
Terlihat ibu Ana berada di tengah pintu menghalangi jalan masuk Ana dan sangat marah pada Ana. Namun Ana tidak menghiraukan panggilan ibunya dia berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaaan ibunya. Karena merasa di abaikan Ana, ibunya terus membuntuti Ana dr belakang sambil terus memberikan pertanyaan seputar orang yang mengantarkan nya tadi.
Sesampainya di kamar, Ana langsung mengunci kamar nya dan memutar musik keras keras agar tidak mendengar suara ibunya yang marah marah meminta Ana untuk menjelaskan semua tentang kenapa dia pulang terlambat di antar seorang pria.
Di dalam kamar Ana menjerit sekuat tenaga dan menangis Sambil menyandarkan kepalanya di dinding
" Ya Tuhan kenapa aku begitu bodoh melakukan semua kesalahan itu demi seorang cowok yang bernama Evan. cowok yang telah menghancurkan hidup ku cowok yang tidak bertanggung jawab, orang yang meninggalkan ku di saat aku paling membutuhkan nya. Evan..... kenapa kau lakukan ini padaku... hiks...hiks " sambil terus memukul perutnya yang sudah mulai buncit. Terlalu lelah menangis Ana tertidur di lantai.
Ke esokan harinya... sekitar pukul 6:30 Ana belum juga keluar dari kamar untuk sarapan dan berangkat sekolah. Ibunya mencoba membangunkannya tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar. Ibunya mulai panik dan meminta Ayahnya untuk mendobrak pintu kamar Ana. Setelah di dobrak terlihat Ana terbaring di lantai. Nenek yang melihat kondisi Ana tak sadarkan diri, panik dan menyuruh Astri membawa nya ke rumah sakit. Astri dan Ridwan segera melarikan Ana ke rumah sakit tempat dokter ilham praktek karena hanya dokter ilham yang mengetahui rahasia mereka jadi mereka tidak berani membawa Ana ke rumah sakit lain.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit Ana langsung masuk UGD. Ibu serta Ayahnya menunggu di luar dengan cemas. Terlihat dokter ilham dari kejauhan berlari kecil menuju ke ruang UGD di temani suster dari belakang. Membuat ibu dan Ayah Ana semakin cemas. Mereka hanya bisa berdoa memohon keselamatan Ana pada Allah...
1 jam kemudian dokter ilham keluar dari ruangan UGD dan mendatangi orang Tua Ana sambil bernafas panjang.
" Bagaimana kondisi Ana dokter? " terlihat jelas kecemasan di wajah kedua orang tua Ana
" Ana dan bayinya tidak baik baik saja Bu " wajah dokter ilham mengisyaratkan bahwa memang kondisi Ana tidak baik baik saja.
" jika memang itu yang terbaik buat Ana lakukan apapun itu dokter. kami juga sudah mengikhlaskan jika memang bayi itu tidak dapat bertahan lagi " jawab ayah Ana yakin dengan perkataan nya.
__ADS_1
" kami akan berusaha melakukan yang terbaik buat Ana " kembali ke ruang UGD lagi.
Di dalam ruangan UGD Ana sudah sadar dan menangis sambil mengelus elus perut nya
" Dokter tolong selamatkan bayiku, jangan kau ambil dia dokter... Aku mohon. Suster sudah menceritakan semuanya padaku. " memegang tangan dokter ilham dan memohon
" Maaf Ana, bayimu tidak berkembang dan untuk harapan hidup nya mungkin sudah tidak ada lagi. " menepuk pundak Ana mencoba menguatkannya.
Dengan susah payah Ana berdiri di depan dokter ilham melepaskan Infus yang masih menempel di tangannya dengan paksa dan berbicara pada dokter ilham
__ADS_1
" ingat dokter... kau bukan tuhan yang bisa menentukan nasib anakku. Aku yakin anakku akan hidup. Aku akan berjuang untuknya. Terimakasih kasih untuk semuanya " berlalu meninggalkan dokter ilham meskipun dengan tubuh yang lemah Ana mencoba menguatkan dirinya berjalan menuju ke pintu.