
Perjalanan pulang mereka kali ini penuh dengan keheningan, tak ada seorang pun yang mau membuka pembicaraan, seakan masih sibuk dengan pemikiran masing-masing. Dhatu tahu, walau berkata sedingin itu, Dirga pasti merasa iba pada Kana. Walau bagaimanapun mereka pernah bersama, apalagi masalah bayi yang dibicarakannya tadi, Dirga pasti memikirkan tentang bayi itu. Dirga bukan seseorang yang sanggup bersikap kejam walau memang terkadang lelaki itu kerap terlihat dingin, namun hanya sebatas pada pekerjaan dan orang yang tak begitu dikenalnya. Bersama Dirga membuat Dhatu mengetahui banyak hal tentang lelaki itu.
"Mas ...." Dhatu mencairkan suasana di antara mereka, Dirga melirik sekilas ke arah Dhatu dan tersenyum padanya.
"Kenapa, Sayang?" Dirga mengusap puncak kepala Dhatu penuh kasih.
"Apa kamu beneran nggak percaya kalau memang Kana mengandung anakmu, Mas? Apa kamu beneran nggak masalah kalau aku yang merawat anak itu tanpa ibu kandungnya?"
Dirga tersenyum dan mengusap lembut wajah wanita di sampingnya. "Semua yang kukatakan tadi adalah kenyataannya. Aku nggak pernah menyentuhnya. Aku malah lebih beruntung kalau kamu mau merawat anak itu, daripada menyerahkannya pada Kana," Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, "aku memang nggak munafik kalau laki-laki itu paling nggak kuat nahan nafsu. Udah hukum alamnya begitu, tapi saat kamu jatuh cinta pada seseorang. Kamu akan menjaganya dengan baik, bukan merusaknya atas nama cinta." lanjut Dirga menatap lurus ke depannya.
Dirga yang dulu tak perna tahu apanartinya cinta, dibutakan olehnya. Diperalat dan membiarkan dirinya jatuh dalam perangkap Kana. Hingga akhirnya ia bertemu Dhatu yang mengajarkannya arti cinta dan juga dicintai. Semakin membuatnya yakin, jika sejak awal memang tak pernah ada cinta di hatinya untuk wanita itu. Kebersamaan mereka hanya sekadar kesemuan semata, di mana ia membutuhkan orang untuk dilindungi, serta Kana membutuhkan seseorang untuk melindunginya. Hanya dua orang yang bersama karna kebutuhan semata. Tak pernah lebih dari itu.
Dhatu tersenyum miris. Betapa besar cinta yang Dirga miliki untuk Kana. Hingga lelaki itu tak mau merusak wanitanya. Dhatu merasa bersalah karna menjad perusak hubungan. Dirinya lah orang ketiga dalam hubungan ini. Andai saja ia mengetahui semuanya. Mungkin, lebih baik ia menolak perjodohan yang membuat banyak orang tersakiti, daripada harus menerima kenyataan menyakitkan ini. Harusnya, bukan dirinya yang berada di sini dan berkendara dengan Dirga. Tanpanya, mungkin saja, Dirga dan Kana telah memiliki keluarga kecil yang bernahagia.
__ADS_1
Dirga menggenggam tangan Dhatu dengan sebelah tangannya yang bebas. "Semua itu adalah masa lalu, Tu. Aku yang terlalu bodoh, hingga salah mengartikan rasa. Perasaan itu bukan cinta dan aku yakin itu, jadi kamu jangan merasa bersalah atas kandasnya hubungan kami," ucap Dirga mengeratkan genggaman tangannya, lalu ia kembali menggenggam kemudi.
"Tapi, andai aku nggak hadir. Mungkin, kamu akan benaran akan jatuh cinta padanya, Mas. Aku memang telah merusak segalanya. Aku hadir begitu saja dan mengacaukan hidupmu, perkataanmu dulu memang benar. Aku menghancurkan hidupmu, Mas. Maafin aku, Mas," ucap Dhatu seraya menunduk.
"Jika kamu nggak masuk ke dalam hidupku. Aku akan terus dibodoh-bodohin oleh Kana. Apa kamu rela, lihat aku ditipu terus dan mungkin aja akan diporotin sampe bangkrut?" Dirga menaikkan sebelah alis dan menatap Dhatu penuh tanya, sedetik kemudian ia kembali mengarahkan pandangan pada jalanan di hadapan mereka.
Dhatu menggeleng cepat-cepat. Ia tak mungkin merelakan Dirga ditipu hingga sedemikian parahnya. Melihat kesedihan wanita itu, membuat Dhatu mulai melupakan kejahatan yang pernah wanita itu lakukan pada Dirga. Tak seharusnya ia merasa bersalah, justru karna kehadirannya Dirga bisa melihat siapa Kana yang sesungguhnya.
"Aku nggak memikirkannya."
Dhatu tersenyum dan mengangguk pelan, membenarkan semua perkataan Dirga. Tak semua orang di dunia ini adalah orang baik. Setiap orang diberikan benih kebaikan dalam dirinya, namun lingkungan dan juga perjalanan hidup yang akan menentukan orang tersebut ingin menyuburkan benih tersebut atau menggali dan membuangnya. Melihat Kana tadi membuat Dhatu yakin, jika benih kebaikan masih tersimpan baik di dalam dasar hati wanita itu.
"Lalu apa rencanamu, Mas?"
__ADS_1
Dirga tampak berpikir sesaat. "Menurutmu, apa yang harus kulaukan, Tu? Aku ingin mendengar pendapatmu dan mencari solusinya bersama. Aku nggak akan melakukan hal yang nggak kamu izinkan dan hal yang nggak kamu sukai." Lelaki itu menatap Dhatu sekilas.
Entah dirinya yang terlalu beruntung atau Tuhan memang begitu mencintainya, hingga mengirimkan suami sebaik Dirga. Lelaki yang mungkin sudah langka di dunia atau hanya ada di dalam cerita fiksi belaka. Lelaki itu selalu mementingkan perasaannya, menomersatukan keinginannya, dan Dhatu merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Pernikahan memanglah harus didasari cinta, akan tetapi harus ada komitmen di dalamnya. Apakah kau berani menjaga komitmen itu untuk seumur hidup atau hanya berharap pada cinta yang tak 'kan pernah berubah? Lelaki itu mengajarkannya banyak hal.
"Menurutku, kamu harus membiayai kehidupannya selama ia mengandung, Mas. Walau bagaimanapun, ada kemungkinan dia memang menagndung anakmu dan seharusnya, kita memberikan yang terbaik untuk Si calon bayi."
Dirga mengangguk-angguk mengerti. "Apa kamu yakin itu yang kamu mau?"
Dhatu mengangguk yakin. "Ya. Besok aja dia berbicar baik-baik. Tanggung biaya hidupnya dan berikan semua yang terbaik untuk Si bayi. Walaupun nantinya, dia bukan darah dagingmu, setidaknya, kita telah membantu menjaga bayi dan ibu yang saat ini memerlukan dukungan. Walau kehidupan seseorang begitu bebas, seorang wanita pasti akan menanggung beban moral, rasa malu dan kekhawatiran saat hamil di luar nikah."
Dirga merasa beruntung memiliki Dhatu di sisinya. Wanita itu tak menghakimi dan percaya penuh padanya. Ia bahkan memikirkan orang yang seharusnya tak.ia pedulikan sama sekali karna berusaha menyakitinya dengan cara licik. Bisa saja Dhatu tak peduli dan meminta Dirga menjauhi wanita itu, menghasutnya untuk membenci Kana, akan tetapi Dhatu tak melakukannya.
"Makasih banyak, Tu." Dirga tersenyum, "untuk semuanya," lanjutnya sembari menarik tangan Dhatu, mengecup punggung tangan wanita itu sekilas dan keduanya saling berbagi senyum.
__ADS_1
"Aku bukan malaikat, Mas. Aku tentunya tersakiti dengan fakta ini. Marah pada Kana dan juga padamu." Dhatu tersenyum lirih, "tapi aku berusaha memposisikan diri sebagai kalian. Bagaimana jika aku menjadi Kana yang harus mengandung walau belum menikah, sebagaimu yang pastinya akan mempercayaiku jika aku melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, cinta tak hanya sekadar perkataan, tapi komitmen untuk berani mempercayaimu dan berjalan bersamamu saat susah maupun senang."
Keduanya berbagi senyum dan hati mereka berdesir hangat. Cinta memang kerap mengacaukan hidup maupun kewarasan seseorang, namun jika kau sungguh mencintainya, maka kau akan menjadikan kekacauan itu sebagai anugerah.