
Di dunia ini ada beberapa jenis kebaikan, yang paling sulit dilakukan adalah pengorbanan dan juga ikhlas. Tak ada seorang manusia yang sempurna, namun ada yang menjaga ucapan dan selalu berkata baik walau dirinya belum sepenuhnya sempurna. Dhatu percaya, perkataan adalah doa, oleh karna itu ia selalu berusaha agar kata yang terucap dari mulutnya tak 'kan menyakiti orang lain.
Melihat senyum dan tatapan Kana yang kembali bercahaya, membuat Dhatu tersenyum. Ia yakin, jika ucapannya bisa menyentuh wanita itu. Kana kembali menemukan mimpi dan juga tujuan hidup, itulah yang terpenting saat ini.
"Semoga kamu menemukan bahagiamu, Kana," ucap Dhatu pada akhirnya.
"Aku harap, kalian juga selalu bahagia."
Kecanggungan memang masih terasa di antara mereka, namun tak separah dulu. Kini Dhatu bisa berbicara santai dengan Kana. Membicarakan janin yang wanita itu kandung dan rencana-rencana kecil lainnya. Dirga lebih banyak mengamati daripada ikut tenggelam dalam obrolan keduanya. Dalam hati kecilnya, Dirga masih tak percaya jika Kana berubah. Wanita itu hanya memasang topeng untuk menutupi semua kebusukannya dan Dirga yakin itu. Selama mengenal Kana, tak sekalipun dirinya pernah melihat kebaikan dalam diri Kana.
Waktu berlalu cepat. Kini Dhatu dan Dirga sudah kembali ke rumah utama. Keduanya langsung menuju kamar. Dhatu yang tengah berdiri dan menyisir rambutnya di depan cermin terkejut begitu merasakan pelukan Dirga, namun hanya sesaat, keterkejutannya berubah menjadi senyum begitu pandangan keduanya bertemu.
Dirga mengecup, lalu menyelipkan wajahnya pada leher Dhatu, menikmati aroma tubuh wanita itu dalam-dalam. Bulu kuduk Dhatu berdiri karna aksi pria itu.
"Udah cukup kita ngurusin orang, mending sekarang kita kangen-kangenan," bisik Dirga tepat di telinga Dhatu, senyum terukir pada wajah cantik Dhatu.
Dirga mengusap lengan Dhatu yang tak tertutup kain, lalu menghadiahi leher wanita itu dengan kecupan-kecupan kecil yang berlanjut hingga ke pundak Dhatu, berlanjut ke punggungnya. Tubuh Dhatu bergetar hebat, gejolak hasratnya memberontak dan memberikan sensasi panas pada tubuhnya. Ya, mungkin belakangan ini mereka terlalu sibuk memikirkan orang lain, hingga kehilangan banyak moment kebersamaan. Siapa sangka berdekatan dan selalu bertemu dapat membuat sepasang anak manusia masih merasakan rindu yang menggebu.
Dirga membalik tubuh wanita itu, menatapnya dalam, lalu bibir keduanya saling bertemu, mengecap dan membakar hasrat yang sudah lama tidak dibangkitkan. Entah siapa yang memulai menelanjangi, hingga keduanya sama-sama polos. Dirga sudah mengambil tempat di atas Dhatu, membisikkan kata cinta yang memacu kencang jantungnya, menghantarkan kehangatan yang tak hanya dirasakannya pada tubuh, namun turut menjalar ke dalam hatinya.
Keduanya bermadu kasih, menyalurkan semua cinta yang begitu bergelora dan menuju puncak kenikmatan bersama. Malam itu, bagai malam-malam panas lainnya yang kerap mereka lewati. Dirga membawa Dhatu ke dalam dekapannya, begitu permainan menguras tenaga itu usai dengan akhir di mana Dirga meneriakan namanya, sedang Dhatu menancapkan kuku-kukunya, menekan punggung Dirga yang polos karna sensasi nikmat yang membuatnya merasa terbang hingga langit ke tujuh.
***
__ADS_1
Fajar menyingsing, keduanya masih betah berpelukan, andai saja mereka tak mengingat tanggungjawab yang tengah mereka pikul, maka tak ada seorang pun dari mereka yang mau beranjak bangkit untuk membersihkan diri dan kembali mengulang rutinitas mereka. Masih diberi kesempatan untuk bertemu mentari pagi dan melakukan kegiatan monoton yang mungkin terkadang membuat seseorang bosan adalah anugerah terindah dari Tuhan. Teruslah bersyukur atas napas yang masih berembus dan udara yang dihirup demi mengisi paru-paru, membuat kita tetap hidup dan memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupan kita.
Dhatu yang terlebih dahulu membersihkan diri tersenyum melihat Dirga yang masih tampak enggan berpisah dari tempat tidurnya. Dhatu duduk di tepi tempat tidur dan mengusap lembut puncak kepala lelaki itu.
"Mandi, Mas. Nanti kesiangan," ucap Dhatu masih dengan mengusap puncak kepala lelaki itu. Dirga tersenyum dan menarik tangan Dhatu yang tengah mengusap rambutnya, lalu menggenggamnya erat. Pandangan keduanya terkunci.
"Gimana kalau kita bolos kerja dan seharian di ranjang? Aku rasa ada yang aneh dengan ukuran tempat tidur kita dan akan baik jika kita mengukurnya bersama dengan tubuh kita," ucap Dirga sembari tersenyum menggoda, "gimana menurutmu, Sayang?"
Dhatu tergelak. "Aku mau cari meteran dulu, biar kamu gampang dan bisa lebih cepat ngukurnya, Mas."
Dirga mengerucutkan bibir, pura-pura merajuk akan ide istrinya yang jauh dari kata romantis itu. "Kamu beneran nggak romantis, Sayang."
Dhatu tertawa kecil. "Apa urusannya romantis dengan ngukur tempat tidur?" tawa masih menghiasi wajah Dhatu, tawa yang membuat senyum terukir di wajah Dirga, "cepetan mandi, Mas! Jangan main-main lagi."
Dhatu terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, sedetik kemudian Dhatu memasang wajah takut, "aku takut sama ancamanmu, Mas."
Keduanya berbagi tawa. Dhatu segera meninggalkan kamar setelah menyiapkan pakaian suaminya di atas ranjang mereka. Begitulah kegiatan yang membuatnya bahagia. Memulai hari dengan menatap wajah tampan lelaki itu dan menyiapkan segala keperluannya. Dhatu menikmati perannya sebagai seorang istri dan ingin selamanya menyandang status sebagai istri Dirga.
Pagi mereka terasa seperti biasanya, berdua berbagi cerita dan juga tawa. Sejenak mereka berusaha melupakan kehadiran Kana dan berusaha mejalani kembali kehidupan normal yang selama ini keduanya jalani. Pagi yang indah dan juga romantis, hanya ada Dirga dan juga Dhatu. Menyantap sarapan, menyiapkan makan siang, lalu bersama-sama berangkat kerja.
"Kamu akan menungguku lagi seperti biasa?" tanya Dirga di sela kegiatan santap makan pagi mereka. Dhatu menggeleng.
"Boleh aku pulang duluan?"
__ADS_1
Dirga menautkan kedua alis dan menatap Dhatu penuh tanya. "Kenapa?"
"Hanya mau memastikan Kana mendapatkan semua yang dia perlukan."
Dirga mendesah resah. "Kan ada Bi Ina yang akan mengurus semua keperluannya, Sayang."
Dhatu mengigit bibir bagian bawah. "Aku hanya mau dia merasa nyaman."
Baru saja mereka menjalani hari yang biasanya mereka jalani dengan penuh kedamaian, wanita malah merusak suasana dengan mengingatkannya jika ada Kana yang mengacaukan kehidupan damai mereka.
"Kamu pulang bersamaku. Titik!"
Dirga segera berdiri, Dhatu cepat-cepat ikut berdiri dan mengekor di belakang lelaki itu. Ia menunduk lesu, merasa bersalah karna merusak suasana baik di antara mereka. Memang dirinya terlalu bodoh, mata Dhatu berkaca-kaca, entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu perasa dan suasana hatinya cepat berubah-ubah. Mungkin memang benar, mereka terlalu banyak memikirkan tentang orang lain. Hingga tak lagi bisa merasakan kebahagiaan saat bersama.
Dirga menghentikan langkah, begitu juga dengan Dhatu. Dhatu menengadah dan mengigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat, mencegah air mata yang memberontak untuk dikeluarkan. Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, lalu ia membawa wanitanya ke dalam pelukan.
"Maafin aku ya, Sayang. Aku cuma mau kita punya waktu untuk berdua."
Dhatu tersenyum di dalam pelukan Dirga. Ia pun merasakan hal yang sama.
"Maafin aku juga ya, Mas."
Keduanya saling berpelukan erat. Pelukan yang mampu membuat hati mereka dipenuhi dengan kenyamanan dan juga kehangatan yang membelenggu hati. Semuanya sempurna.
__ADS_1