
Hari ini Dhatu disibukkan dengan pekerjaannya dan juga mengisi beberapa formulir sebagai syarat keluar dari perusahaan. Begitupun dengan Dirga yang memiliki banyak janji temu di luar kantor, hingga keduanya tak bisa bertemu, apalagi makan siang bersama. Dirga pun menyarankan Dhatu untuk menikmati masa-masa terakhirnya di perusahaan dengan menghabiskan waktu bersama teman-teman kerjanya.
Di sinilah Dhatu sekarang, bersama dengan Krisna dan juga Rina di restoran Padang yang kerap mereka kunjungi bersama di jam makan siang. Dhatu merasa beruntung mempunyai suami seperti Dirga, yang meskipun agak posesif, ia masih memberi ruang bagi Dhatu untuk berkumpul bersama teman-temannya. Mengerti, jika kehidupan seseorang tak hanya berpusat pada satu titik karna ada kalanya seseorang harus menjelajahi tempat lain, berasama dengan manusia lain agar bisa lebih menikmati hidup. Walau memang ada kalanya, hati tak rela dan ingin selalu bersama, akan tetapi memang manusia membutuhkan berbaur dengan manusia lainnya.
"Kamu mau pesen apa, Tu?" pertanyaan Rina membawa Dhatu kembali ke alam nyata. Wanita itu menoleh pada sahabatnya dan tersenyum tipis, lalu ia menyebutkan menu apa yang dia inginkan. Krisna menyimak pesanan kedua wanita itu, lalu menyebutkannya ulang pada pramusaji yang berdiri di samping meja mereka.
Rina melipat tangan di meja dan menatap Dhatu meneliti. "Kayaknya ada yang mengganggu benakmu, Tu? Apa karna nggak bisa maka siang sama suami tercinta, kamu jadi kelihatan nggak bersemangat gitu?"
Dhatu tertawa kecil dan menggeleng. "Nggak lah, nanti juga kami bisa makan malam di rumah," ucap Dhatu cengengesan, berusaha membuat sahabatnya itu kesal.
Rina menyesal karna telah melayangkan pertanyaan yang membut Dhatu bersikap menyebalkan. "Nyesel aku nanyanya," ucap Rina memutar mata malas, "iya tahu yang udah nikah dan bisa ketemu kapan aja."
Dhatu tergelak. "Makanya geret aja Mas Krisna ke KUA terdekat, biar bisa ketemu juga saat malam hari."
"Tu ... berhenti jodoh-jodohin aku sama Mas Krisna, deh."
"Iya, Tu. Nggak kebayang punya istri barbar kayak Rina. Bisa-bisa, aku dianiaya tiap hari."
Dhatu tergelak melihat keduanya yang kini saling bertatapan kesal. "Kudoain kalian jodoh."
"Beneran ya nih anak. Mentang-mentang udah jadi istri bos, tingkat kesongongannya jadi meningkat banget."
Dhatu lagi-lagi tertawa. Mengerjai keduanya sungguh sangat menyenangkan. "Doa kan harus yang baik-baik. Mas Krisna itu calon suami yang hampir sempurna. Dia baik, ganteng, banyak penggermarnya, nggak pelit, dan tabungannya juga banyak loh."
Krisna tertawa kecil. "Beneran deh Tu. Kamu tuh cocoknya buka biro jodoh. Apa memang itu rencana kamu setelah keluar dari perusahaan?"
__ADS_1
Dhatu terkekeh. "Ide yang bagus. Nanti aku cobain."
Krisna dan Rina tertawa seraya menggeleng-geleng. Dhatu ikut tertawa bersama keduanya, sedetik kemudian tawa Dhatu sirna kala ia melihat punggung yang tampak familiar. Dhatu menajamkan penglihatannya, mencoba meyakinkan dirinya jika sosok itu bukanlah pria yang kemarin bertindak nekad.
"Kamu lihat apaan sih, Tu?"
Pertanyaan Rina membuat Dhatu mengalihkan pandangan padanya, sedang Rina mengikuti arah pandang Dhatu tadi dan tak menemukan sosok siapapun yang dikenalnya di sana. Ia kembali menoleh pada Dhatu yang tersenyum kikuk dan menggeleng.
"Nggak ada apa-apa, kok." Dhatu berusaha mengusir kekhawatirannya dan tak mau membuat kedua sahabatnya ikut cemas karna dirinya.
"Apa lelaki kemarin masih mengganggumu, Tu?" Krisna yang mulai curiga dengan gelagat Dhatu pun segera melayangkan pertanyaan yang mengganggu benaknya.
Dhatu tersenyum sembari menggeleng. "Nggak, kok. Aku udah nggak ketemu sama dia lagi."
"Udah ceritain semuanya sama Pak Dirga? Takutnya, nanti dia salah paham kala Alvin melakukan sesuatu."
Rina berdecak sebal. "Kalau nunggu waktu yang pas. Pasti saatnya nggak akan pernah ada, Tu."
Sungguh, Rina terkadang geram dengan sikap Dhatu. Sangking gemasnya, ingin ia mengigit wanita itu agar segera tersadar. Krisna yang melihat suasana mulai memanas, menggenggam tangan Rina dan tersenyum menenangkan.
"Biarkan Dhatu yang mengurusnya, kalau dia nggak sanggup, dia pasti akan minta bantuan kita, Rin. Jangan memaksanya."
Rina mendengkus kesal. "Mas Krisna sama aja kayak Dhatu. Terlalu baik!"
Krisna tertawa kecil. "Jadi orang baik salah, orang jahat juga salah. Serba salah aku tuh."
__ADS_1
Dalam sekejap amarah Rina menguap bersama udara begitu melihat wajah Krisna yang terlihat begitu polos dan serba salah.
"Udah ... udah ... jangan pada perang. Hari ini, aku usahakan untuk bicarain semuanya ke Mas Dirga," ucap Dhatu menggenggam tangan keduanya, "makasih banyak atas semua perhatian kalian."
Rina menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Aku doakan yang terbaik, Tu. Jangan sampai ada hal yang nggak diinginkan terjadi sama kalian. Aku harap, kamu selalu bahagia," ucap Rina tulus.
Dhatu mengucapakan terima kasih, lalu ketiganya melanjutkan perbincangan. Membahas pekerjaan dan juga banyak hal. Canda tawa, turut menghiasi kebersamaan mereka. Dhatu merasa begitu bahagia dan ia akan merindukan kebersamaan itu. Bersantap siang, membahas pekerjaan, dan tertawa bebas.
Menit demi menit telah berlalu. Jam di ruangan telah menunjuk ke angka lima yang artinya jam kerja mereka telah berakhir. Dhatu dengan semangat dan terburu-buru membereskan barang-barang pribadinya, memasukkannya ke dalam tas tangan. Krisna melirik Dhatu dan menatap wanita itu penuh tanya.
"Tumben on time banget, Tu? Lagi ada kencan sama suami, ya?"
Dhatu mengangguk. "Iya, Mas. Kami udah janjian mau pergi."
"Cieee ... yang mau pergi kencan. Cie ... yang punya suami dan nggak bisa lepas sama sekali." Krisna menggoda, membuat semburat merah jambu menghiasi kedua pipi Dhatu.
"Nggak seperi itu, Mas."
Krisna tertawa. "Kalau pun kencan kan nggak masalah, Tu. Kan sama suami sendiri. Kencan setiap hari katanya baik untuk kesehatan jantung," ucap Krisna yang masih betah menggoda Dhatu.
Dhatu mengerucutkan bibirnya. "Mas Krisna mau balas dendam dengan balik menggodaku, ya?"
Krisna terbahak. "Lah ... balas dendam apanya? Aku bukan pendendam loh, Tu. Lagian nggak ada yang harus dibalaskan."
Dhatu segera berdiri dan mengenakan kembali tas tangannya, lalu ia menoleh ke arah Krisna. "Aku pergi dulu ya, Mas," ucapnya seraya pergi.
__ADS_1
Krisna tergelak dan melambaikan tangannya pada Dhatu. Ia menatap punggung wanita itu yang telah menjauh dan seulas senyum terukir di wajahnya. Ia bahagia karna hubungan mereka telah membaik. Tak ada lagi kecanggungan karna rasa yang tak berbalas. Krisna tak pernah menyesal karna jatuh cinta pada Dhatu dan telah mengungkapkan semua isi hatinya. Setidaknya tak ada lagi sesal karna rasa yang tak terungkap. Lebih baik mengutarakan rasa yang ada, daripada menyimpannya seorang diri. Apa pun hasil yang kita terima nanti, yang penting adalah dia mengerti akan rasa kita.