Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Ada Yang Ingin Kukatakan


__ADS_3

film yang mereka tonton telah berakhir, ketiganya keluar dari bioskop dengan wajah ceria, masih sibuk membicarakan film yang baru saja selesai mereka tonton. Rina mencolek lengan Dhatu, membuat wanita itu menoleh padanya. Rina menggerakkan dagu ke hadapan, memberi kode agar Dhatu mengikuti arah dagunya. Dhatu menurut dan tersenyum begitu melihat Dirga yang berdiri di dekat mesin cetak tiket. Lelaki itu tersenyum saat pandangan mereka bertemu. Dhatu berlari pelan, namun Dirga segera berteriak 'jangan lari, Sayang' yang membuat Dhatu kembali menghentikan langkah. Banya mata menatap ke arah mereka karna teriakan Dirga, namun keduanya tak peduli. Dirga kinu berlari pelan dan Dhatu segera berhambur ke dalam pelukan lelaki itu.


"Kangen," rengek Dhatu bagai seorang anak kecil. Dirga terkekeh pelan dan mengusap puncak kepala Dhatu.


"Aku juga kangen banget sama kamu, Sayang," ucap Dirga seraya mengecup puncak kepala istrinya, "kamu jangan lari-lari, Sayang. Nanti kalau kamu jatuh. Gimana?" lanjut Dirga menatap wanita itu khawatir.


"Aku seneng banget lihat kamu, Mas. Aku pikir, kamu belum datang karna belum ngabarin sama sekali."


Dirga tersenyum. "Aku nggak bisa nunda sedetik lebih lama untuk bertemu denganmu, Tu." lelaki itu mengeratkan pelukannya.


Krisna dan Rina yang kini berdiri di dekat keduanya menggeleng-geleng kepala menatap kemesraan keduanya. Berpisah dalam hitungan saja, bisa membuat mereka begitu kehilangan, bagai berpisah bertahun-tahun. Mungkin memang begitu rindu yang dirasakan oleh orang-orang yang dimabuk cinta. Tak peduli tentang anggapan orang-orang asal mereka bahagia.


"Beneran ya ... kalau jatuh cinta itu, dunia brasa milik berdua," cibir Rina seraya melirik ke arah Dhatu. Dhatu dan Dirga tertawa secara bersamaan, Dhatu melepaskan diri dari pelukan Dirga, tak ingin membuat Rina semakin merasa risih dengan kebersamaan mereka berdua. Sesungguhnya, mereka bukan ingin pamer kemesraan. Mungkin memang benar apa kata orang itu, saat jatuh cinta, kita tak dapat merasakan orang lain di sekitar. Bagai dunia milik berdua.


"Nanti kamu juga akan merasakanya," ucap Dirga berusaha membela istrinya yang entah mengapa hari ini seakan tak ingin lepas darinya.


"Ya ... ya ... tapi kayaknya nggak bakalan senorak Pak Dirga dan Dhatu."


Rina menutup mulutnya cepat-cepat, hampir melupakan fakta jika lelaki yang berada di hadapannya afalah seorang CEO yang harusnya ia hormati sepenuh hati. Kebersamaan keduanya dan Dirga yang mulai santai saat mereka bersama membuat Rina mulai membaur, tak lagi merasa jauh.


"Duh ... maaf Pak, keceplosan. Jangan dipecat ya," ucap Rina tersenyum kikuk.

__ADS_1


Ketiga orang yang bersama mereka terbahak secara bersamaan menyaksikan kepolosan Rina. Dhatu menggeleng-geleng. Mana mungkin suaminya memecat seseorang karna hal yang tak masuk akal. Lagipula, seorang CEO adalah manusia, tak perlu dianggap terlalu maha tinggu, hingga harus ditakuti. Itulah yang ditanamkan Dirga pada pikiran Dhatu. Dirga yang tampak serius saat bekerja, namun santai dan tak menjaga jarak pada siapa pun, bahkan dengan seorang OB sekalipun, membuat Dhatu merasa jika Dirga tak seperti kebanyakan orang kaya yang sombong dan kerap merasa paling hebat. Dirga itu berbeda.


"Gimana kala u di SP 3 aja?"


"Ampun Pak..." Rina meringis, mereka semua tertawa.


Mereka bercakap-cakap sebentar, menceritakan apa kegiata mereka selama tidak adanya Dirga di sana. Ketiganya serempak menceritakan yang baik-baik dan memotong cerita tentang Alvin yang datang dan memaksa Dhatu menerima perasaannya. Dirga mengucapkan terima kasih pada Krisna dan Kana yang telah menjaga istrinya, lalu mereka semua berpisah. Sepanjang perjalanan kembali ke temoay parkir, Dirga menggenggam erat tangan Dhatu.


"Kamu seneng?"


Dhatu mengangguk. "Banget," ucapnya tersenyum lebar, "gimana meetingmu, Mas? Apa semuanya berjalan lancar?" lanjut Dhatu menoleh pada Dirga.


Dirga mengangguk. "Lancar banget." Dirga teringat sesuatu, "besok sepulang kerja kita akan bertemu seseorang. Mama mau ngadain arisan dan dia butuh kathering dan aku merekomendasikan Pak Alvin yang kemarin mengisi makanan di acara kantor kita. Gimana menurutmu?"


Dirga mengangguk antusias. "Gimana menurutmu, Sayang. Makanannya enak, kan? Kualitas bahannya juga seger-seger, terlihat dari hasil masakannya. Banyak yang rekomendasiin dia," ucap Dirga dengan antusias. Ada rasa takut yang menyelinap memasuki relung hati Dhatu.


Sejujurnya, ia tak mau lagi berurusan dengan Alvin. Bagaimana bisa suaminya malah ingin menggunakan jasa lelaki itu kembali? Ingin rasanya, ia menolak, namun tak mampu memikirkan alasan yang cukup masuk akal. Alasan apa yang harus digunakannya? Masakan yang tidak enak? Tidak mungkin, karna memang masakan kathering lelaki itu lezat. Tak banyak ragam masakan? Tidak mungkin juga, karna banyak berbagai pilihan yang tersedia. Lama Dhatu berpikir dan ia masih tak mampu menemukan jawaban yang pantas.


"Kenapa kamu diem aja, Sayang? Kamu nggak suka sama rasa masakannya? Ada yang kurang?"


Dhatu tersenyum dan menggeleng lemah. Ia tak mampu menemukan alasan yang bisa digunakannya untuk menolak. Pada akhirnya, Dhatu tersenyum dan mengangguk sekilas.

__ADS_1


"Ya, kita pakai saja khatering Pak Alvin. Makanannya nggak mengecewakan dan pastinya Mama akan suka dengan rasa masakannya. Untuk acara arisan juga cocok karna banyak pilihan masakan."


Dirga tersenyum. "Aku tahu kalau kamu pasti akan menyukai masakannya." Dirga megeratkan genggaman tangannya, "besok sore, temani aku ke sana ya, Sayang? Mama memintaku mengurus semuanya karna dia akan sibuk menyiapkan hal lainnya. Untuk pilihan masakannya, dia mempercayakannya padamu, jadi kamu pilih aja menu mana yang sesuai untuk acara arisan."


Dhatu tersenyum dan mengangguk pelan. Rasanya berat sekali untuk bertemu kembali dengan Alvin, namun lidah Dhatu seakan kelu dan ia tak mampu mengatakan hubungan di antara mereka. Ia tak tahu bagaimana caranya memulai percakapan bahwa ia tak ingin berurusan dengan Alvin lagi. Dhatu tahu ini salah, akan tetapi apa yang harus ia lakukan? Dirinya tak berusaha menyembunyikan apa pun, akan tetapi ada rasa tak enak yang menjalar ke penjuru hatinya.


Dirga membukakan pintu untuk Dhatu begitu mereka sudah tiba di mobil Dirga. Keduanya bertukar senyum dan Dhatu mengucapkan terima kasih. Dirga yang sudah duduk di bangku kemudi membantu wanita itu mengenakan seatbelt seperti biasa, akan tetapi hati Dhatu mendadak jadi tidak enak. Salahkan bila dirinya tak menceritakan apa pun tentang Alvin? Bukankah dulu Dirga juga tak menceritakan siapa Kana, melainkan dirinya yang mengetahuinya sendiri? Akan tetapi, mengapa kali ini rasanya berbeda? Dia merasa salah menyembunyikan hal ini dari Dirga. Mungkin apa yang Krisna dan Rina sampaikan betul adanya. Dirga harus tahu siapa Alvin, bagaimana hubungan mereka, dan apa yang telah lelaki itu lakukan padanya.


"Mas ..."


"Ya, Sayang," ucap Dirga menoleh sekilas dan memamerkan wajah bahagianya, membuat lidah Dhatu kembali kelu. Ia tak ingin merusak suasana, lelaki itu pasti akan marah. Dhatu tersenyum dan menggeleng pelan.


"Nggak pa-pa, Mas."


Dirga tertawa dan mengacak puncak kepala Dhatu. "Kamu aneh banget hari ini."


Dhatu mengerucutkan bibir. "Perasaanmu aja, Mas."


"Tu ..."


Dhatu menoleh. "Ya?"

__ADS_1


Senyum lelaki itu mengembang. "Aku mencintaimu," ucap Dirga lembut.


Senyum Dirga menular padanya. "Aku juga mencintaimu, Mas."


__ADS_2