
" N pengen punya papa seperti om dokter. Dia sangat baik... teman teman N kira om dokter adalah papa N. bolehkah N panggil om dokter papa? "
" Boleh dong sayang... Om dokter juga senang punya anak seperti N. udah pinter,nurut sama Mumu, manis dan gemesin pula "
" Om...dokter..." Berlari memeluk Ilham
" Iya sayang... katanya mau panggil papa ? kenapa sekarang panggil om dokter? "
" Boleh N panggil om dokter papa? "
" Boleh... coba papa pengen denger "
" Pa pa ... Yee... tapi permainan nya kan udah selesai om... "
" Kalau kita lanjut lagi gimana? N setuju? "
" setuju... "
" TOS dulu sama papa... sana main ... papa belikan mainan baru untuk N "
__ADS_1
" Asyik... mainan baru. "
" Bang... "
" Sudah lah Ana, biarkan saja. Aku tidak keberatan di panggil papa oleh N. Apalagi jika itu menjadi kenyataan. "
" Bang... aku belum siap untuk membuka hatiku untuk siapa pun. "
" Aku tahu... kamu sangat kecewa dengan
lelaki itu. Aku penasaran seperti apa sih dia... sehingga membuat mu tidak bisa melupakan nya. Sudah hampir 7 tahun dia meninggalkan mu. "
" Dulu aku memang sangat mencintainya, tapi sekarang... rasa itu seperti nya sudah mati untuknya bang. Aku akan melupakan nya dan aku yakin aku bisa. "
" Bang... maafkan aku. "
" jangan pernah minta maaf Ana, karena kau tidak salah... Cinta memang tidak bisa di paksakan. "
" Aku akan berusaha bang. Membuka hatiku untukmu. kembali mencintai seseorang dan bahagia. "
__ADS_1
" Benarkah Ana? " memegang pundak Ana
" Aku berharap aku bisa bang... "
" Terimakasih Ana... aku janji aku akan membahagiakan mu dan juga N "
Saat perjalanan pulang Ilham tersenyum sendiri di dalam mobil mengingat perkataan Ana bahwa dia mau mencoba membuka hatinya untuk Ilham. Hampir 7 tahun dia menunggu akhirnya penantian nya tidak sia sia.
" Selamat tinggal kak Evan... mungkin kita tidak di takdir kan berjodoh di dunia ini. Selamat menempuh hidup barumu. aku akan selalu berdoa semoga kau bahagia bersama istrimu. Biarlah N bersama ku tak perlu kau tahu siapa dia bagimu. " Ana membakar seluruh foto serta kenangannya bersama Evan. Dia ingin mengubur dalam dalam perasaan itu dan mulai belajar mencintai Ilham
Tiga bulan berlalu Ana menjalani kehidupan nya yang baru bersama Ilham. Dengan menyandang status sebagai kekasih Ilham, Mereka sangat kompak merawat N. Ilham lebih sering meluangkan waktu bersama Ana dan N. Ridwan pun sangat setuju dengan keputusan Ana untuk mencoba menjalin hubungan dengan Ilham. Ana merasa bahagia bersama Ilham, Namun dia merasa ada yang kurang dalam kebahagiaan nya itu. Entah apa itu yang mengganggu pikirannya ... dia sendiri tidak tahu.
" Apa yang begitu menggangu mu nak, sehingga kebahagiaan mu terlihat semu...? "
" Entahlah ayah... Aku bahagia... aku ingin mengatakan kepada dunia bahwa aku sangat bahagia... Ilham memberikan semuanya kepadaku tapi aku merasa masih ada yang kurang ayah. ada yang membelenggu ku sehingga aku belum bisa bebas menikmati kebahagiaan ini . "
" Apa kau masih mengharapkan laki laki itu? "
" Sama sekali tidak ayah... aku sudah tidak lagi mengharapkan nya. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi padaku. "
__ADS_1
" Buang semua amarahmu, rasa kecewamu dan juga kesedihan mu dari laki laki itu agar kamu bisa menikmati kebahagiaan mu bersama Ilham. jika kau masih menyimpan semua amarah,kecewa serta kesedihan mu. kau tidak akan bisa benar benar bahagia bersama Ilham dan itu akan menyakiti hati Ilham. lepaskan...bebaskan dirimu dari luka lama jika kau ingin bahagia. sudah malam... tidurlah. tidak baik buat kesehatan mu jika kau tidur terlalu malam "
" Baik ayah... "