
Hari berlalu begitu cepat, senja telah berpulang kelamnya malam menyambut semua insan yang memenuhi bumi. Setelah berfoto dan saling berpelukan perpisahan, Dhatu meninggalkan perusahaan. Sesungguhnya, ia masih memiliki aku seminggu sebelum tanggal keluarnya dia dari perusahaan, namun banyak divisi yang salah sangka dan mendatanginya untuk menyampaikan salam perpisahan.
"Dhatu dalam sekejap jadi terkenal," ucap Rina yang duduk di samping wanita itu. Seusai jam kerja tadi, wanit denga cepat menuju ruangan Dhatu. Krisna dan Rina masih setia menanti Dhatu yang merapikan barang-barang pribadinya. Nyicil dulu, katanya.
"Kamu mau minta tanda tanganku, nggak? takutnya nanti aku jadi artis dan kamu bakalan bisa jual mahal tanda tanganku," ucap Dhatu sambil menyengir, sedang Rina menatapnya jengah. Dhatu dan Krisna terbahak melihat wajah kesal wanita itu.
"Belum terkenal aja, udah sombong," cibirnya.
"Harus latihan mulai sekarang," ucap Dhatu yang masih sibuk memasukkan beberapa barangnya ke dalam kardus kecil, "habis ini, kita jadi jalan, kan?"
"Yakin nggak bakalan dibuntuti suamimu lagi, Tu?" tanya Krisna dengan tertawa kecil. Tawa ikut menular pada Rina.
Dhatu menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. Salahkan saja Dirga yang terlihat begitu posesif hingga dirinya menjadi bahan ejekan banyak orang. Dhatu mengerti akan kekhawatiran lelaki itu, hanya saja, terkadang sikap lelaki itu sedikit kelewatan. Dirinya memang berusaha mengerti Dhatu, akan tetapi, sulit untuk benar-benar melepasnya sendiri. Dirga begitu memanjakannya.
"Aman ... Aku udah izin sama Mas Dirga. Dia juga harus menghadiri makan malam bersama rekan bisnis, nanti pulang dari sana dia jemput aku."
Krisna menatap Dhatu curiga. "Beneran, Tu?"
Dhatu mengangguk. "Ya, iyalah. Masa aku bohong," ucap Dhatu memutar mata malas, "Mas Dirga hanya terlalu memanjakanku, tapi sebenarnya niatnya baik."
Rina mengangguk-angguk. "Keliatan kok, kalau dia begitu mencintaimu," Rina melirik Krisna sekilas, lelaki itu tak seperti kemarin. Kini, Rina dapat melihat wajah santai Krisna, seakan lelaki itu tengah belajar menerima keadaan atau mungkin lelaki itu mengikuti sarannya untuk coba benar-benar melepaskan Dhatu? Rina menepuk pundak Krisna, membuat lelaki itu menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
Rina menggeleng sembari tersenyum. "Aku cuma mastiin aja kalau Mas Krisna masih hidup."
Lelaki itu berdecak sebal, sedang Rina tersenyum sepolos mungkin. Rina suka menjadikan rasa patah hati Krisna sebagai bahan menggoda, sedang Krisna tak hbis pikir mengapa wanita itu suka menggodanya dengan hal yang seharusnya dikasihani. Tak lama senyum Dhatu mengembang menyaksikan dua orang di hadapannya yang masih berdebat kecil sembari berpandangan. Hati Dhatu menghangat menyaksikan pemandangan di hadapannya
"Kayaknya, sebentar lagi, aku bakalan dapat undangan pernikahan kalian berdua," Dhatu tersenyum manis menatap keduanya secara bergantian, sedang yang ditatap mendadak membeku, sedetik kemudia mereka secara bersamaan mengeluarkan ekspresi jijik, membuat tawa Dhatu pecah.
"Please, Tu ... di dunia ini, masih banyak lelaki lain. Kenapa harus mengkhayal hal yang nggak mungkin gitu."
"Tu ... dunia halunya jangan kebangetan. Mana ma aku sama Rina."
"Lah ... aku juga nggak mau sama Mas Krisna, orang yang gagal move on gitu mah bakalan susah diajak maju."
"Kata orang, benci bisa jadi cinta loh. Karna benci dan cinta itu jaraknya tipis banget."
"Dhatuuu ..." teriak keduanya bersamaan. Dhatu terbahak untuk yang kesekian kalinya. Suara deheman menghentikan tawa Dhatu ia menoleh ke sumber suara dan menemukan Dirga bersama dengan Drew di ambang pintu.
Dhatu segera berdiri dan memeluk erat suaminya, sedang Dirga membelai puncak kepala Dhatu penuh kelembutan. Sedetik kemudian Dhatu melepaskan pelukannya dan memberikan senyum terbaiknya untuk lelakinya.
"Udah mau jalan?"
__ADS_1
Dhatu mengangguk. "Iya, Mas. Ini udah mau jalan, kok. Mas juga udah mau mulai meetingnya?"
Dirga membelai lembut wajah Dhatu dan keduanya seakan berada di dunia sendiri, berbagi senyum dan saling menatap penuh cinta. Ketiga orang lain yang berada di antara mereka, mendadak merasa bagai obat nyamuk yang tak berguna di sana. Drew berdehem di belakang Dirga, berharap atasannya itu bisa bersikap lebih normal lagi saat berada di sekitar banyak orang. Bukan mejauhkan jaraknya dari Dhatu, Dirga malah kembali menarik Dhatu dalam dekapan dan mengecup kening istrinya penuh kasih sayang.
"Eheemmm ..." Drew sengaja mengeraskan dehemannya, "kita harus segera pergi kalau nggak mau terlambat, Pak." lanjut Drew menatap Dirga sedikit kesal, sayang yang ditatap tampak tak peduli.
"Aku pergi dulu. Kamu hati-hati ya, Sayang," ucap Dirga mengecup pipi istrinya penuh kasih sayang, "kabarin aku kalau ada apa-apa. Oh ya, kotak yang mau dibawa mana? biar Drew bawain ke mobil," lanjut Dirga menatap ke belakang punggung Dhatu.
"Iya, nanti aku kabarin. Kami semua pergi pakai mobil Rina, kok. Jadi aman, Mas. Nggak usah khawatir ya." Dhatu mengelus lembut lengan suaminya. Ia tak lagi merasa canggung, karna semua yang ada di sana sudah mengetahui hubungan keduanya.
Dirga memberi kode agar Drew mengambil kotak yang dimaksudkan oleh Dhatu, lelaki itu dengan sigap menjalankan perintah atasannya. Dirga menoleh pada Rina yang tersenyum kikuk, ia pikir, lelaki itu tak mampu menyadari kehadiran orang lain di ruangan yang sama itu.
"Saya titip istri saya," ucap Dirga tersenyum santun pada Rina. Rina mengangguk dan tersenyum kikuk.
"Pasti, Pak."
Dirga kembali mengalihkan oandangannya pada Dhatu dan memeluk wanita itu erat. "Aku akan merindukanmu," ucapnya tak peduli dengan beberapa pasang mata yang mulai menatapnya jijik, bahkan Drew saja tak tahu jika Dirga bisa senorak itu. Dulu, saat bersama Kana, Dirga kerap terlihat biasa saja. Tak mau menunjukkan kemesraan pada siapapun. Drew meliha perubahan yang begitu besar pada Dirga setelah menikah dengan Dhatu, membuatnya mulai bertanya, apa memang hubungan pernikahan bisa mengubah seseorang segitu besarnya? bagai orang yang berbeda.
Dhatu membalas pelukan Dirga, keduanya bertukar senyum sebelum lelaki itu melepaskan pelukannya. Dirga menyampaikan banyak nasehat pada Krisna dan juga Rina untuk menamjaga Dhatu, memberitahu apa yang tak boleh dimakan wanita itu da kecepata berapa mobil Rina saat membawa Dhatu bersamanya. Semua yang ada di sana tersenyum kikuk, Dhatu pun segera mendorong punggung Dirga agar lelaki itu tak lagi menambah kata-kata mutiaranya. Sepeninggalan Dirga, Krisna dan Rina yang gantian menertawainya.
"Puas banget ketawanya," ucap Dhatu menyabar tas tangannya, "kita pergi sekarang biar nggak kemaleman, yuk!"
__ADS_1
Keduanya ikut berdiri. Rina berjalan lebih dulu, Krisna menepuk pundak Dhatu dan tersenyum lembut. "Keputusanku untuk menyerah ternyata nggak salah. Dia lelaki yang baik, Tu. Cintanya begitu besar dan aku ikut bahagia untukmu. Tetap seperti ini, agar nggak ada penyesalan di hatiku ya, Tu."
Senyum lelaki itu menular pada Dhatu. Ia mengangguk penuh keyakinan. Mereka akan terus bahagia, hingga tak ada penyesalan yang menghimpit dada.