Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kebahagiaanmu


__ADS_3

Dhatu meletakkan kembali ponsel. Ia tak harus membuat orang-orang ikut panik sepertinya. Menceritakan masalah dalam rumah tangganya pada orang lain hanya akan membuat orang menyebar fitnah dan seakan menceritakan aib keluarga kecilnya. Dhatu tak akan mencoreng kehormatan rumah tangga mereka dengan mencari bantuan dari pihak lain. Tak semua orang bisa menerima curahan hati orang lain. Ada beberapa yang akan menyelipkan kabar kehidupan orang lain itu dalam percakapan, agar membuat perbincangan lebih seru. Bukan tak percaya, hanya ingin menjaga martabat keluarganya.


Dhatu kembali ke lantai bawah dengan membawa ponsel miliknya dan juga ponsel Dirga, takut-takut lelaki itu akan menghubunginya. Dhatu membawa selimut dan menunggu di ruang tamu. Ia akan menunggu hingga lelaki itu kembali dan memohon ampun untuk yang kesekian kalinya. Dhatu duduk di sofa dan menatap sendu pintu yang terkatup rapat.


Jam pada ponsel sudah menunjukkan pukul satu, namun lelaki itu belum juga kembali. Air mata Dhatu kembali jatuh. Ia tak bisa berhenti berdoa agar lelaki itu kembali ke rumah mereka dengan selamat. Dhatu merebahkan tubuhnya di sofa, hatinya tak tenang dan air matanya terus jatuh, tak bisa dihentikan. Dhatu terus menangis, hingga rasa kantuk menjemputnya.


***


Mentari pagi mengintip melalui celah gorden, menyapa mata Dhatu yang masih terpejam. Dhatu mengerjapkan mata. Pikirannya kembali teringat akan kejadian tadi malam. Ia membuka mata lebar dan tersenyum tipis begitu menyadari dirinya kini sudah berselimut. Padahal, seingatnya tadi malam dirinya menunggu Dirga dan merebahkan badan di sofa tanpa selimut. Apa mungkin Dirga telah kembali?


Dhatu dengan cepat melepas selimutnya, berdiri, dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu rumah pelan-pelan dan tersenyum begitu menemukan mobil Dirga yang telah terparkir di perkarangan depan rumah mereka. Dhatu segera berlari ke kamar mereka dan hatinya dipenuhi kegembiraan begitu mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Membuatnya semakin yakin, jika lelaki itu telah kembali. Dhatu akan kembali memohon maaf pada suaminya itu dan memperbaiki hubungan di antara mereka. Ia harap, amarah lelaki itu sudah mereda dan sudi memaafkannya.

__ADS_1


Dhatu duduk di tepi tempat tidur dengan cemas, menanti lelaki itu selesai membersihkan diri dan menemuinya. Di dalam benaknya, Dhatu memikirkan banyak perkataan yang disusunnya dengan baik untuk memulai percakapan di antara mereka. Seperti mulai menanyakan ke mana lelaki itu pergi tadi malam? Dhatu menggeleng, tak seharusnya ia memulai percakapan mereka dengan awal seperti itu. Pertanyaannya akan menyulut amarah suaminya. Dhatu kembali berpikir keras, menyusun kalimat demi kalimat, namun tak juga menemukan kata yang tepat untuk memperbaiki hubungan mereka.


Apa aku harus menyiapkan sarapan dulu dan menyambutnya dengan makanan, lalu mulai bercerita seperti biasanya?


Pertanyaan itu sempat hadir di benak Dhatu. Ia menggeleng untuk yang kesekian kalinya. Bagaimana jika lelaki itu tak mau menunggu dan langsung pergi begitu saja saat dirinya sibuk di dapur. Dhatu mengacak rambut frustrasi. Ia tak boleh kehilangan kesempatan lainnya. Dhatu harus menunggu Dirga dan menyelesaikan semua permasalahan di antara mereka. Menyimpan masalah dan menumpuknya terus-menerus hanya akan menambah beban masalah, bukan menyelesaikannya.


Tidak lama berselang, suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunan Dhatu. Lelaki itu berdiri di ambang pintu dan menatap Dhatu datar, nyali dan semua kalimat yang telah disusun Dhatu buyar begitu saja. Entah menghilang ke mana saat ia menatap mata lelaki yang menatapnya kosong. Sedetik kemudian, Dirga memalingkan wajah dan melanjutkan langkah kakinya menuju lemari. Dirga memilih pakaian dan menganggap Dhatu tak ada di sana.


Dhatu meringis melihat sikap abai suaminya. Dengan perlahan ia berjalan mendekat dan memeluk suaminya dari belakang. Tubuh Dirga menegang sesaat, ia pun menghentikan gerakan tangan yang tengah memilih pakaian kerjanya. Dirinya sama kacaunya dengan Dhatu, ia tak betah berlama-lama bermusuhan dengan wanita itu, akan tetapi hatinya masih merasa begitu kecewa.


Dirga menarik napas panjang dan menghelanya. Kemarin ia mengendarai mobil tanpa tujuan, lalu memarkirkann mobilnya di taman perumahan mereka. Semalaman ia berpikir, jika semua ini tak sepenuhnya salah Dhatu. Dirinya memang kecewa karna wanita itu takut padanya dan lebih memilih menyembunyikan hal yang sebenarnya. Mungkin, jika dirinya menjadi Dhatu, ia pun akan bungkam dan memilih waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang terjadi. Mungkin niat Dhatu hanya ingin menjaga perasaannya. Sungguh, Dirga tak pernah betah berlama-lama menyimpan amarah pada Dhatu.

__ADS_1


Dirga membalik tubuh, menangkup wajah Dhatu dengan kedua tangannya dan menatap ke dalam manik mata wanita itu. Mata Dhatu telah basah dengan air mata. Dirga mengusapnya lembut, dirinya telah berjanji akan selalu membahagiakan Dhatu, dirinya pun tak mau wanita itu meneteskan air mata, namun apa yang telah diperbuatnya? Dirinya membuat wanitanya bersedih. Apa ia tak pernah berpikir, jika Dhatu pun pernah melewati hal yang sama, saat dirinya yang dulu mati-matian membela Kana dan meminta Dhatu menjadi bayangannya.


"Apa yang dia katakan saat kalian bertemu kembali?"


Dhatu menatap Dirga ragu, lelaki itu tersenyum. Kali ini, ia harap Dhatu akan menceritakan semua yang terjadi. Ia ingin melihat kejujuran wanita itu. Jika memang semua telah berakhir, maka tak ada apa pun yang seharusnya bisa membuat wanita itu takut, bukan? Ia ingin Dhatu tak hanya menganggapnya sebagai suami yang harus dihormati, namun teman di mana wanita itu bisa berbagi semua hal padanya. Belahan jiwa, di mana jiwa mereka telah menyatu.


"Dia bilang kalau dia menyesali semua yang terjadi di antara kami dan dia ingin kami mengulang semuanya kembali."


Jantung Dirga seakan diremas, namun ia lebih menyukai kejujuran walau terasa sakit. Lebih baik menerima semua hal yang menyakitkan, daripada harus tenggelam dalam kesemuan yang dipersembahkan. Semu tak kan bisa bertahan untuk selamanya. Hanya sesaat dan ketika semuanya berakhir, maka rasa sakitnya akan bertahan untuk selamanya. Dirga bisa menebak ada sesuatu dalam diri Alvin untuk Dhatu, Dirga dapat melihatnya dari cara lelaki itu menatap istrinya. Dirga secara mati-matian mencoba mengusir prasangka buruknya, bahkan memarahi dirinya yang terlalu pencemburu. Namun, siapa sangka semua prasangka buruknya beralasan. Memang ada sesuatu di antara Alvin dan istrinya.


"Lalu bagaimana perasaanmu? Apa kamu mau kembali padanya?" pertanyaan yang dilayangkannya itu seakan mampu mengiris sanubari Dirga, "yang kuinginkan adalah bahagiamu dan apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya, Tu," lanjut Dirga sembari tersenyum lirih. Ia mengusap lembut wajah Dhatu, sedang wanita itu tampak terkejut dengan penuturan lelaki di hadapannya.

__ADS_1


"Apa kamu nggak lagi mempercayaiku?"


Keduanya saling berpandangan, mencoba membaca tatapan mata yang penuh arti. Meraba hati dan mencari jawaban yang akan membunuh ataupun membuat hati dipenuhi kedamaian.


__ADS_2