Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan
Kamu Yang Mengacaukan


__ADS_3

Dhatu segera turun dari mobil Dirga saat lelaki itu berhenti di tempat yang telah mereka sepakati. Dengan berlari kecil Dhatu menuju kantor, sementara Dirga masih menatapnya dari kejauhan. Wanita itu memang tak bisa ditebak. Harusnya, Dhatu turut bersikap dingin dan tak memperdulikannya agar Dirga tak merasa bersalah karna telah memperlakukan wanita itu dengan buruk. Dirga kembali menyalakan mobil begitu punggung Dhatu menghilang dari pandangannya.


Menit demi menit telah berlalu. Dhatu berhasil tiba di kantor tepat waktu. Ia segera menuju meja kerja dan memulai hari dengan hati gembira. Krisna yang duduk di samping Dhatu pun dibuat heran dengan sikap Dhatu yang kelewat ramah dan terkadang tersenyum sendiri. Terkadang wanita itu menatap ponsel, menghela napas gusar, lalu terlihat begitu serba salah. Aneh.


"Lagi kasmaran?" tanya Krisna setelah mengakhiri panggilan masuk.


Dhatu menautkan alisnya, menatap lelaki itu penuh tanya. "Aku? kasmaran?"


Krisna mengangguk sembari tersenyum menggoda. "Kelihatan banget bahagianya."


Telpon masuk menginterupsi pembicaraan mereka, Dhatu menggerak-gerakkan tangan di udara, memberi tanda jika mereka harus mengakhiri pembicaraan itu. Krisna mengangguk mengerti.


"Nanti makan siang bareng dan ceritakan semuanya," ucap Krisna yang dijawab anggukan oleh Dhatu.


Keduanya kembali bekerja, sesekali Krisna melirik ke arah Dhatu, ada perasaan tak tenang yang menyiksa bathinnya saat melihat kebahagiaan yang Dhatu tunjukkan. Ia tak mampu mencegah perasaan tak rela yang mulai mengusik hati. Krisna meraba dadanya, lalu kembali melirik Dhatu. Rasa apakah ini? Pertanyaan itu, kini memenuhi benaknya.


Jam yang dinantikan setiap orang telah tiba, waktu istirahat dan juga pulang bukan hanya saat-saat yang dinantikan oleh anak sekolah, melainkan para pekerja juga. Krisna memberi kode pada Dhatu yang masih menerima panggilan masuk jika dirinya akan menunggu di lift. Dhatu mengangguk setuju.


Di divisi Dhatu memang diisi dengan banyak orang, namun Dhatu seakan dimusuhi oleh sebagian rekan kerjanya yang kebanyakkan perempuan. Salahkan saja Krisna yang selalu bersikap baik padanya, hingga tak ada yang mau berteman dengannya. Hanya berbicara seperlunya dan membahas pekerjaan, selebihnya Dhatu tak dianggap. Dhatu tak perduli walau rasa tidak nyaman kerap menganggunya. Ia akan bertahan, karna dirinya masih membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup.


Dhatu segera membawa dompet dan ponsel saat selesai berbicara di telpon. Sekilas ia mendengar cibiran teman seruangannya.


"Dasar kegatelan. Lengket mulu sama Mas Krisna."

__ADS_1


Perkataan itu sengaja mereka ucapkan sedikit keras agar Dhatu mendengarnya, namun bukannya sakit hati, Dhatu malah menoleh ke arah Sinta dan Silvy yang menatapnya sinis, lalu tersenyum manis pada keduanya.


"Aku istirahat dulu sama Mas Krisna ya." Dhatu segera beranjak pergi saat melihat wajah penuh amarah yang keduanya tunjukkan.


Dhatu tak peduli. Toh, dirinya dan Krisna sudah bagai adik kakak. Biarlah orang menilai apa. Toh, mereka berdua yang menjalaninya. Lagipula, Dhatu tak akan mungkin jatuh cinta pada pria yang tak seharusnya karna dirinya kini telah menikah.


Tak ada cinta dalam pernikahan bukan berarti bisa menjadi alasan untuk mengkhianati janji yang telah terucap di hadapan Tuhan. Pernikahan adalah ikatan suci yang tak berani Dhatu permainkan. Walau memang hidupnya bagai permainan, namun dirinya menjunjung tinggi pernikahan di antara mereka. Tak mengapa bila tak diinginkan, tak masalah bila dipaksa terus menjauh. Yang terpenting adalah menghormati dan menjaga janji yang telah dibuat.


"Maaf, Mas. Tadi konsumennya ribet banget jadi buat Mas nunggu lama," ucap Dhatu begitu berdiri di samping Krisna.


Lelaki itu menggeleng. "Nggak pa-pa, Tu. Aku juga ngerti, kok." pintu lift terbuka sesaat setelah Krisna mengatakan ketidakberatannya untuk menunggu Dhatu. Krisna menahan pintu lift dan membiarkan Dhatu masuk terlebih dahulu.


"Mau makan apa, Tu?"


"Selamat siang, Pak Dirga," sapa Krisna, memutus pandangan tajam yang Dirga berikan pada Dhatu.


"Siang," ucap Dirga singkat sembari masuk ke dalam lift. Dhatu menggeser tubuhnya ke samping Krisna, menjaga jaraknya dari lelaki yang tak ingin melihat keberadaannya. Ia menunduk, takut-takut lelaki itu akan bertindak aneh walau ada Krisna di antara mereka. Ia tak mau ada yang salah paham. Sikap Dirga terlalu sulit untuk diterka, oleh karna itu Dhatu selalu merasa was-was.


"Jadi, mau makan di mana, Tu?" Krisna mengulang pertanyaannya, sedang Dirga menoleh ke arah lelaki itu dan menatapnya tak suka.


"Nasi padang yang di seberang aja, Mas." Dhatu tersenyum pada Krisna, ia berusaha terlihat setenang mungkin walau hatinya sangat kacau karna tatapan Dirga padanya.


Krisna merasa CEO baru perusahaan mereka itu sedikit aneh. Tanpa alasan terus memperhatikan Dathu. Krisna segera berdiri di antara Dhatu dan Dirga, melindungi Dhatu dari tatapan CEO mereka yang Krisna tau telah membuat wanita itu tak nyaman. Krisna dapat melihatnya dari sikap Dhatu yang meremas-remas jemari, menandakan wanita itu tengah gugup saat ini.

__ADS_1


"Namamu Dhatu, bagian call center, 'kan?"


Pertanyaan Dirga membuat Krisna menatap Dhatu penuh tanya, namun wanita itu mengendikkan kedua bahu, tak tau maksud Dirga menanyakannya. Krisna menggeser tubuhnya kembali.


"Ya, Pak."


"Setelah makan siang, kamu bawakan data komplain tiga bulan terakhir ke ruangan saya!"


Dhatu mengerutkan kening. "Tapi, biasanya data seperti itu disiapkan oleh Bu Mira."


"Suruh dia siapkan dan kamu bawa ke ruangan saya. Saya perlu menganalisa data tersebut untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan yang menggunakan produk kita."


Pintu lift terbuka, Dirga mematung, lalu kembali berkata. "Tepat jam satu siang kamu harus udah ada di ruangan saya. Katakan pada atasanmu untuk menyiapkan datanya. Saya nggak suka orang terlambat!" ucap lelaki itu tanpa menoleh, Dirga segera pergi keluar dari lift.


Dhatu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Sungguh, Dirga itu bagai udara yang terus berubah, tak menentu. Terkadang sejuk, namun ada kalanya terik menyengat.


"Tu ... kayaknya kamu harus kembali ke atas," ucap Krisna membuyarkan lamunan Dhatu.


Dhatu mengangguk. "Aku bilang ke Mba Mira buat narik datanya dulu, Mas. Kayaknya, aku nggak bisa istirahat, jadi Mas pergi aja sendiri."


"Aku bungkusin makan ya, Tu. Ayam panggang paha dan kuah banjir, 'kan?"


Dhatu mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Krisna segera keluar dari lift, meninggalkan Dhatu yang kembali menutup pintu lift. Dhatu tak habis pikir, mengapa Dirga selalu tak puas menyiksanya. Sudah cukup tersiksa di rumah, mengapa lelaki itu harus menggunakan kekuasaannya untuk menyulitkan Dhatu? Jelas-jelas lelaki itu ingin agar dirinya tak terlihat, akan tetapi lelaki itu pula yang kerap menganggapnya ada dan menyulitkan hari-harinya yang sudah cukup kacau. Kini, jam makan siangnya pun harus ia korbankan.

__ADS_1


Ternyata, memang tak mungkin seseorang bisa berubah dengan cepat. Dirga yang tadi pagi berangkat kerja bersamanya bagai dua orang yang berbeda dengan sosok yang barusan saja ditemuinya.


__ADS_2