begitu bahagia bersama dengan lelaki lain. Salahkan saja dirinya yang terlalu rajin dan mengikuti Dhatu ke ruangannya tadi pagi. Mengamati wanita itu dan mendadak cemburu buta melihat kedekatan wanita itu bersama lelaki yang selama ini selalu terlihat dekat dengan Dhatu, hingga dirinya membatalkan acara makan siang mereka. Ia mengacak rambut gusar saat melihat lelaki lain itu melayani Dhatu dengan penuh kasih sayang. Memberikannya semua bumbu tambahan untuk menyantap ramen dan dengan santainya melayani Dhatu. Terlihat begitu memanjakan wanitanya.


"Pak ... sepertinya mereka terlihat begitu dekat. Lelaki itu bahkan nggak segan melayani Bu Dhatu dengan santainya." suara di samping telinganya itu adalah milik Drew, asisten pribadi yang mengetahui pernikahan mereka dan kerap mengurus semua keperluan pribadi Dirga. Bukan seperti sekretaris di kantor yang hanya mengurus pekerjaan kantor saja, Drew sudah bagai sahabat terdekat Dirga.


Amarah di dada Dirga semakin meningkat mendengarkan kata penuh provokasi itu. Tanpa diberitahu pun, ia bisa melihat kedekatan di antara keduanya.

__ADS_1


"Ya, aku bisa melihatnya sendiri," ucap Dirga kesal.


Seorang pramusaji menatap mereka yang tengah bersembunyi dengan curiga, lalu berjalan mendekat. "Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya wanita muda itu menginterupsi.


Dirga berdehem, Drew tersenyum kikuk sembari menatap sekeliling, memastikan Dhatu tak menemukan keberadaan mereka. Dirga memperbaiki pakaiannya, mengangkat sedikit dagu, dan berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menunggu Drew yang mendadak kelabakan ditinggal begitu saja.


"Maaf, Mbak. Tadi ada barang yang jatuh jadi kami berdua mencarinya," ucap Drew menjelaskan, "kami pergi dulu," lanjutnya seraya mengintip ke balik punggung wanita itu, memastikan Dhatu tak melihat kelakuan memalukan bosnya yang memata-matai istrinya sendiri. Wanita itu tersenyum maklum dan Drew segera mengejar langkah Dirga.


"Semuanya udah aman, Pak. Apa sekarang kita akan kembali ke kantor?" tanya Drew yang menemukan Dirga yang tengah menyandarkan tubuh pada sebuah pilar.


"Kenapa mereka bisa sedekat itu?" tanya Dirga setengah berbisik, seakan mengajukan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri, "apa menurutmu mereka pernah atau punya hubungan spesial?"


"Apa Bapak mau aku menyelidikinya?"


Dirga menggeleng. Ia percaya pada Dhatu. "Aku yang akan mengurusnya. Kita nggak akan kembali sebelum Dhatu meninggalkan mall ini." keputusannya sudah bulat, ia akan mengekori keduanya dan memperhatikan dari jauh.


Drew menghela napas gusar. Permainan detektif mereka masih harus dilanjutkan. Padahal, Drew sudah memberitahukan jika Dirga tak harus melakukan hal konyol ini hanya karna cemburu, namun dirinya malah dimarahi, hingga tak ada jalan lain, selain mengikuti kemauan Dirga.


Dirga sesekali mengintip, menunggu Dhatu selesai makan. Beberapa menit kemudian keduanya keluar dari restoran Jepang itu, keduanya tampak bercerita santai dan sesekali canda tawa menghiasi kebersamaan keduanya. Dirga mengendap-endap, berusaha menjadi ninja, yang bersembunyi di balik benda atapun tembok, sedang Drew mengikuti lelaki itu tanpa memprotes. Banyak mata yang menatap Dirga dan Drew dengan aneh, hingga membuat Drew malu, namun tidak dengan Dirga yang seakan kehilangan akal sehatnya.


Dirga mengepalkan tangan saat melihat Dhatu dan Krisna mampir di toko boneka, lalu lelaki itu membelikan gantungan kunci dengan mainan boneka beruang coklat pada Dhatu. Hadiah sederhana yang membuat tawa bahagia menghiasi wajah Dhatu.

__ADS_1


Ahh ... aku akan segera gila karnamu, Tu!


__ADS_2