
"Ampuni aku,aku mohon", rengek pria tua yang kini tubuhnya terikat tali.
"Cih...mana keangkuhanmu selama ini Gunatama",decih Sean menatap nyalang Gunatama.
"Tolong...ampuni aku",lirih Gunatama yang sedang lemas dan tak berdaya.Seluruh tubuhnya dipenuhi bekas lecutan dari cambuk.
"Harusnya dari dulu aku melakukan ini padamu Gunatama",Sena mengarahkan sebuah pistol tepat di kepala pria itu.
"Tahan Sean jangan gegabah.Jangan kotori tangan kamu hanya karena iblis sepertinya",ujar Papa Ferdian.
"Benar sekali Sean kematian terlalu mudah baginya.Kita akan buat hidupnya bagai di neraka sehingga ia sendiri yang meminta K
kematiannya",timpal Kakek Alatas membenarkan ucapan sang anak.
Sean kembali menyimpan pistol itu dibalik jasnya dan tersenyum miring.Pandangannya beralih pada pelaku yang telah memberikan rumah panas pada mertuanya.Kemarahan Sean bukan karena mertuanya tertembak tapi karena target sebenarnya adalah istirinya.Ia tak akan tinggal diam jika ada yang mengusik istirnya.
"Kau... berikan kesaksianmu atas rencananya akan aku pastikan hukumanmu tidak berat saat dipersidangan nanti",ujar Sean.
"Ba-baik Tuan",jawab pria itu dengan suara bergetar.Ia yang telah menyaksikan bagaimana kejamnya Sean membuat nyalinya sebagai pembunuh bayaran menciut.
"Bagus...",ujar Sean tersenyum evil.
Tak lama beberapa aparat kepolisian mendatangi ruang bawah tanah itu.Bukan hal baru bagi komandan kepolisian itu jika menyangkut keluarga Alatas.Pria yang hampir setengah abad itu tau bagaimana keluarga Alatas jika menangkap para musuhnya.
"Selamat siang Pak Wahid...",sapa Papa Ferdian menyambut kedatangan pria berpangkat bintang tiga itu.
"Selamat siang juga Pak Ferdian",,?jawab Pak Wahid tersenyum begitu ramah.
"Mana tawanan nya Pak Ferdian?",tanya Pak Wahid tanpa basa basi.
"Mari saya antar",ujar Papa Ferdian membawa komandan kepolisian itu menuju sebuah ruangan dimana Gunatama disekap diikuti oleh beberapa orang bawahannya.
Kedatangan Wahid Ansari disambut dengan pemandangan yang begitu membuatnya iba.Bagaimana tidak seorang pria tua tengah disiksa oleh orang suruhan keluarga Alatas.
"Cukup...",ucap Sean pada orang orangnya.
"Pak Wahid... apa kabar?", tanya Kakek Alatas meyalami putra angkatnya itu.
"Sudah ku katakan jangan memanggilku dengan sebutan bapak lagi Daddy",jawab Pak Wahid menyambut uluran tangan pria yang dulu telah menyelamatkan hidupnya dari garis kemiskinan.
"Kau semakin sukses saja Wahid...aku bangga padamu",ujar Kakek menepuk pelan pundak Pak Wahid.
"Ini juga berkat pertolongan darimu Dad...",jawab Pak Wahid.
"Oh ya...apa boleh sekarang aku membawa pria tua ini?",tanya Pak Wahid pada ayah angkatnya itu.
"Silahkan...",jawab Kakek Alatas tersenyum penuh misteri.
Anak buah Pak Wahid langsung membawa kedua orang itu dan membawanya menuju mobil mereka.Semua tak luput dari pandangan Sean yang menatap tajam kedua orang itu.Sebenarnya ia belum puas menyiksa Gunatama tapi apa mau dikata kepolisian telah datang membawa tawanannya.
__ADS_1
"Lepaskan...!", rintih Gunatama saat beberapa orang polisi membawanya.
"Bersikap kooperatif lah Tuan",jawab salah satu polisi yang memegangi Gunatama yang telah di borgol.
"Aku menyerahkan semuanya padamu Wahid",ujar Kakek Alatas.
"Baiklah Dad...aku dan tim permisi dulu",jawab Pak Wahid.
"Ya...",jawab Kakek Alatas dan Papa Ferdian bersamaan.
Sedangkan Sean menatap kepergian orang orang biru dengan tatapan nyalang dan tajam.Pria itu segera pergi dari tempat yang sudah berbau anyir akan darah itu.Ia ingin membersihkan diri sebelum sang istri pulang dan mencurigaainya.Semua urusan ia serahkan pada Papanya.
Sesampainya di kamar pria itu langsung menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya.Ia sengaja berlama-lama dibawah shower agar rasa panas otak dan hatinya mereda.
Setelah dirasa cukup pria itu menyudahi ritual mandinya dan setelah keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian.Sean segera menuju kamar sang anak yang terhubung dengan kamarnya.Tampak seorang wanita paruh baya sedang mengajak bicara anaknya.Sean segala menghampiri orang itu dan ikut melihat sang anak yang tersenyum melihat kedatangannya.
"Tuan...",lirih wanita paruh baya itu tersenyum penuh hormat.
"Ia Buk...apakah Arka rewel selama ditinggal Mommy-nya?",tanya Sean mengelus kepala sang anak dengan lembut.
"Tuan muda Arka sangat anteng Tuan",jawab Bi Asih istri dari kepala pelayan di mansion Sean.
Sean tersenyum tipis lalu mencium sang anak yang begitu wangi."Anak Daddy wangi sekali,hum?",ujar Sean seakan Arka tau ucapannya.
"Saya permisi sebentar Tuan",ujar Bi Asih undur diri dari ruang itu membiarkan Sean berdua dengan anaknya.
"Iya Buk",jawab Sean sopan.
Sean meraih ponselnya Guan menghubungi sang istri yang masih berada dirumah sakit menjenguk Mamanya.
Anaya: Assalamualaikum Mas
Sean: Waalaikum salam sayang.Masih lama?
Anaya:Udah diperjalanan pulang Mas
Sean:Oh...
Anaya:Apakah Arka rewel Mas?
Sean:Gak...Daddy-nya yang rewel ditinggal Mommy-nya.
Anaya:Hahahaha...ya ya baiklah aku sebentar lagi sampai
Sean:Aku tunggu sayang...muuaah
Anaya:Ya Mas...
Sean : Kenapa gak balas sayang
__ADS_1
Anaya:Malu Mas...kamu ih.
Sean: Hahahaha ya baiklah aku mengerti
Anaya: Assalamualaikum Mas
Sean: Waalaikum salam
Klik
Sean tersenyum penuh arti setelah mamatikan sambungan teleponnya.Pria itu mengendong sang anak dan membawanya ke balkon kamar.Sean duduk disebuah ayunan sembari menggendong baby Arka yang begitu nyaman dalam gendongannya.
Arka menatap wajah sang putra begitu mirip dengannya.Bahkan tak ada satupun yang mirip dari sang istri pada wajah sang anak.
Tak lama terdengar suara Anaya memanggil namanya dari dalam kamar Arka.
"Aku dibalkon sayang...",ujar Sean setengah berteriak.
Tak lama muncul sang istri yang anggunnya berjalan kearahnya dan baby Arka.
"Assalamualaikum...Arkana",sapa Anaya.
"Waalaikum salam Mommy",jawab Sean menirukan suara bayi.
"Gimana keadaan Mama kamu sayang?",tanya Sean.
"Alhamdulillah sudah membaik Mas meski harus dirawat intensif beberapa hari ke depan",jawab Anaya.
"Maaf...tadi gak bisa ikut",sesal Sean.
"Gak apa apa Mas.Aku ngerti kamu sibuk",jawab Anaya.
"Aku mandi bentar ya Mas...",sambung Anaya mencium singkat bibir sang suami.
"Kamu...mulai nakal, hum?",ujar Sean yang gemas dengan kelakuan sang istri.
"Hahaha...",Anaya tertawa pelan sembari menjauh dari sang suami.
Anaya melangkah menuju kamar mandi dan langsung membasahi tubuhnya dibawah guyuran shower.Anaya terkejut saat sebuah tangan melingkar dipinggangnya.
"Kamu harus tanggung jawab telah memancing sesuatu yang sedang tidur sayang",bisik Sean menekan p*** sang istri dengan miliknya yang sudah ******** dibawah sana.
"Tapi Mas aku bel--
"Kamu bisa melakukan dengan cara yang lain sayang",ujar Sean dengan suara serak.
"Mas aku--
Sean langsung m****** bibir sang istri dengan begitu lembut.Sedangkan tangannya telah bergerak **** menjelajahi ***** sang istri.
__ADS_1
...****************...