
"Mas...Mama--
Sean membawa Anaya ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanitanya yang telah terisak.
"Tapi mertua saya bisa sembuhkan dok?",tanya Sean yang mengusap punggung Anaya dengan lembut.
"Ya...tapi kita menunggu pasien sadar lebih dahulu baru kita observasi ulang",jawab dokter muda itu.
"Terima kasih dok",jawab Sean.
Pria itu menangkup kedua pipi Anaya dan mengusap sisa air mata di pipi sang istri dengan ibu jarinya."Yakinlah Mama kamu pasti baik baik saja,kamu harus banyak berdoa agar Mama segera sadar",ujar Sean lalu mencium kening istirinya lembut.
Anaya mengangguk pelan lalu kembali memeluk sang suami dan menumpahkan tangisannya di dada bidang Sean.
"Sean..."
"Ma...mana Arka?",tanya Sean saat melihat kedua orangtuanya datang.
"Arka sama Seena,Sean dan sebelum Mama pergi kesini Arka baru saja tidur setelah meminum susu yang diletakkan Anaya dikulkas",jawab Nyonya Anita.
"Bagaimana ini bisa terjadi Sean?",tanya Papa Ferdian.
Sean menceritakan kejadian itu tanpa ada yang tertinggal.Papa Ferdian begitu terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Lalu dimana pelakunya saat ini?",tanya Papa Ferdian pada Sean.
"Di markas Pa",jawab Sean yang masih memeluk Anaya.
"Ikut Papa sebentar Sean",ujar Papa Ferdian.
"Sayang...aku mau bicarakan sesuatu dengan Papa kamu sama Mama dulu ya",ujar Sean.
"Ya Mas...",jawab Anaya melerai pelukannya.
"Ma...titip Naya ya", ucap Sean diangguki oleh Nyonya Anita.
Sean melangkah pergi meninggalkan Anaya dan Mama untuk menemui Papanya.
"Anaya...sabar ya Nak", ucap Nyonya Anita mengusap kedua bahu sang menantu.
"Ya Ma...oh ya Arka gak rewel kan aku tinggal tadi?",tanya Anaya.
"Gak sayang...Arka anteng malah",jawab Nyonya Anita.
"Mama kamu sudah dipindahkan ke ICU?",tanya Nyonya Anita.
"Kayaknya mau dipindahkan Ma",jawab Anaya.
Sementara itu Sean Dan Papa Ferdian berada di rooftop rumah sakit.
"Sean serahkan saja pelakunya pada pihak kepolisian.Ini sudah kriminal bukan ranah kita lagi",ujar Papa Ferdian.
"Penjara terlalu mudah baginya Pa,andai saja tak ada Tante Indi mungkin Anayaku yang kini terbaring koma Pa",jawab Sean.
"Sean jika kita serahkan ke pihak kepolisian kita bisa siapa pelaku utama dan menuntut pelaku dengan hukuman yang berat",ujar Papa Ferdian.
"Aku bisa membuat pelaku mengatakan siapa pelakunya Pa",jawab Sean tersenyum iblis.
"Sean berhenti lah menjadi mafia cukup Kakek kamu yang terlibat dalam dunia hitam itu",ujar Papa Ferdian.
__ADS_1
"Pa...aku tidak bergabung dengan mafia manapun.Tapi darah mafia mengalir dalam tubuhku Pa",jawab Sean.
"Ya...Papa harap kamu pikirkan lagi ucapan Papa tadi.Tak selalu kejahatan dibalas dengan kejahatan Sean",ujar Papa Ferdian menepuk pelan pundak sang putra lalu melangkah meninggalkan Sean yang sedang berpikir.
Tring
Morgan is calling...
Sean:Ya Morgan
Morgan:Sean bagaimana ini bisa terjadi?kejadian di restoran itu kini menjadi tranding
Sean:Nanti akan aku ceritakan.Pergilah ke Markas disana pelaku disekap.Buat orang ituu mengakuinya!.
Morgan:Baiklah...
Klik
Sean kembali melangkah menuju lantai 2 dimana sang istri menunggunya.Pria berjalan tergesa-gesa karena ingin segera menemui Anaya.Karena wanitanya itu saat ia tinggal tadi tidak baik baik saja.
Sean melangkah menuju ruang ICU dimana sang istri berada.Tampak Anaya duduk dalam dekapan Mamanya.
"Sean mana Papa?",tanya Nyonya Anita.
"Bukankah Papa sudah turun dari tadi Ma,emangnya dia gak kesini?",tanya Sean.
"Gak ada Sean",jawab Nyonya Anita.
"Coba Mama telfon Papa dulu",ucap Sean di angguki oleh wanita paruh baya itu.
Sean duduk disebelah sang istri lalu menyatukan jari jemari tangannya dengan jari jemari Anaya.
"Tapi Mas..."
"Sayang disini ada dokter dan bodyguard kita yang jaga Mama.Dirumah Arka butuh kamu sayang butuh ASI kamu",ujar Sean membujuk sang istri.
"Ya Mas...",jawab Anaya menganggukkan kepalanya.
"Ma... bagaimana?",tanya Sean saat ia telah berdiri dari duduknya.
"Papa kamu udah balik duluan ternyata dia wa Mama tapi Mama gak tau",jawab Nyonya Anita.
"Kalian mau kemana?",tanya Nyonya Anita menatap anak menantunya.
"Pulang dulu Ma...Arka juga butuh Anaya",jawab Sean.
"Ya sudah biar disini Mama yang jaga",jawab Bunga Anita.
"Makasih ya Ma...",ujar Anaya.
"Ya sayang Indi juga teman sekaligus besan Mama",jawab Nyonya Anita.
Anaya dan Sean meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke Mansion.Sebenarnya Anaya masih ingin di ruang sakit melihat Mamanya sadar dari komanya.Tapi ia tak mau egois dirumah anaknya juga butuh dirinya saat ini.
"Mas... kira-kira siapa dalang dari semuanya?",tanya Anaya.
"Aku juga tidak tau sayang.Orang orang kita lagi menyelidiki semuanya",jawab Sean.
"Mas...aku berharap orangnya dihukum berat",ujar Anaya.
__ADS_1
"Tentu sayang",jawab Sean.
Tak lama mobil mereka sampai dimansion Anaya segera turun untuk menemui sang putra.Sena tersenyum melihat sang istri yang berlari kecil menuju lift.
"Sayang...tunggu aku juga mau ke kamar Arka",ujar Sean saat Anaya akan menutup pintu lift.
"Buruan Mas",ujar Anaya.
Sean segera memasuki lift dengan tersenyum tipis."Tadi gak mau pulang kini malah buru buru ingin bertemu Arka",goda Sean.
"Mas..."
"Hehehe...sayang setelah ini Mas ada keperluan ya",ujar Sean.
"Kemana Mas?",tanya Anaya.
"Bertemu Morgan sayang",jawab Sean.
"Baiklah...",jawab Anaya melangkah keluar lift menuju kamar Arka saat sampai dilantai 3.
"Sayang...",sapa Anaya saat memasuki kamar sang anak.
"Kak...Arka lagi tidur",bisik Seena.
Anaya menatap sang anak yang tertidur pulas.Wanita itu mencium pipi gembul Arka dengan lembut.
"Maafkan Mommy sayang harus mengabaikan kamu",lirih Anaya.
"Sayang aku pergi dulu,Arka Daddy pergi dulu ya",ujar Sean mengusap pucuk kepala sang anak membuat Arka terbangun seketika.
"Mas kamu membangunkannya",ucap Anaya.
"Maafkan Daddy sayang...",ujar Sean membuat Arka tersenyum tipis.
"Pergilah Mas!,Morgan pasti sudah menunggu",ujar Anaya.
"Ya sudah...aku pergi dulu", ucap Sean mengecup pipi gembul Arka lalu kemudian mengecup pucuk kepala sang istri.
"Ya Mas...hati hati ya",jawab Anaya.
"Ya sayang",balas Sean.
***
Sean melangkah dengan arogannya memasuki ruang bawah tanah mansionnya.Dari kejauhan terdengar suara rintihan dari seseorang yang sedang mereka sekap.
"Katakan...!",teriak Morgan melecuti orang itu dengan cambuk.
"Aku--
Sean duduk dengan angkuhnya menonton pertunjukan yang membuatnya tersenyum miring.
"Katakan brengsek...!"
"Aku akan memberikan ampunan padamu jika mau mengantakanya dan bersaksi",ucap Sean menatap tajam pria itu.
"Orangnya--
...****************...
__ADS_1