Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Jalan Terbaik Untuk Kita


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju parkiran mobil, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Dhatu sendir terlalu takut untuk sekadar bertanya pada suaminya. Dirga pasti marah melihat adegan tak senonoh yang baru saja terjadi. Jika dirinya berada di posisi lelaki itu, ia pasti akan marah besar. Dirinya mengaku salah, akan tetapi semuanya terjadi begitu saja, ia pun masih terkejut denga apa yang terjadi. Tak pernah sedikit pun ia berpikir jika lelaki itu memiliki rasa lebih padanya. Padahal, selama ini Krisna begitu mengayominya. Bagaimana mungkin lelaki itu menyimpan rasa seperti itu? Ya Tuhan ... ingin rasanya Dhatu marah pada Krisna, akan tetapi atas dasar apa? Dhatu sendiri sangat mengerti jika cinta adalah rasa yang tak mungkin bisa dikontrol. Tak ada seorangpun yang mampu mencegah rasa yang memenuhi bathin itu.


Dirga membukakan pintu untuk Dhatu tanpa berbicara apa pun. Dhatu memandangnya sekilas sebelum masuk dan duduk di dalam mobil. Dirga mengintari bagian mobil dan segera duduk di balik kemudi. Lelaki itu menyalakan mesin mobil, tapi tak berniat melajukan mobilnya. Ia hanya menggenggam kemudi keras-keras dan menatap kosong ke depan. Hati Dhatu sedih melihat amarah di wajah lelaki itu. Semua ini karna dirinya yang tak bisa menjaga diri dan membiarkan orang mencium bibirnya. Harusnya Dhatu bisa mendorong lebih keras dan mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya.


"Maafkan aku, Mas. Harusnya, aku segera lari. Maafkan aku," ucap Dhatu seraya menunduk.


Air matanya kembali jatuh, hatinya pedih didiamkan oleh suaminya. Ia tak bermaksud membuat lelaki itu marah. Andai saja, ia bisa memutar balikkan waktu, maka ia akan mengikuti semua rekan kerja yang lebih dulu meninggalkan ruangan. Padahal, biasanya semua berjalan aman. Ia akan ditinggal sendiri di ruangan dan menyibukkan diri dengan membaca novel online untuk membunuh waktu sembari menunggu Dirga, akan tetapi siapa yang akan mengetahui apa yang akan terjadi esok, bukan?


"Apa saja yang dilakukannya padamu?" Dirga menoleh pada Dhatu, lalu menempatkan tangannya pada dagu Dhatu dan mengarahkan wajah wanita itu ke arahnya.


"Nggak melakukan apa pun selain memenciumku dengan paksa," ucap Dhatu dengan suara bergetar.


Dirga melepaskan tangannya dari dagu Dhatu, lalu memukul kemudi keras-keras. Sungguh, seharusnya ia segera pergi menemui Dhatu saat perasaannya tak enak. Bukan malah menunda. Apa yang akan terjadi pada wanita itu, jika saja dirinya datang terlambat. Sungguh, Dirga tak sanggup membayangkannya.


Dhatu mencengkram lengan Dirga dan berujar lirih, "Maafkan aku, Mas. Aku tahu kalau aku salah. Maafin aku, ya?"


Dirga menoleh pada Dhatu, kembali menangkup dagu wanita itu dan mempertipis jarak di antara wajah mereka. Dirga mengecup bibir Dhatu, lalu melahapnya dengan rakus, mengecap dan mencium bibir ranum wanita itu dalam-dalam. Sedetik kemudian, Dirga melepaskan ciumannya.


"Aku akan menghapus semua jejak lelaki itu dari bibirmu. Kamu nggak akan lagi merasakan bibir lelaki lain, semuanya akan aku bersihkan," ucap Dirga sembari mengusap lembut bibir Dhatu, "semua itu bukan salahmu. Dia yang bersalah!"

__ADS_1


Air mata mengalir semakin deras, ia beruntung mempunyai suami seperti Dirga yang begitu mempercayainya. Dhatu mengangguk, sedang Dirga mengusap air mata wanita itu.


"Sini, kuhapus semua jejaknya," ucap Dirga sembari mempertipis jarak di antara wajah mereka. Ia melapah bibir Dhatu, lidah keduanya saling beradu, bibir mereka bergerak seirama dan saling mengecap.


Dhatu ingin Dirga menghilangkan semua jejak Krisna darinya. Ia tak mau seorangpun selain Dirga, tak mau merasakan bibir orang lain, maupun menerima cinta yang lain. Hanya lelaki itu yang dibutuhkannya. Mata keduanya saling terpejam dan jantung mereka bergerak seirama. Kehangatan menjalar ke setiap penjuru hati keduanya.


Dirga melepaskan ciumannya dan menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya. Ia tersenyum menatap pada wanitanya, lalu mengecup kening wanita itu penuh kasih. Tak ada satu hal pun yang ia inginkan selain Dhatu. Ia tak akan membiarkan siapa pun menyakiti wanita itu dan akan menjaganya dengan baik. Dirga tak akan membiarkan hal serupa terjadi pada wanitanya.


"Sebenarnya ada hal lain yang mau kuakui," ucap Dhatu takut-takut, namun ia tak mau menunda. Ia tak mau mengkhianati kepercayaan yang telah Dirga berikan padanya.


Dirga menatap wanita itu lekat-lekat. "Hal apa, Tu? Sampaikan aja karna aku nggak mau ada kesalahpahaman di antara kita. Aku nggak suka berantem sama kamu."


Dirga terdiam sesaat, lalu tergelak pelan. "Hanya itu?"


Dhatu heran, namun mengangguk pelan. "Ya, hanya itu. Aku nggak mau kamu salah paham. Siapa pun orang yang memberiku semua itu, nggak akan berarti apa pun."


Dirga tersenyum lalu mengacak puncak kepala Dhatu. "Semua itu dariku," ucap Dirga lembut, sedang Dhatu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.


"Kamu yang ngasih? Tapi kok bisa? Kita kan datang bareng-bareng, kapan kamu menyelinap ke ruanganku dan meletakkan semuanya di sana?" Dhatu menatap Dirga dengan tatapa meneliti dan mencoba memikirkan cara masuk akal bagaimana semua hadiah itu bisa berakhir di mejanya.

__ADS_1


Dirga tertawa kecil melihat kebingungan Dhatu. Tentu saja hal itu sangat mudah dilakukannya. Memberikan hadiah untuk orang yang dicintai, tak kan mungkin bisa terasa susah bila hatinya senang melakukan semua itu. Dirga mengusap kerutan yang mulai menghiasi kening wanita itu yang melihat tawanya.


"Aku menyuruh Mas Tono meletakkanya di mejamu begitu di datang pagi-pagi sekali."


Dhatu mengerucutkan bibirnya. "Padahal, aku udah mengintrogasi Mas Tono dan di nggak mau mengakuinya. Dia malah bilang nggak lihat apa pun di mejaku."


Lagi-lagi Dirga tertawa. "Mana mungkin dia mau mengakuinya. Aku memintanya untuk merahasiakan hal ini."


"Setidaknya, kamu harus menuliskan namamu di sana, agar aku nggak ketakutan. Seharian aku bingung menjelaskan semuanya padamu. Aku nggak suka menyimpan rahasia darimu, Mas."


Dirga mengusap lembut wajah wanita itu. "Aku nggak mungkin menuliskan nama ataupun kata dari suamimu di sana, bukan? Bagaimana jika ada orang lain yang lebih dulu hadir dan mulai kepo dengan apa yang ada di mejamu? Aku hanya mau menjagamu, Tu. Aku nggak mau membuatmu dalam masalah."


Hati Dhatu berdesir hangat, ia bahagia bukan main. Dirga selalu memikirkannya, namun dirinya bersikap tak mau tahu dan begitu egois. Harusnya, ia bisa lebih mengerti dan mengalah. Dhatu menggenggam kedua tangan Dirga yang berada di wajahnya dan tersenyum manis.


"Makasih karna kamu begitu mencintaiku, Mas. Aku akan mengajukan surat resign besok."


Dirga menggeleng. "Kamu nggak harus melakukannya, Tu. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau."


Dhatu menggeleng. "Ini yang kumau, Mas."

__ADS_1


Keduanya saling bertukar senyum. Ya, ini keputusan yang benar. Dhatu tak mungkin bisa terus berada di tempat yang akan membuat Dirga khawatir. Ia pun tak mungkin bertemu Krisna dan membuat lelaki itu semakin tersakiti dengn kehadirannya. Ini yang terbaik.


__ADS_2