Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Memanusiakan Manusia


__ADS_3

Om Mirko dan juga Dirga segera bergabung dengan Dhatu yang menunggu di ruang tamu dengan minuman dan camilan yang dibeli Dhatu lewat layanan online.Tak ada apa pun yang bisa disajikan, oleh karna itu Dhatu memutuskan untuk membelinya saja.


"Duduk dulu, Om. Toh jam praktek Om udah selesai," ucap Dirga sembari mempersilahkan lelaki paruh baya untuk duduk pada sofa yang menghiasi ruangan.


"Om harus segera kembali, Ga."


Dhatu segera berdiri dan mendekat pada kedua lelaki itu. "Mari kita bersantai sebentar, Om. Aku udah menyiapkan sedikit makanan dan juga minuman."


Om Mirko menjadi tak enak hati. Ia pun mengangguk sekilas dan duduk pada sofa yang dipersilahkan oleh Dirga. Bi Ina berpamitan untuk menjaga Kana di kamar begitu mereka semua sudah duduk di aofa putih yang berada di tengah ruangan.


"Jadi ... gimana hasilnya? Apa Kana udah baik-baik aja, Om?" tanya Dhatu khawatir.


Om Mirko tersenyum sekilas, lalu meliruk Dirga. om Mirko telah mengukur berat badan serta tanda-tanda vital Kana, yang meliputi tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Ia juga melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kandungan. Tentu saja semua itu dilakukan dengan alasan mencari tahu penyakit yang tengah Kana idap.


Dirga tersenyum dan mengangguk pelan, seakan memberitahukan Dhatu tentang penemuannya. "Om curiga kalau dia kena Gerd. Gejala yang Kana alam sangat cocok dengan penyakit ini. Nyeri panas di dada yang biasanya terjadi setelah makan dan memburuk ketika berbaring."


"Lalu apa yang harus dilakukan? Bagaimana dengan kondisi bayinya? Baik-baik 'kan, Om?"


"Om udah memberikan resep obat pada Dirga untuk ditebus dan juga memberitahukan apa yang bisa dilakukan Kana," Om Mirko melirik pada Dirga, "masalah kandungan ..." ada keraguan dari pria paruh baya itu untuk melanjutkannya. Dirga mengangguk, mengatakan 'tidak apa-apa' pada Om Mirko untuk melanjutkan perkataannya, namun Om Mirko harus melakukan beberapa test lagi. Sampel darah sudah dikantonginya untuk mendiagnosa lebih tepat lagi, namun mengenai kandungan. Apa ini tempatnya untuk membicarakan perihal itu?


Dhatu menatap keduanya bergantian, ia tak mengerti mengapa mereka seakan tengah menyimpan rahasia darinya. Rasa takut menjalar ke penjuru relung hati Dhatu. Apakah sesuatu terjadi pada bayi Kana?

__ADS_1


"Kenapa Om Mirko nggak sekalian memeriksamu?" Dirg mencoba mengalihkan pembicaraan. Mendengar kabar tentang Kana, hampir membuat Om Mirko lupa jika Dirga juga meminta lelaki itu untuk memeriksakan Dhatu.


"Om hampir lupa. Padahal, Dirga sudah sejak tadi mengingatkan. Sini Om periksa dulu."


Dhatu menggeleng. "Aku udah baik-baik aja, Om. Katakan dulu tentang Kana."


"Jangan bandel, Tu! Aku mau kamu diperiksa, kalau nggak, aku nggak bakalan tenang."


Dhatu menghela napas gusar. "Apa benar terjadi sesuatu pada Kana atau bayinya? Sampai-sampai kalian mau menyembunyikannya dariku?"


"Kana nggak hamil, Tu. Dia menipu kita," ucap Dirga pada akhirnya.


Dhatu terperanjat, tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang dialaminya. Bagaimana bisa Kana melakukan sekeji itu saat Dhatu percaya penuh padanya? Bagaimana bisa seseorang menjadi begitu egois? Cintakah yang membuat kita kerap membenarkan sikap buruk kita? Bisakah disebut cinta, bila apa yang kita lakukan membuat orang yang kita sayangi terluka?


"Aku meminta Drew menyelidiki Kana dan terbelit hutang besar, hingga menjual apartemen. Semua lelaki yang pernah menjalin kasih padanya, dia tinggalkan, hanya untuk kembali padaku. Oleh karna itu, dia nggak punya apa pun lagi."


Hati Dhatu teriris perih. Ada marah dan juga kesal, akan tetapi lebih banyak rasa iba yang Dhatu miliki untuk Kana. Tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mau dicintai, kita kerap salah mengambil keputusan, hingga kehilangan hal yang sangat berarti, itulah Kana. Dhatu tak begitu paham bagaimana kehidupan Kana, hingga terbelit hutang besar, akan tetapi ia tahu, jika uang dan pamor bukan satu-satunya alasan untuk mendapatkan kebahagiaan. Kana adalah bukti nyatanya, wanita itu malah memilih melepaskan semuanya demi mengais cinta yang pernah dibuangnya.


Tanpa sadar air mata Dhatu mengalir, Dirga panik dan segera mengusap air mata Dhatu. "Kamu kenapa nangis?"


"Kana kasihan."

__ADS_1


Dirga tersenyum, tak habis pikir, mengapa wanita itu masih bisa memikirkan dan mengiba pada orang lain yang telah menipunya. Bagaimana bisa wanita itu memikirkan wanita yang telah bermaksud mengambil tempatnya. Dirga memeluk wanita itu erat-erat.


"Dia harus belajar dari pengalaman, agar bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Nggak selamanya dia mendapatkan apa yang dia inginkan."


Dhatu melepaskan pelukan mereka dan mengangguk setuju. "Lalu, apa rencanamu padanya? Apa kamu akan membiarkannya begitu aja, Mas? Aku rasa, kita harus membantunya, walau dia telah melakukan kesalahan fatal."


Dirga tersenyum, menyelipkan anak rambut Dhatu ke balik telinganya, lalu mengusap lembut wajah wanita itu. "Kamu nggak usah khawatir, Sayang."


"Aku hanya kasihan padanya. Dia pasti merasa sendiri. Dia anak yatim piatu, mungkin yang dia inginkan hanyalah sedikit perhatiaan."


Dirga mengangguk mengerti. "Aku akan membiarkannya beristirahat, memberikannya pekerjaan yang sesungguhnya agar dia bisa melanjutkan hidup. Aku meminta Drew berbicara pada Sam, karibku untuk menjadikan Kana staff di perusahaannya."


Dhatu tersenyum dan memeluk suaminya erat . Ia merasa bahagia dan juga bangga pada suaminya yang mau membantu orang yang telah menyakitinya. Jika hidup adalah tentang membalas dendam dan mengabaikan orang yang memerlukan pertolongan, maka tak ada manfaatnya kita hidup di dunia ini, bukan? Memaafkan memang lebih mudah, daripada melupakan. Kita tak harus melupakan perbuatannya, namun memberi orang tersebut kesempatan.


Dirga mengusap puncak kepala Dhatu. "Sekarang, kamu jangan khawatir lagi. Aku akan mengurus semuanya. Kamu udah mau dicek sama Om Mirko, kan?"


Dhatu mengangguk, lalu keduanya melirik ke arah Om Mirko yang menatap keduany kagum. "Kalian memang pasangan yang serasi, " puji laki paruh baya itu, "om cek dulu. Apa keluhanmu? Kata Dirga kamu kehimangan nafsu makan dan sering merasa mual? Sudah berapa lama mengalami hal ini?"


"Hanya mual dan terkadang pusing-pusing aja, Om. Udah hampir dua mingguan aku nggak selera makan, malah sering muntah-muntah saat pagi. Rasanya kacau. Kayaknya, aku salah makan sesuatu."


Dirga menggeser tubuh dan memberikn tempat bagi Om Mirko untuk memeriksa Dhatu. Lelaki paruh baya itu mengeluarkan peralatannya dan mulai mengintrogasi Dhatu sembari memeriksa denyut nadi wanita itu. Beberapa menit kemudian lekai paruh baya itu tersenyum, lalu melirik pada Dirga yang terlihat tak sabar menantikan hasil pemeriksaan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2